ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Masjid Al Khotib Kediri Berdiri sejak 1936 dan Kini Cagar Budaya

Rabu, 11 Maret 2026 | 03:19 WIB
MM
AD
Penulis: Moh. Muajijin | Editor: AD
Masjid Al Khotib di Kediri.
Masjid Al Khotib di Kediri. (Beritasatu.com/Moh Muajijin)

Kediri, Beritasatu.com - Masjid Al Khotib yang berada di Desa Adan-adan, Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, menjadi salah satu masjid bersejarah yang masih berdiri kokoh sejak era kolonial Belanda. Bangunan ibadah ini bahkan telah masuk sebagai Objek Diduga Cagar Budaya (ODCB).

Status tersebut diperkuat melalui surat dari Pemerintah Kabupaten Kediri serta Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XI Trowulan Mojokerto.

Masjid Al Khotib memiliki ciri arsitektur unik yang memadukan nuansa tradisional Jawa dengan sentuhan arsitektur kolonial Belanda. Di sisi kanan bangunan berdiri menara berbentuk segi enam yang melambangkan rukun iman.

ADVERTISEMENT

Menara tersebut tampak kokoh dengan tinggi sekitar 11 meter dan menjadi salah satu bagian paling mencolok dari kompleks masjid.

Bangunan utama masjid juga mempertahankan bentuk asli bergaya limasan, seperti pendopo, dengan empat tiang utama yang berfungsi sebagai penyangga struktur bangunan. Di bagian tengah tiang utama terdapat ukiran kayu yang masih terjaga keasliannya hingga sekarang.

Keunikan lain terlihat pada bagian atas pintu masuk masjid, di mana terdapat prasasti berbahasa Belanda yang berisi keterangan perizinan pembangunan masjid pada masa kolonial.

Pada prasasti tersebut tercantum angka 22936, yang merujuk pada tanggal 22 September 1936, sebagai waktu diterbitkannya izin pembangunan masjid.

Takmir Masjid Al Khotib H Masduki mengatakan masjid tersebut dibangun pada masa penjajahan Belanda oleh Mbah Kiai Khotib, yang merupakan keturunan salah satu prajurit Pangeran Diponegoro.

Menurutnya, pembangunan masjid dilakukan untuk menyebarkan ajaran Islam di wilayah Kediri bagian timur.

“Masjid ini dibangun oleh kakek saya Kiai Khotib pada tahun 1936. Kiai Khotib disuruh ayahnya untuk mengembangkan agama islam di Kediri bagian timur. Masjid Al Khotib masih asli dan belum pernah direhab, sedangkan teras adalah bangunan hasil renovasi warga setempat pada 1986,” kata H Masduki kepada Beritasatu.com. Selasa (10/3/2026).

Menara yang berada di sisi masjid juga dibangun bersamaan dengan pembangunan masjid pada tahun 1936. Pada masa itu, menara digunakan oleh muazin untuk mengumandangkan azan karena belum tersedia pengeras suara.

Hingga kini, Masjid Al Khotib masih aktif digunakan oleh masyarakat sekitar sebagai tempat ibadah. Selama bulan Ramadan, masjid tidak hanya digunakan untuk salat lima waktu berjamaah, tetapi juga untuk berbagai kegiatan keagamaan.

Kegiatan tersebut antara lain pengajian kuliah subuh serta kegiatan belajar mengaji bagi anak-anak di lingkungan sekitar. Keberadaan Masjid Al Khotib tidak hanya menjadi pusat kegiatan keagamaan, tetapi juga menjadi saksi sejarah perkembangan Islam di wilayah Kediri sejak masa kolonial Belanda.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT