Ekowisata Jadi Andalan Banyuwangi
Selasa, 1 Oktober 2013 | 01:19 WIBBanyuwangi - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banyuwangi terus meningkatkan kualitas dan infrastruktur pariwisata yang dimilikinya. Salah satu cara yang dilakukan adalah dengan meresmikan penginapan (dormitory) murah untuk kalangan wisatawan backpakers.
Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anaz mengatakan, pembangunan dormitory tersebut, ditujukan untuk semakin melengkapi infrastruktur pariwisata yang ada di kabupaten berjuluk The Sunrise of Java ini.
"Kami juga mendorong pengembangan wisata melalui pariwisata event (event tourism) melalui Banyuwangi Festival yang kami gelar mulai September-Desember 2013. Ada karnaval etnik, festival batik, Tour de Ijen, jazz pantai, sampai festival seni tradisional," kata Anaz dalam keterangan tertulisnya kepada Beritasatu.com baru-baru ini.
Menurut Anas, konsep pengembangan pariwisata yang diusung Banyuwangi adalah ekowisata (ecotourism), yang mendapat tempat tersendiri di antara berbagai jenis pariwisata lain, karena dianggap sebagai "win-win solution tourism".
"Sebelum ekowisata ada, pariwisata memang cenderung lebih mengutamakan aspek ekonomi untuk mengeruk laba sebesar-besarnya, sehingga cenderung mengabaikan keberlanjutan lingkungan dan kesejahteraan sosial-ekonomi masyarakat sekitar," jelas alumnus program studi singkat ilmu kepemerintahan di Harvard Kennedy School of Government, Amerika Serikat ini.
Indonesia sendiri, lanjutnya, sangat potensial sebagai destinasi ekowisata. Selain karena flora-faunanya yang beraneka ragam, Indonesia juga kaya budaya.
"Demikian pula daerah seperti Banyuwangi yang fokus mengembangkan ekowisata. Argumennya jelas, Banyuwangi mempunyai "Segitiga Emas" dengan kekayaan wisata alam yang luar biasa, yaitu Kawah Ijen, Pantai Sukamade, dan Taman Nasional Alas Purwo. Perpaduan lengkap antara dataran tinggi, pantai, dan kawasan hutan dengan kekayaan flora dan fauna tak ternilai. Belum lagi potensi budaya masyarakat Using yang luar biasa," tuturnya.
Di Banyuwangi, ekowisata ditekankan dengan menjaga alam sekitar dan memberdayakan masyarakat setempat demi terwujudnya sustainable tourism alias pariwisata berkelanjutan.
Dengan konsep itu, lanjut Anas, masyarakat lokal tidak hanya dijadikan sebagai objek turistik belaka, melainkan sebagai "tuan" bagi diri mereka sendiri, wirausahawan, penyedia jasa, dan sekaligus diberdayakan sebagai pekerja.
"Masyarakat lokal membuat kerajinan untuk dijadikan cinderamata, memasak kuliner setempat untuk disajikan kepada wisatawan, menyediakan kamar bagi tempat menginap, mengajarkan budaya dan kearifan lokal sekaligus belajar pada wisatawan yang datang tentang hal-hal baru," pungkasnya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
Politik-Hukum Terkini: Polemik Film hingga Judi Online
PM China Li Qiang Temui Sederet CEO AS, Siapa Saja?
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Politik-Hukum Terkini: Polemik Film hingga Judi Online




