Menonton Mukbang Saat Puasa, Batal atau Pahala Berkurang?
Kamis, 5 Maret 2026 | 12:41 WIB
Jakarta, Beritasatu.com – Puasa merupakan ibadah wajib bagi umat muslim selama bulan Ramadan. Selain menahan lapar dan haus sejak terbit fajar hingga terbenam matahari, puasa juga mengajarkan pengendalian diri dari berbagai hawa nafsu serta menjaga perilaku agar tetap sesuai dengan nilai-nilai spiritual.
Pada era digital seperti sekarang, aktivitas sehari-hari tidak lepas dari konsumsi konten di internet. Salah satu tren yang cukup populer adalah video mukbang, yaitu konten yang menampilkan seseorang menyantap makanan dalam jumlah besar sambil berbincang atau berinteraksi dengan penonton.
Muncul perbincangan di kalangan masyarakat mengenai hukum menonton video mukbang saat berpuasa, apakah aktivitas tersebut dapat membatalkan puasa atau hanya memengaruhi kualitas ibadah.
Untuk memahaminya secara tepat, penjelasan dari sudut pandang fikih serta pandangan para ulama menjadi penting agar umat muslim dapat menjalankan puasa dengan lebih bijak.
Mengenal Tren Video Mukbang
Video mukbang merupakan konten hiburan yang pertama kali populer di Korea Selatan. Dalam video ini, seorang kreator biasanya menyantap berbagai jenis makanan dalam porsi besar sambil berbicara dengan audiens atau memberikan ulasan tentang makanan tersebut.
Seiring berkembangnya media sosial, tren mukbang kemudian menyebar luas ke berbagai platform digital, seperti YouTube, Instagram, dan TikTok. Banyak kreator konten yang membuat video mukbang dengan berbagai konsep, mulai dari makanan pedas, makanan viral, hingga kuliner khas daerah.
Bagi sebagian orang, konten ini dianggap menghibur dan bahkan bisa memberikan referensi kuliner. Namun bagi orang yang sedang berpuasa, menonton video mukbang sering menimbulkan dilema karena makanan yang ditampilkan terlihat sangat menggugah selera.
Hukum Menonton Video Mukbang Saat Puasa menurut Ulama
Para ulama menjelaskan hukum menonton video mukbang saat berpuasa perlu dilihat dari dua sisi, yaitu dari segi sah atau tidaknya puasa secara fikih serta dari sisi kualitas pahala ibadah.
1. Tidak membatalkan puasa secara fikih
Menurut penjelasan para ulama dan ustaz, menonton video mukbang tidak termasuk hal yang membatalkan puasa secara fikih. Puasa seseorang tetap dianggap sah selama tidak melakukan hal-hal yang secara langsung membatalkan puasa, seperti makan, minum, atau melakukan hubungan suami istri dengan sengaja di siang hari Ramadan.
Melihat makanan melalui layar, meskipun tampak menggugah selera, tidak masuk dalam kategori pembatal puasa. Oleh karena itu, secara hukum syariat, menonton video mukbang tidak membuat puasa menjadi batal.
Namun demikian, pemahaman tentang puasa tidak hanya berhenti pada sah atau tidaknya ibadah tersebut.
2. Berpotensi mengurangi pahala puasa
Walaupun tidak membatalkan puasa, beberapa ulama mengingatkan menonton video mukbang berpotensi mengurangi nilai pahala ibadah, terutama jika dilakukan dengan niat yang kurang tepat.
Sebagian pendakwah, seperti Habib Jafar, menjelaskan apabila seseorang menonton mukbang dengan tujuan untuk memancing rasa lapar atau membangkitkan nafsu makan, maka hal tersebut dapat mengurangi kualitas spiritual dari puasanya.
Hal ini karena esensi puasa bukan sekadar menahan diri dari makan dan minum, tetapi juga menjaga hati, pikiran, serta hawa nafsu dari berbagai hal yang dapat mengganggu ketenangan ibadah.
Memahami Dosa dan Makruh dalam Konteks Menonton Mukbang
Selain membahas soal pembatal puasa, para ulama juga melihat fenomena ini dari sudut pandang etika ibadah.
1. Hukumnya boleh tetapi sebaiknya dihindari
Dalam pandangan sebagian ulama, menonton video mukbang saat puasa termasuk perbuatan mubah atau boleh dilakukan. Artinya, tidak ada larangan secara langsung dalam hukum Islam.
Namun demikian, aktivitas ini dianggap kurang bermanfaat dan bisa mengganggu fokus ibadah. Oleh karena itu, beberapa ulama menyarankan agar kebiasaan tersebut lebih baik dihindari, terutama jika menimbulkan godaan untuk makan atau membuat seseorang merasa lebih lapar.
2. Perspektif etika dalam ibadah puasa
Puasa merupakan latihan spiritual yang bertujuan membentuk pengendalian diri. Selain menahan lapar dan haus, umat muslim juga diajarkan untuk menahan keinginan yang berlebihan terhadap hal-hal duniawi.
Dalam konteks ini, jika menonton video mukbang membuat seseorang terlalu terpikat pada makanan atau justru menimbulkan rasa tidak nyaman selama berpuasa, maka sebaiknya aktivitas tersebut dipertimbangkan kembali.
Mengisi waktu puasa dengan kegiatan yang lebih bermanfaat tentu akan memberikan dampak spiritual yang lebih baik.
Tip Bijak Menjalani Puasa pada Era Digital
Agar ibadah puasa tetap berkualitas di tengah derasnya arus konten digital, ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk menjaga fokus dan ketenangan selama berpuasa.
- Pilih konten yang sesuai dengan suasana Ramadan
Daripada menonton video makanan yang menggugah selera, Anda bisa memilih konten yang lebih mendukung suasana Ramadan. Misalnya ceramah singkat, kajian keislaman, atau konten inspiratif yang dapat meningkatkan semangat beribadah.
Konten seperti ini tidak hanya menghibur, tetapi juga membantu memperkuat nilai spiritual selama bulan puasa.
- Latih pengendalian diri dari hawa nafsu
Puasa adalah sarana untuk melatih kesabaran dan pengendalian diri. Jika muncul keinginan untuk menonton konten yang dapat memicu rasa lapar, hal tersebut bisa menjadi kesempatan untuk belajar menahan diri.
Mengalihkan perhatian pada kegiatan lain yang lebih bermanfaat juga dapat membantu menjaga fokus ibadah.
- Gunakan waktu puasa untuk aktivitas produktif
Waktu selama Ramadan dapat dimanfaatkan untuk berbagai aktivitas positif, seperti membaca Al-Qur’an, berzikir, mengikuti kajian keagamaan, atau membantu orang lain.
Dengan mengisi waktu secara produktif, seseorang tidak hanya menjaga puasanya tetap sah secara hukum, tetapi juga meningkatkan kualitas pahala yang diperoleh.
Hukum menonton video mukbang saat puasa pada dasarnya tidak membatalkan ibadah puasa selama tidak disertai perbuatan yang secara langsung membatalkan puasa seperti makan atau minum.
Namun demikian, aktivitas ini berpotensi mengurangi kualitas pahala puasa, terutama jika dilakukan dengan niat untuk membangkitkan hawa nafsu atau memicu rasa lapar.
Karena puasa tidak hanya soal menahan lapar dan haus, tetapi juga tentang pengendalian diri dan peningkatan spiritualitas, maka lebih bijak untuk mengisi waktu selama Ramadan dengan kegiatan yang lebih bermanfaat dan mendekatkan diri kepada Allah.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
Festival Mudik Dongkrak Wisatawan ke Wonosobo
Pidato Trump Picu Lonjakan Minyak Dunia
3
B-FILES
Harga yang Tak Terlihat, Masa Depan yang Terancam
Rio Abdurachman P
Hari Fitri Benahi Diri: Ujian Integritas di Tengah Bayang Korupsi
Muhammad Ishar Helmi
Prabowo Beri Pelukan Hangat untuk Keluarga TNI yang Gugur di Lebanon




