Kemkes Malaysia Masih Uji Coba Ivermectin, Dokter: Ini Sudah Krisis
Kamis, 15 Juli 2021 | 12:58 WIB
Kuala Lumpur, Beritasatu.com - Obat ivermectin, yang selama ini digunakan untuk pengobatan parasit, menjadi sorotan setelah seruan untuk memasukkannya sebagai bagian dari daftar perawatan Malaysia untuk Covid-19.
Fokus pada obat itu muncul setelah laporan berita pada April 2020, mengutip bagaimana para peneliti di Universitas Monash Australia telah bereksperimen dengan obat tersebut dan menemukan, satu dosis dapat menghentikan virus Covid-19 tumbuh dalam kultur sel dalam waktu 48 jam.
Kementerian Kesehatan Malaysia mengumumkan pada 5 Juni lalu, bahwa uji coba ivermectin telah dimulai. Uji coba ini akan dilakukan oleh kementerian dan Institute for Clinical Research (ICR) di 12 rumah sakit kementerian.
Uji coba ini disetujui oleh Komite Penelitian dan Etika Medis kementerian pada 25 Mei dan pasien pertama didaftarkan pada akhir Mei. Kementerian mengharapkan hasil uji coba akan selesai pada bulan September.
Sementara itu, seruan agar ivermectin disetujui untuk penggunaan Covid-19 terus meningkat.
Koalisi kelompok medis dan konsumen, yang menyebut sebagai Aliansi Malaysia untuk Pengendalian Covid Efektif (MAECC) juga telah mengeluarkan pernyataan yang mendesak pemerintah untuk memasukkan ivermectin dalam daftar obat yang digunakan untuk mengobati virus corona.
Dalam konferensi pers online pada 21 Juni, koalisi menyerukan pemerintah untuk mempercepat penggunaan ivermectin, menyoroti bahwa obat tersebut telah digunakan selama empat dekade terakhir, dengan lebih dari 3,7 miliar dosis yang diresepkan.
Perhatian terhadap ivermectin tidak hanya terjadi di Malaysia. Di Indonesia, apotek dilaporkan kehabisan obat, menyusul postingan viral di media sosial yang menggembar-gemborkan potensinya sebagai pengobatan virus corona.
Dalam wawancara dengan Bernama baru-baru ini, Dirjen Kemkes Malaysia Noor Hisham menjelaskan, pihaknya sedang mempelajari keefektifan obat dan efek sampingnya untuk pasien Covid-19 dalam Kategori Tiga (mereka yang menderita infeksi paru-paru) hingga Kategori Lima (kritis dengan komplikasi banyak organ).
Pada 11 Juli, kementerian memposting di halaman Facebook mereka dengan menuliskan, ivermectin hanya diizinkan untuk digunakan secara off-label, dengan pengawasan ketat oleh dokter bersertifikat.
"Hingga saat ini, hasil studi klinis belum cukup untuk membuktikan bahwa ivermectin dapat mengobati atau mencegah Covid-19, hanya vaksin yang terbukti dapat mencegah Covid-19," kata kementerian.
Kementerian juga mencatat beberapa efek samping dari penggunaan obat, termasuk ruam kulit yang mungkin memerlukan rawat inap, mual, muntah, gangguan perut dan diare, pembengkakan, tekanan darah rendah mendadak dan kerusakan hati, serta kejang dan disorientasi.
Sementara itu, para pendukung ivermectin mengatakan, proses uji coba harus dipercepat.
Dr Vijaendreh Subramaniam, yang merupakan presiden dari Asosiasi Kemajuan Kedokteran Fungsional & Interdisipliner Malaysia (MAAFIM) mengatakan, menunggu penyelesaian uji coba pada bulan September mungkin sudah terlambat mengingat urgensi krisis. MAAFIM adalah badan yang berpartisipasi dalam kelompok MAECC.
Ketika diwawancarai oleh CNA, Dr Vijaendreh mencatat bahwa krisis Covid-19 Malaysia semakin memburuk dari hari ke hari.
"Saya pikir ini adalah situasi yang perlu ditangani segera," kata Dr VIjaendreh seraya menambahkan, ivermectin sudah digunakan di beberapa negara untuk mengobati pandemi.
"Republik Cheska dan Slovakia telah melihat respons yang sangat baik (penggunaan ivermectin), sementara India, pada puncak krisis besar-besarannya, juga menggunakan obat untuk mengatasi penyakit itu juga," katanya.
Dr Vijaendreh berpendapat, Malaysia saat ini berada pada tahap krisis Covid-19 yang sama dengan India dua bulan lalu.
"Tapi kita harus sangat jelas, ivermectin bukanlah peluru ajaib. Bukan berarti jika kita menggunakan ivermectin, semua masalah Covid-19 kita hilang," kata Dr Vijaendreh.
"Obat itu muncul sebagai pilihan yang penting dan berguna untuk dimasukkan dalam gudang pengobatan kami, terutama pada tahap awal dan sebagai profilaksis (untuk mencegah penyakit)," jelas Dr Vijaendreh.
"Kami mengadakan pertemuan dengan kementerian beberapa hari yang lalu tentang masalah ini, dan kami akan terus melibatkan mereka, tetapi masalahnya ada di tangan kementerian".
"Tetapi kami akan membagikan informasi dan data saat muncul, dan mudah-mudahan mereka akan dibujuk untuk menggunakan pendekatan ini untuk mencoba dan mengatasi pandemi sesegera mungkin," kata Dr Vijae
Malaysia melaporkan 11.618 kasus Covid-19 baru pada Rabu (14/7/2021).
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Politik-Hukum Terkini: Polemik Film hingga Judi Online
PM China Li Qiang Temui Sederet CEO AS, Siapa Saja?
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Politik-Hukum Terkini: Polemik Film hingga Judi Online




