ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Rekoleksi Dewan Karya Pastoral KAS, Pembedaan Roh Harus Dilakukan

Rabu, 13 September 2017 | 18:35 WIB
LK
B
Penulis: L Gora Kunjana | Editor: B1
Mgr Robertus menyerahkan cindera mata kepada Romo L Priyo SJ
Mgr Robertus menyerahkan cindera mata kepada Romo L Priyo SJ

MUNTILAN -Pembedaan Roh Baik dan Roh Jahat merupakan hal yang harus dilakukan oleh siapa pun. Pembedaan Roh-Roh dilaksanakan melalui proses meninggalkan kebiasaan umat bicara, Tuhan harus mendengarkan menjadi membiarkan Tuhan berbicara dan umat mendengarkan. Puncaknya adalah mengalami Tuhan yang diam dan umat juga diam dalam keheningan. Inilah kedalaman yang menjadi pusat pembedaan Roh.

Demikian dikemukakan Romo Aloys Budi Purnomo Pr terkait rekoleksi Dewan Karya Pastoral Keuskupan Agung Semarang untuk para anggotanya Selasa-Rabu (12-13/9/2017). Rekoleksi yang didampingi oleh Romo L Priyo Pujiono SJ bertema "Pembedaan Roh-Roh dan Penerapannya".

Dalam Kegembiraan
Romo Budi memaparkan, proses pembedaan Roh-Roh bisa dilakukan dalam kegembiraan antara surga dan gelak tawa. Ini merupakan cara pembedaan Roh sehari-hari.

Meminjam gagasan Michael Hewitt-Gleeson, dalam bahasa sehari-hari, Pembedaan Roh menjadi sebentuk lateral thinking. "Tiga hal dilalui, yakni metapikir - refleksi tentang pikiran kita. Itu yang pertama," katanya.

ADVERTISEMENT

Kedua, gaya inside box thinking and outside box thinking atau berpikir menyeluruh. "Maka kita tidak bisa menggunakan pemikiran hitam dan putih, tapi ada abunya," jelas Romo Budi.

"Itulah yang discernment. Saat kita melihat sekeping uang koin. Kita maksimum menangkap data hanya 30% saja. Padahal ada 70% lain yang tak kelihatan. Menangkap misteri yang tak kelihatan adalah tujuan discernment," ungkap Romo Budi.

Tiga Pengandaian
Dijelaskan lebih lanjut oleh Romo Budi, ada tiga pengandaian pra-diskresi yakni, identitas manusia. Manusia perlu latihan rohani agar akrab dengan Tuhan. Kedua, kematangan emosi dengan terbuka dan rendah hati. Ketiga, dibutuhkan badan yang sehat, terkontrol. Men sana in corpore sano.

"Konteks diskresi adalah olah rohani (doa). Di sana kita mencari, menemukan dan melakukan kehendak Tuhan. Tidak boleh memaksakan kehendak kita," ujar Romo Budi.

Memilih Baik atau Jahat
Menurut Romo Budi, Spiritual discernment merupakan penegasan rohani: memilih antara yang baik dan dengan lebih baik. Bisa sendiri atau bersama.

Ada tiga langkah. Pertama, membangun kesadaran. Kedua, paham memahami. Ketiga, tindakan.

"Tiga hal itu didukung tiga dimensi yakni, identitasku sebagai pribadi dan relasiku dengan Tuhan, relasi diungkapkan melalui perutusan, dan komunitas tempat identitas dan perutusan dihayati," jelas dia.

Pusat diskresio adalah kasih Tuhan pada manusia. Discernment tak mungkin tanpa doa dan ekaristi. Doa dan Ekaristi menjadi penegasan atas kehendak Allah dan meneguhkan perutusan. Kadang harus disertai lacrima- air mata sebagai rahmat. Umat pun lalu masuk ke kedalaman kasih.

Buah dari diskresi adalah keputusan yang benar yang membawa kebahagiaan. Tersenyum bahagia. Ada tansformasi - perjumpaan dengan Allah. Senyum adalah rahmat paling konkret.

Untuk menerangkan semua itu, Romo L Priyo Pujiono SJ mengajak para peserta menonton film Of Gods and of Men. Dengan film itu Romo Priyo mengajak para peserta Rekoleksi, termasuk Uskup Agung Semarang, Mgr. Robertus Rubiyatmoko.

"Yang jelas, kami semua puas secara rohani boleh mengikuti rekoleksi DKP yang baru sekali ini terjadi. Minimal, selama 10 tahun menjadi anggota DKP, baru kali inilah ada rekoleksi. Selamat dan Proficiat!," pungkas Romo Budi.



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon