Mengapa Selat Hormuz Mudah Ditutup tetapi Sulit Dibuka?
Sabtu, 28 Maret 2026 | 19:19 WIB
Washington, Beritasatu.com – Upaya Amerika Serikat untuk membuka kembali Selat Hormuz pascablokade Iran menemui jalan buntu. Meskipun Presiden Donald Trump berjanji akan memulihkan jalur pelayaran vital tersebut "dengan cara apa pun", tantangan geografis dan taktik perang asimetris Teheran terbukti menjadi rintangan yang sangat berat.
Ratusan kapal tanker kini terdampar di kedua ujung selat, memicu lonjakan harga bahan bakar global. Iran melakukan pemblokiran ini sebagai aksi balasan atas serangan gabungan AS-Israel yang meletus sejak akhir Februari 2026 lalu.
Menurut para ahli, Selat Hormuz adalah salah satu "titik jepit" geografis paling menantang di dunia. Dengan lebar hanya 34 kilometer di titik tersempit, kapal tanker terpaksa melambat di jalur sempit yang diapit pegunungan terjal Iran dan Oman.
"Iran telah menghitung dengan cermat bagaimana memanfaatkan medan tersebut," ujar Caitlin Talmadge, profesor keamanan Teluk dari Massachusetts Institute of Technology (MIT).
Teheran memanfaatkan tebing dan terowongan pantai untuk menyembunyikan baterai rudal mobile yang sulit dideteksi serangan udara.
Selain rudal, ancaman paling mematikan bagi Angkatan Laut AS adalah ranjau laut dan perahu cepat bermuatan peledak. Mantan perwira Angkatan Laut, Jennifer Parker, memperingatkan bahwa awak kapal perang mungkin hanya memiliki waktu hitungan menit untuk menangkal serangan drone atau rudal di area sempit tersebut.
Upaya pengawalan (escort) kapal tanker juga terkendala keterbatasan armada. AS membutuhkan kapal penyapu ranjau dalam jumlah besar, namun Washington justru telah menonaktifkan banyak kapal kelas Avenger miliknya pada awal tahun ini.
Mark Cancian, penasihat senior dari CSIS, menyebut operasi pembukaan selat secara paksa akan sangat mahal dan berisiko tinggi. "Setiap bagian dari kapal perusak sangat rentan terhadap serangan dalam pertempuran jarak dekat di selat ini," tambahnya.
Hingga saat ini, 17 kapal kargo tercatat telah menjadi sasaran serangan sejak konflik pecah. Meskipun AS-Israel telah melancarkan ribuan serangan udara ke wilayah Iran, kemampuan Teheran untuk mengganggu lalu lintas laut tetap tidak padam.
Para ahli maritim berpendapat bahwa solusi militer saja tidak cukup untuk memulihkan kepercayaan pasar asuransi dan pemilik kapal. Selama ancaman asimetris dari Iran masih ada, jalur pasokan minyak dunia ini diprediksi akan tetap lumpuh tanpa adanya solusi diplomatik.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
B-FILES
Harga yang Tak Terlihat, Masa Depan yang Terancam
Rio Abdurachman P
Hari Fitri Benahi Diri: Ujian Integritas di Tengah Bayang Korupsi
Muhammad Ishar Helmi
Trump Sesumbar AS Mudah Buka Selat Hormuz dan Ambil Minyak Iran




