Pakar: Intelijen Bukan Momok yang Harus Ditakuti
Kamis, 11 Maret 2021 | 22:05 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Masyarakat diharapkan tidak menganggap intelijen sebagai sebuah momok atau sesuatu yang ganas dan ditakuti. Masyarakat harus memahami bahwa kehadiran intelijen justru sangat penting sebagai upaya untuk menjaga persatuan dan kesatuan negara dengan ideologi Pancasila dan UUD 1945.
Hal itu dikatakan pengamat intelijen keamanan Susaningtyas NH Kertopati atau yang akrab disapa Nuning dalam dialog dengan peneliti bidang keamanan Ridlwan Habib bejudul "Perempuan Pakar Intelijen. Bincang Tokoh Dr Susaningtyas NH Kertopati Msi" yang ditayangkan di kanal Youtube Ridlwan Djogja, Rabu (10/3/2021).
Dikutip Beritasatu.com, Kamis (11/3/2021), Nuning mengatakan, Indonesia masih sangat membutuhkan insan intelijen yang profesional, baik pria maupun wanita. Apalagi, saat ini dan di masa mendatang, negara dan bangsa kita berhadapan dengan ancaman perang hibrida, yakni campuran antara ancaman militer hingga nirmiliter.
"Perang konvensional itu terlalu mahal dan rumit, karena ada perjanjian, campur tangan PBB, dan sebagainya. Sekarang ada grey area, yaitu asimetris warfare. Langkah-langkahnnya dengan mengggunakan sistem komunikasi," kata Nuning.
Dalam perang hibrida seperti itu, ujar Nuning, masyarakat harus hati-hati karena berkembang banyak kabar bohong (hoax), disinformasi, hingga post truth atau suatu pembenaran yang dipaksakan menjadi sebuah kebenaran. Itu semua direkayasa untuk mengacaukan situasi dan kondisi negara. Pihak musuh ingin agar masyarakat tidak kompak dalam menjaga persatuan dan kesatuan bangsa.
"Jadi, kita harus berhati-hati karena melangkah ke dunia baru, di mana perang tak lagi konvensional yang menggunakan alutsista (alat utama sistem persenjataan, Red) yang besar dan mahal, serta hukum-hukum internasional yang rumit, apalagi bila dikawinkan dengan hukum nasional yang juga rumit," ujar perempuan yang pernah menjadi anggota DPR periode 1999-2004 (PDIP) dan 2009-2014 (Partai Hanura) itu.
Perang hibrida itu yang telah dirasakan ketika Indonesia mengalami pandemi Covid-19. Disinformasi tentang Covid-19 sangat dirasakan. Banyak pihak yang menganggap bahwa apa yang dikerjakan pemerintah hanya rekayasa atau informasi palsu.
Dalam hal ini, ujar Nuning, seluruh elemen bangsa harus bahu membahu agar jangan sampai masyarakat percaya terhadap disinformasi itu menjadi sebuah kebenaran. Untuk itu, literasi masyarakat tentang pandemi ini harus terus ditingkatkan.
Dengan situasi seperti itu, Nuning kembali mengingatkan tentang pentingnya insan intelijen yang profesional, termasuk dari kalangan perempuan. Kehadiran insan intelijen perempuan, ujarnya, jangan sekadar untuk mengisi kekosongan tuntutan bahwa di setiap lini harus ada perempuan. Keahlian, pemikiran, analisis, ketepatan, dan kemampuannya harus tidak kalah dengan pria.
"Insan intelijen, utamnya perempuan, tidak sekadar menjadi spy master tetapi juga memahami berbagai hal, seperti komunikasi antarbudaya serta mampu melakukan disepsi. Jangan sampai ketahuan. Misalnya, ditugaskan menjadi sesuatu, tetapi karakter yang diperankan tidak dikuasai, maka orang akan mengetahuinya," kata Nuning.
Terkait itu, Nuning mengapresiasi perkembangan Badan Intelijen Negara (BIN) di bawah kepemimpinan Jenderal (Purn) Budi Gunawan. Dia menilai BIN saat ini berhasil menjadi lembaga berkelas dunia.
"Kepala BIN sekarang berhasil membangun BIN berkelas dunia. Saya melihat, yang dilakukan Kabin Jenderal (Purn) Budi Gunawan sudah bagus sekali. Pembangunan STIN (Sekolah Tinggi Intelijen Negara, Red) bagus sekali. Tidak hanya fisik gedung, tetapi juga para mahasiswanya dibangun dengan baik," ujar Nuning.
Nuning juga melihat sistem koordinasi kegiatan di BIN sudah sangat bagus. Budi Gunawan berhasil membangun kesadaran tentang pentingnya profesionalisme di kalangan insan intelijen. Misalnya, kerja insan intelijen itu tidak mengenal waktu, bahkan bisa bekerja 24 jam sehari.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
Politik-Hukum Terkini: Polemik Film hingga Judi Online
PM China Li Qiang Temui Sederet CEO AS, Siapa Saja?
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Politik-Hukum Terkini: Polemik Film hingga Judi Online




