Donald Trump: Perang Iran Bisa Berakhir Cepat
Selasa, 10 Maret 2026 | 09:18 WIB
Dubai, Beritasatu.com - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan perang melawan Iran kemungkinan tidak berlangsung lama. Namun, ia memperingatkan bahwa konflik dapat meningkat drastis jika Iran mengganggu aliran minyak dunia, terutama di Selat Hormuz.
Pernyataan tersebut disampaikan Trump pada Senin (9/3/2026). Ia menegaskan operasi militer di Timur Tengah bisa bersifat sementara, tetapi tetap membuka kemungkinan respons lebih keras jika kepentingan energi global terganggu.
Harga minyak sempat melonjak ke level tertinggi sejak 2022 setelah Iran menunjuk Ayatollah Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi baru menggantikan ayahnya. Investor menilai langkah tersebut sebagai sinyal bahwa Iran akan bersikap lebih keras di tengah perang yang telah berlangsung sekitar 10 hari sejak dimulai oleh Amerika Serikat dan Israel.
Meski sempat melonjak, harga minyak kemudian turun kembali dan pasar saham Amerika Serikat menguat karena muncul harapan bahwa konflik tidak akan berlangsung lama.
“Kami melakukan sedikit kunjungan ke Timur Tengah untuk menyingkirkan beberapa kejahatan. Saya pikir ini hanya akan menjadi kunjungan jangka pendek,” ujar Trump kepada anggota parlemen Partai Republik di klub golf miliknya dekat Miami.
Namun beberapa jam kemudian, Trump mengeluarkan peringatan keras melalui media sosial. Ia menegaskan Amerika Serikat akan merespons dengan kekuatan jauh lebih besar jika Iran menghentikan aliran minyak di Selat Hormuz.
“Jika Iran melakukan sesuatu yang menghentikan aliran minyak di Selat Hormuz, mereka akan dihantam oleh Amerika Serikat 20 kali lebih keras daripada yang telah mereka alami sejauh ini,” tulis Trump.
Menanggapi pernyataan tersebut, juru bicara Garda Revolusi Iran, Ali Mohammad Naini, mengatakan, Iran yang akan menentukan kapan konflik berakhir.
“Iran akan menentukan kapan perang berakhir,” katanya seperti dikutip media pemerintah Iran.
Konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran telah mengganggu pasokan minyak serta gas global. Situasi ini juga memicu kenaikan harga bahan bakar di Amerika Serikat serta mendorong banyak warga asing meninggalkan pusat bisnis di kawasan konflik.
Serangan udara juga terus mengguncang Iran. Puluhan ledakan dilaporkan terdengar di Teheran dalam salah satu serangan terbesar sejak perang dimulai pada 28 Februari.
Militer Israel menyatakan telah melancarkan gelombang serangan besar terhadap sejumlah target di Iran, termasuk di Teheran dan kota Isfahan. Puluhan fasilitas infrastruktur dilaporkan menjadi sasaran, termasuk markas drone Garda Revolusi.
Pada sisi lain, Iran dan sekutunya juga melancarkan serangan balasan. Hizbullah yang didukung Iran menembakkan roket dari Lebanon ke wilayah Israel, sementara militer Israel memperingatkan masyarakat mengenai serangan rudal yang datang dari Iran.
Trump mengatakan, AS hampir mencapai tujuannya untuk menghancurkan persediaan rudal balistik Iran serta kemampuan negara tersebut dalam memproduksi dan meluncurkannya.
Ia juga sempat menyinggung kemungkinan “membangun negara baru,” yang memunculkan spekulasi mengenai potensi perubahan besar dalam struktur politik Iran.
Sementara itu, ribuan warga Iran dilaporkan berkumpul di sejumlah lokasi di Teheran untuk menunjukkan dukungan kepada pemimpin tertinggi yang baru, Mojtaba Khamenei. Mereka mengibarkan bendera dan meneriakkan slogan anti-Amerika serta anti-Israel.
Khamenei yang berusia 56 tahun dikenal sebagai tokoh garis keras dan memiliki hubungan erat dengan Garda Revolusi Iran. Sebagai pemimpin tertinggi, ia memiliki kewenangan penuh dalam menentukan kebijakan strategis negara, termasuk program nuklir Iran yang kontroversial.
Meski sejumlah fasilitas nuklir utama Iran telah rusak akibat serangan AS, negara tersebut masih memiliki cadangan uranium yang sangat diperkaya yang secara teknis mendekati tingkat yang dapat digunakan untuk senjata nuklir.
Trump juga mengatakan perang ini bermula karena Iran diduga sedang mengembangkan lokasi baru untuk memproduksi material senjata nuklir setelah fasilitas sebelumnya dihancurkan dalam serangan AS tahun lalu.
Israel telah menyebut Khamenei sebagai target potensial. Namun Trump mengatakan tidak pantas baginya untuk menyatakan secara terbuka apakah pemimpin baru Iran itu akan menjadi sasaran serangan.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
PSEL di Makassar Dipercepat untuk Atasi Praktik Open Dumping
3
B-FILES
Harga yang Tak Terlihat, Masa Depan yang Terancam
Rio Abdurachman P
Hari Fitri Benahi Diri: Ujian Integritas di Tengah Bayang Korupsi
Muhammad Ishar Helmi
Situasi Lebanon Memanas, KSAD Maruli: Prajurit TNI Sudah Paham SOP!




