Beda Visi Soal Perang Iran, Koalisi Trump-Netanyahu Retak?
Sabtu, 14 Maret 2026 | 21:15 WIB
Washington, Beritasatu.com – Meskipun menunjukkan koordinasi militer yang erat dalam dua minggu terakhir, keretakan mulai muncul antara Amerika Serikat dan Israel mengenai arah masa depan konflik dengan Iran. Presiden Donald Trump memberikan sinyal kuat untuk segera mengakhiri permusuhan, sebuah sikap yang bertolak belakang dengan ambisi jangka panjang Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.
Presiden Trump mengeklaim bahwa sebagian besar tujuan militer AS telah tercapai jauh lebih cepat dari rencana. Menteri Luar Negeri Marco Rubio menegaskan fokus Washington terbatas pada pelumpuhan program nuklir dan rudal Iran. Namun, di sisi lain, PM Netanyahu secara terbuka menyatakan bahwa "tujuan utama" Israel adalah penggantian rezim di Teheran.
"Trump mungkin sedang mempelajari pelajaran tertua: Memulai perang itu mudah, mengakhirinya itu sulit," ujar Ali Vaez, Direktur Proyek Iran di International Crisis Group.
Ia memperingatkan risiko penarikan mundur tanpa solusi diplomatik permanen.
Perbedaan pendekatan ini mencapai puncaknya pada Senin (9/3/2026), ketika pemerintah AS menyatakan "tidak senang" atas serangan Israel ke fasilitas energi Iran tanpa persetujuan Washington. Gedung Putih khawatir serangan tersebut akan semakin memicu kemarahan Iran dan memperparah krisis global.
Menteri Pertahanan Pete Hegseth mengakui adanya kemandirian operasional Israel. "Di mana terdapat perbedaan tujuan, mereka (Israel) bertindak secara independen," tuturnya dalam konferensi pers baru-baru ini.
Faktor utama yang menekan Trump adalah ekonomi domestik. Blokade Iran di Selat Hormuz telah melambungkan harga minyak dunia hingga melampaui US$ 100 per barel. Sebagai jalur yang mengalirkan 20% minyak global, stabilitas selat ini krusial bagi visi "America First" milik Trump.
"Jika perlu, Angkatan Laut AS dapat mengawal kapal tanker," ancam Trump melalui platform Truth Social. Meski demikian, langkah ini berisiko menyeret Washington ke dalam perang berkepanjangan yang sangat dihindari oleh para pemilih populis pendukung Trump.
Di dalam negeri, posisi kedua pemimpin sangat berbeda:
- Israel: Sebanyak 82% warga mendukung perang, memperkuat posisi politik Netanyahu menjelang pemilu.
- Serikat: Dukungan publik terus tergerus. Kelompok pendukung MAGA mendesak Trump fokus pada urusan domestik dan menghentikan "perang tanpa akhir" di Timur Tengah.
Israel kini berjuang seolah-olah setiap hari adalah hari terakhir, menyadari bahwa Trump bisa menghentikan dukungan udara kapan saja. Pekan depan, Utusan AS Steve Witkoff dijadwalkan terbang ke Israel guna membahas sinkronisasi operasi yang semakin hari semakin menjauh dari kesepakatan awal.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
3 Prajurit Gugur, TNI AD Berduka!
Liburan Sambil Belajar Sains Lewat Museum Iptek TMII
Perbaiki Tanggul Irigasi Makam, Warga Palopo Temukan Granat Nanas
3
B-FILES
Harga yang Tak Terlihat, Masa Depan yang Terancam
Rio Abdurachman P
Hari Fitri Benahi Diri: Ujian Integritas di Tengah Bayang Korupsi
Muhammad Ishar Helmi
TNI Menunggu Hasil Investigasi Terkait Gugurnya 3 Prajurit di Lebanon




