Beda Pendapat, AS Terkejut Israel Serang Depot Bahan Bakar Utama Iran
Senin, 9 Maret 2026 | 15:39 WIB
Jakarta, Beritasatu.com – Serangan udara Israel terhadap sekitar 30 depot bahan bakar di Iran pada Sabtu (7/3/2026) memicu ketegangan baru dengan Amerika Serikat. Serangan tersebut dinilai melampaui ekspektasi Washington meski Israel telah memberi pemberitahuan sebelumnya.
Menurut pejabat AS, pejabat Israel, serta sumber yang mengetahui masalah tersebut, ini menjadi perbedaan sikap paling signifikan antara kedua sekutu sejak konflik terbaru dimulai delapan hari lalu.
AS khawatir serangan terhadap infrastruktur yang juga melayani masyarakat sipil Iran dapat menimbulkan dampak strategis yang berbalik arah. Serangan itu berpotensi memicu solidaritas masyarakat Iran terhadap pemerintah serta mendorong kenaikan harga minyak global.
Serangan yang dilakukan angkatan udara Israel memicu kebakaran besar di ibu kota Teheran. Api terlihat dari jarak jauh dan asap tebal menyelimuti sebagian wilayah kota.
Dalam pernyataan resmi, Israel Defense Forces (IDF) menyebut depot bahan bakar tersebut digunakan oleh pemerintah Iran untuk memasok kebutuhan energi berbagai pihak, termasuk militer.
“Depot bahan bakar tersebut digunakan oleh rezim Iran untuk memasok bahan bakar kepada berbagai konsumen, termasuk organ militer mereka,” demikian pernyataan IDF, seperti dilansir dari Axios, Senin (9/3/2026).
Seorang pejabat militer Israel mengatakan serangan itu juga dimaksudkan sebagai pesan kepada Iran agar menghentikan serangan terhadap infrastruktur sipil Israel.
Pejabat Israel dan AS menyatakan militer Israel sebelumnya telah memberi tahu militer AS mengenai rencana serangan tersebut. Namun, seorang pejabat AS mengatakan pihaknya terkejut dengan skala operasi yang dilakukan.
“Kami tidak berpikir itu ide yang baik,” kata seorang pejabat senior AS.
Seorang pejabat Israel bahkan mengungkapkan bahwa pesan yang disampaikan pihak AS kepada Israel adalah “Apa yang sebenarnya kalian lakukan?”.
Baik Gedung Putih maupun militer Israel tidak memberikan komentar resmi terkait laporan tersebut.
Meski fasilitas yang diserang bukan merupakan instalasi produksi minyak, pejabat AS tetap khawatir rekaman kebakaran depot bahan bakar tersebut dapat memicu kepanikan di pasar energi dan mendorong harga minyak semakin tinggi. Seorang penasihat Donald Trump mengatakan presiden tidak menyukai serangan tersebut.
“Presiden tidak menyukai serangan itu. Dia ingin menyelamatkan minyaknya. Dia tidak ingin membakarnya. Dan itu mengingatkan orang pada harga bensin yang lebih tinggi,” kata penasihat tersebut, dikutip dari Axios.
Sementara itu, juru bicara markas Khatam Al-Anbiya yang mengawasi operasi militer Iran memperingatkan bahwa jika serangan terhadap infrastruktur energi Iran terus berlanjut, Teheran bisa membalas dengan menyerang fasilitas serupa di kawasan.
Ia menegaskan sejauh ini Iran belum menargetkan infrastruktur energi di wilayah lain, namun jika hal itu terjadi, harga minyak dunia bisa melonjak hingga US$ 200 per barel.
Ketua parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf juga mengingatkan bahwa jika serangan terhadap infrastruktur Iran terus terjadi, negaranya akan melakukan pembalasan dengan cepat.
“Jika serangan terhadap infrastruktur terus berlanjut, Iran akan membalas tanpa penundaan,” kata Ghalibaf.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
PSEL di Makassar Dipercepat untuk Atasi Praktik Open Dumping
3
B-FILES
Harga yang Tak Terlihat, Masa Depan yang Terancam
Rio Abdurachman P
Hari Fitri Benahi Diri: Ujian Integritas di Tengah Bayang Korupsi
Muhammad Ishar Helmi
Situasi Lebanon Memanas, KSAD Maruli: Prajurit TNI Sudah Paham SOP!




