Hamas Siap Lepas Gaza, tetapi Tegaskan Tetap Bagian Palestina
Sabtu, 27 September 2025 | 11:10 WIB
New York, Beritasatu.com - Hamas akhirnya menyatakan siap untuk melepas kekuasaan Gaza, sebuah pernyataan yang mengejutkan banyak pihak di tengah perang berkepanjangan dengan Israel. Meski begitu, kelompok ini menegaskan bahwa mereka tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari rakyat Palestina.
“Kami siap tidak memerintah Gaza, kami tidak keberatan,” ungkap pejabat senior Hamas, Ghazi Hamad, dalam wawancara bersama CNN pada Jumat (26/9/2025).
Ia menekankan bahwa eksistensi Hamas tidak mungkin dihapuskan dari struktur rakyat Palestina.
Sejak merebut kendali Gaza dari Otoritas Palestina (PA) yang dipimpin Fatah pada 14 Juni 2007, Hamas telah menjalankan pemerintahan hingga perang Gaza pecah pada Oktober 2023. Kini, pernyataan baru ini muncul di saat dunia internasional sedang mencari jalan keluar bagi masa depan wilayah tersebut.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump disebut telah menyodorkan rencana 21 poin kepada para pemimpin Arab dan Muslim di sela Sidang Umum PBB ke-80 di New York.
Menurut laporan Channel 12 Israel, rencana tersebut mencakup pembentukan pemerintahan Gaza tanpa Hamas, pembentukan pasukan keamanan gabungan Palestina-Arab-Muslim, serta pendanaan rekonstruksi yang ditopang negara-negara Arab dengan peran terbatas PA. Trump dikabarkan mendesak para pemimpin untuk mendukung rencana itu.
Sementara itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa tujuan perang adalah membebaskan seluruh sandera, menghancurkan kemampuan militer Hamas, serta memastikan Gaza tidak lagi menjadi ancaman. Dengan kata lain, Israel ingin menghapus peran Hamas sepenuhnya.
Dalam wawancara yang sama, Hamad juga menceritakan bagaimana dirinya selamat dari serangan udara Israel di Qatar, yang ia sebut sebagai “keajaiban". Israel diduga menargetkan tokoh-tokoh yang terlibat dalam proses negosiasi.
Pada 9 September 2025, serangan Israel menghantam kepemimpinan Hamas di Doha. Delegasi pimpinan Khalil al-Hayya disebut selamat, tetapi sejumlah tokoh termasuk Jihad Lebed serta putra al-Hayya bernama Hammam tewas.
Menanggapi proposal Amerika Serikat yang meminta Hamas membebaskan seluruh sandera sebagai imbalan pembebasan ribuan tahanan Palestina dan gencatan senjata segera, Hamad menyebut pihaknya sebenarnya siap membuat kesepakatan menyeluruh dalam waktu 24 jam. Namun, menurutnya, Israel menolak tawaran tersebut.
Ia juga membantah tuduhan bahwa Hamas menjadikan sandera sebagai tameng manusia. Sayap militer Hamas, Brigade Qassam, bahkan memperingatkan bahwa operasi darat Israel justru meningkatkan risiko bagi para sandera.
Data otoritas Israel menyebutkan masih ada 48 sandera di Gaza, dengan sekitar 20 di antaranya diyakini hidup.
Di sisi lain, lebih dari 11.100 warga Palestina saat ini ditahan di penjara Israel. Laporan kelompok HAM mengungkapkan adanya praktik penyiksaan, kelaparan, hingga kelalaian medis terhadap para tahanan.
Sejak pecahnya perang Gaza pada Oktober 2023, korban jiwa di pihak Palestina telah melampaui 65.500 orang, sebagian besar di antaranya adalah perempuan dan anak-anak. Angka ini menambah gelombang kecaman dunia internasional atas aksi militer Israel yang disebut sebagai genosida.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Politik-Hukum Terkini: Polemik Film hingga Judi Online




