Mengenal Kanker Ginjal yang Diidap Vidi Aldiano
Sabtu, 7 Maret 2026 | 18:34 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Kabar duka datang dari dunia musik Indonesia. Penyanyi Vidi Aldiano dikabarkan meninggal dunia setelah menjalani perjuangan panjang melawan kanker selama sekitar 7 tahun.
Pelantun lagu Status Palsu itu selama ini dikenal terbuka kepada publik mengenai kondisi kesehatannya. Melalui berbagai unggahan di media sosial, Vidi kerap membagikan perjalanan pengobatan yang dijalaninya, termasuk rutinitas terapi yang ia sebut sebagai spa day.
Secara medis, Vidi diketahui mengidap clear cell renal cell carcinoma (ccRCC), jenis kanker ginjal yang paling umum pada orang dewasa.
Jenis kanker ini mencakup sekitar 70% hingga 80% dari seluruh kasus kanker ginjal. Istilah clear cell merujuk pada tampilan sel kanker di bawah mikroskop yang terlihat bening karena mengandung lemak dan gula.
Meski tergolong umum, kanker jenis ini dikenal cukup agresif karena dapat menyebar melalui aliran darah ke organ lain seperti paru-paru, tulang, dan hati.
Perjalanan medis Vidi Aldiano bermula pada Desember 2019 ketika ia menjalani operasi pengangkatan ginjal kiri atau nefrektomi di Singapura setelah didiagnosis kanker ginjal stadium tiga. Sejak operasi tersebut, Vidi hidup dengan satu ginjal yang tersisa.
Namun pada September 2023, Vidi mengungkapkan kondisi penyakitnya telah berkembang. Sel kanker diketahui telah menyebar ke beberapa bagian tubuh sejak 2022 sehingga masuk dalam kategori metastasis.
Dalam proses pengobatan, Vidi kerap menyebut jadwal terapinya sebagai spa day. Istilah tersebut merujuk pada sesi terapi target dan imunoterapi yang ia jalani secara rutin setiap tiga minggu.
Imunoterapi merupakan metode pengobatan yang bertujuan merangsang sistem kekebalan tubuh agar mampu mengenali dan menghancurkan sel kanker. Sementara terapi target bekerja dengan menghambat jalur pertumbuhan sel kanker atau memutus suplai nutrisi ke tumor tanpa merusak sel sehat secara luas seperti kemoterapi konvensional.
Secara statistik medis, kanker ginjal stadium tiga memiliki tingkat kelangsungan hidup lima tahun sekitar 60% hingga 70%. Jika penyakit telah memasuki stadium empat atau metastasis, angka tersebut rata-rata turun menjadi sekitar 15% hingga 20%.
Meski demikian, para ahli menegaskan angka statistik tersebut hanya menggambarkan rata-rata populasi. Kondisi fisik pasien, akses terhadap teknologi medis, serta manajemen kesehatan secara menyeluruh dapat memengaruhi peluang kesembuhan.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
PSEL di Makassar Dipercepat untuk Atasi Praktik Open Dumping
Iran: Radiasi Nuklir Bisa Hancurkan Negara Teluk
3
B-FILES
Harga yang Tak Terlihat, Masa Depan yang Terancam
Rio Abdurachman P
Hari Fitri Benahi Diri: Ujian Integritas di Tengah Bayang Korupsi
Muhammad Ishar Helmi
Ratusan Rumah di Bukit Pamulang Indah Masih Terendam Banjir 1 Meter




