Serunya Belajar Sejarah Bersama "Adriana"
Sabtu, 9 November 2013 | 17:23 WIB
BANYAK orang mungkin bakal mengaku jika dirinya kerap mengantuk, bahkan tertidur, saat pelajaran Sejarah di sekolah. Bagi banyak orang, Sejarah barangkali memang identik sebagai mata pelajaran yang membosankan.
Sesungguhnya tidak demikian, asal pelajaran sejarah diajarkan dengan teknik menarik. Salah satunya, tak melulu harus diajarkan di kelas. Mendatangi situs-situs bersejarah disertai penjelasan apa yang pernah terjadi di sana, merupakan salah satu cara jempolan mengubah pelajaran sejarah jadi lebih bergairah.
Atau juga, tontonlah film drama yang menyisipkan sekelumit sejarah bangsa ini. Salah satu contohnya adalah Adriana, drama komedi romantis yang akan mengajak kita belajar sejarah kota Jakarta.
Film ini sendiri sebenarnya menjual kisah cinta remaja beranjak dewasa yang tak biasa. Tepatnya, kisah cinta segitiga para tokoh utamanya, yakni Adriana (Eva Celia), Mamen (Adipati Dolken) dan Sobar (Kevin Julio).
Ceritanya, suatu hari, Mamen bertemu dengan Adriana. Saat ingin berkenalan, bukan nama yang Mamen dapat, tapi sebuah teka-teki. Sebuah teka-teki yang akan membawa kita berpetualang ke masa lalu, merekonstruksi sejarah bangsa.
"Jika karpet lift itu berganti dua kali, aku akan menjumpaimu di tempat ular saling berlilitan pada tongkatnya, saat Proklamasi dibacakan," isi teka-teki pertama Adriana.
Mamen pun lantas meminta bantuan Sobar, sahabatnya sekaligus asisten dosen mata kuliah Sejarah. Ditelaahnya kata per kata dalam teka-teki itu, yang bakal mengarahkan Mamen ke lokasi, hari, dan jam pertemuan dengan Adriana.
Ular saling berlilitan merujuk pada patung Hermes di kawasan Harmoni, yang kemudian dipindahkan ke Museum Fatahillah. Sementara saat proklamasi dibacakan, merupakan kode waktu pertemuan, yaitu jam delapan pagi.
Selama ini, khalayak tahu bahwa proklamasi dibacakan tepat pukul 10.00. Namun sesungguhnya adalah pukul 08.00 waktu Jepang. Saat itu belum dikenal sistem pembagian waktu WIB, WIT dan WITA.
Mamen dan Sobar memang berhasil memecahkan teka-teki itu. Hanya saja, saat tiba di lokasi, tak ada Adriana, melainkan sebuah teka-teki baru.
Teka-teki kali ini menarik kita mundur lagi ke masa lalu, ke zaman pendudukan Belanda di Indonesia. Tepatnya yaitu sejarah tentang Adriana Van Den Bosch, anak dari Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Johannes Van Den Bosch, yang mati karena diduga tertular penyakit rakyat jelata yang ditolongnya.
Lagi-lagi Mamen terlambat. Ia tak berhasil menemui Adriana. Justru Sobar sahabatnya, yang kemudian berada di kuburan Adriana Van Den Bosch di Kebun Raya Bogor.
Satu teka-teki lagi muncul. Yang ini membawa kita menemui Ir Soekarno dan Mohammad Hatta di masa lalu. Tepatnya tentang Soekarno yang ingin membangun sebuah monumen yang kemudian dikenal sebagai Patung Pancoran.
Di sini ada kisah Soekarno yang merelakan mobilnya dijual untuk mengongkosi pembangunan monumen itu. Juga bahwa Soekarno yang hingga ajal menjemput nyatanya tidak bisa menyaksikan monumen tersebut berdiri tegak di Pancoran.
Pendek kata, ada banyak informasi sekaligus pengetahuan sejarah menarik yang bisa didapatkan dari film ini. Dan belajar sejarah melalui film ini dijamin tidak bosan, terutama karena adanya unsur cerita, yang dibalut juga dengan komedi, di dalam film ini.
Dialog-dialog komikal ditambah akting Adipati Dolken nan jenaka, merupakan bahan penyedap ampuh yang membuat penonton bakal bertahan hingga akhir cerita. Lalu bagaimana dengan akhir kisah cinta Adriana, Mamen dan Sobar? Ini petunjuknya: "Impian tidak harus berada di atas. Kadang kita perlu ke atas untuk melihat ke bawah."
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
Politik-Hukum Terkini: Polemik Film hingga Judi Online
PM China Li Qiang Temui Sederet CEO AS, Siapa Saja?
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Politik-Hukum Terkini: Polemik Film hingga Judi Online




