ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Fadli Zon Tegaskan G-30-S Jadi Luka Mendalam Sejarah Indonesia

Rabu, 1 Oktober 2025 | 06:40 WIB
IA
HH
Penulis: Ichsan Ali | Editor: HP
Menteri Kebudayaan (Menbud) Fadli Zon saat berpidato di Hari Kesaktian Pancasila 2025.
Menteri Kebudayaan (Menbud) Fadli Zon saat berpidato di Hari Kesaktian Pancasila 2025. (YouTube Kementerian Kebudayaan)

Jakarta, Beritasatu.com - Menteri Kebudayaan (Menbud) Fadli Zon menegaskan Gerakan 30 September 1965 (G-30-S) menjadi salah satu peristiwa paling kelam dalam sejarah Indonesia. Menurutnya, tragedi yang didalangi oleh Partai Komunis Indonesia (PKI) itu meninggalkan luka mendalam dan menjadi pengingat penting bagi bangsa.

Dalam pidatonya memperingati Hari Kesaktian Pancasila 2025, Fadli menekankan, ideologi PKI jelas bertentangan dengan Pancasila karena mengancam persatuan yang telah diperjuangkan para pendiri bangsa.

“Peristiwa yang kita kenang terjadi 60 tahun lalu memberi makna tersendiri agar peristiwa ini tak boleh terulang kembali, apalagi di tengah peringatan kemerdekaan ke-80 Republik Indonesia,” ujar Fadli dalam pidato yang disiarkan melalui kanal YouTube Kementerian Kebudayaan, Selasa (30/9/2025).

ADVERTISEMENT

Fadli memaknai Hari Kesaktian Pancasila 1 Oktober sebagai simbol keberhasilan bangsa dalam menghadapi ancaman ideologi yang berusaha menggoyahkan persatuan nasional.

“Peringatan ini menegaskan keteguhan bangsa kita dalam menolak paham yang bertentangan dengan jati diri dan persatuan, sekaligus membuktikan Pancasila tetap berdiri tegak di tengah berbagai tekanan dan ancaman,” jelasnya.

Ia menekankan, nilai-nilai Pancasila yang inklusif dan terbuka membuat Indonesia mampu menjaga kebinekaan dalam satu kesatuan. Setiap sila memiliki makna yang relevan dengan kehidupan berbangsa dan bernegara hingga saat ini.

“Pancasila hadir sebagai benteng pertahanan ideologis kita. Dengan terus menjaga dan mengamalkannya, Indonesia akan mampu tetap kokoh menghadapi dinamika internal maupun global. Pancasila adalah pilar utama keberlanjutan bangsa ini,” tegas Fadli.

Fadli menambahkan, bangsa yang besar adalah bangsa yang berdiri kokoh di atas fondasi ideologi sendiri. Karena itu, Pancasila harus terus diperkuat, dihayati, dan dihidupkan dalam setiap aspek kebudayaan.

“Nilai-nilai Pancasila hidup dalam setiap ritual adat, tercermin dalam setiap karya seni, terdengar dalam alunan musik daerah, dan terasa dalam kehangatan interaksi sosial sehari-hari,” ucapnya.

Ia pun mengajak seluruh elemen masyarakat, mulai dari seniman, budayawan, pegiat komunitas, tokoh adat, pendidik, hingga pemuka agama untuk menjadi garda terdepan dalam melestarikan kebudayaan yang berlandaskan nilai Pancasila.

“Dengan menjaga dan mengembangkan ekspresi budaya berlandaskan Pancasila, kita memperkuat jati diri sekaligus fondasi bangsa untuk menghadapi masa depan,” pungkas Fadli Zon.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

Tanggung Jawab Media dalam Aktualisasi Nilai-nilai Pancasila

Tanggung Jawab Media dalam Aktualisasi Nilai-nilai Pancasila

OPINI

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon