Mengenal Drone Shahed yang Jadi Senjata Iran Serang Dubai
Kamis, 5 Maret 2026 | 03:15 WIB
Jakarta, Beritasatu.com – Drone Shahed milik Iran memainkan peran besar dalam konflik melawan Amerika Serikat dan Israel. Sistem senjata murah ini semakin menjadi bagian penting dari strategi militer Teheran.
Iran meluncurkan ratusan rudal dan drone ke berbagai wilayah Timur Tengah setelah serangan Amerika Serikat dan Israel pada Sabtu (28/2/2026). Serangan tersebut menunjukkan betapa sentralnya penggunaan drone dalam operasi militer Iran.
Sebagian drone bahkan terbang hingga pangkalan militer Angkatan Udara Kerajaan Inggris di RAF Akrotiri, Siprus, dan dilaporkan menghantam landasan pacu.
Lantas drone apakah yang digunakan oleh Iran? Drone Shahed sebelumnya sudah banyak digunakan oleh Rusia dalam perang di Ukraina. Kini, sistem tersebut kembali menjadi sorotan seiring meningkatnya ketegangan di Timur Tengah.
Menariknya, Amerika Serikat juga mulai menggunakan drone serangan murah sekali pakai yang desainnya terinspirasi dari teknologi Iran.
Drone Shahed, yang berarti “saksi” dalam bahasa Persia, merupakan kendaraan udara nirawak berbiaya rendah yang dikembangkan Iran. Drone ini dirancang sebagai senjata serangan satu arah.
Sering disebut sebagai drone kamikaze atau drone bunuh diri, sistem ini pada dasarnya berfungsi seperti rudal berpemandu yang menuju target tertentu dan meledak saat mengenai sasaran.
Keunggulan utamanya adalah jumlah produksi. Dengan diproduksi dalam jumlah besar, kawanan drone Shahed dapat membanjiri pertahanan udara lawan dari berbagai arah secara bersamaan.
Jika rudal balistik dan rudal jelajah memiliki kecepatan jauh lebih tinggi serta daya hancur lebih besar, biaya produksinya bisa mencapai jutaan dolar per unit dan jumlahnya relatif terbatas.
Sebaliknya, satu drone Shahed diperkirakan hanya berharga sekitar US$ 20.000 hingga US$ 50.000, jauh lebih murah dibandingkan rudal balistik.
Drone ini memiliki jangkauan terbang setidaknya 2.000 kilometer dan mampu melaju dengan kecepatan sekitar 180 kilometer per jam. Di Ukraina, drone tersebut bahkan dijuluki moped karena suara dengung khas yang dihasilkannya.
Penggunaan drone Shahed kembali menjadi perhatian setelah Iran dilaporkan melancarkan serangan ke sejumlah fasilitas energi dan logistik di kawasan Teluk, termasuk wilayah Uni Emirat Arab.
Beberapa drone yang diluncurkan Iran dilaporkan menuju kawasan Fujairah dan wilayah sekitar Dubai yang menjadi pusat perdagangan energi dan pelayaran internasional. Otoritas setempat menyatakan sebagian besar drone berhasil dicegat oleh sistem pertahanan udara sebelum mencapai target utama.
Meski demikian, puing drone yang jatuh sempat memicu kebakaran di salah satu area penyimpanan minyak di pesisir timur Uni Emirat Arab. Api berhasil dipadamkan dengan cepat dan tidak menimbulkan korban jiwa, tetapi insiden tersebut meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap keamanan infrastruktur energi di kawasan Teluk.
Serangan tersebut juga menegaskan kemampuan jangkauan drone Shahed yang mampu terbang jarak jauh melintasi wilayah Teluk Persia. Jalur penerbangan drone yang relatif rendah dan kecepatan yang tidak terlalu tinggi justru membuatnya sulit terdeteksi radar tertentu, terutama jika diluncurkan dalam jumlah besar secara bersamaan.
Para analis menilai strategi tersebut bertujuan menekan sistem pertahanan udara lawan melalui serangan berlapis. Dengan biaya produksi yang murah, Iran dapat meluncurkan puluhan hingga ratusan drone sekaligus untuk meningkatkan peluang menembus pertahanan.
Amerika Serikat Mulai Meniru
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Festival Mudik Dongkrak Wisatawan ke Wonosobo
Pidato Trump Picu Lonjakan Minyak Dunia
3
B-FILES
Harga yang Tak Terlihat, Masa Depan yang Terancam
Rio Abdurachman P
Hari Fitri Benahi Diri: Ujian Integritas di Tengah Bayang Korupsi
Muhammad Ishar Helmi
Prabowo Beri Pelukan Hangat untuk Keluarga TNI yang Gugur di Lebanon




