Chris John: Lawan Marquez Paling Fantastis, Alfaridzi Tersengit

Kamis, 19 Desember 2013 | 16:32 WIB
SA
B
Penulis: Shesar Andriawan | Editor: B1
Petinju Indonesia Chris John (kiri) bertarung melawan Petinju Jepang Satoshi Hosono (kanan) pada perebutan gelar Juara tinju gelar dunia kelas bulu versi WBA, Jakarta, Minggu (14/4) malam. Pertarungan antara Chris John melawan Satoshi Hosono dihentikan pada ronde ke-3 dengan keputusan Technical Draw. FOTO: SP/Joanito De Saojoao
Petinju Indonesia Chris John (kiri) bertarung melawan Petinju Jepang Satoshi Hosono (kanan) pada perebutan gelar Juara tinju gelar dunia kelas bulu versi WBA, Jakarta, Minggu (14/4) malam. Pertarungan antara Chris John melawan Satoshi Hosono dihentikan pada ronde ke-3 dengan keputusan Technical Draw. FOTO: SP/Joanito De Saojoao (Suara Pembaruan/Joanito De Saojoao)

Jakarta - Memulai cerita sebagai atlet wushu, Chris John kemudian lebih tersohor sebagai petinju kelas bulu asal Indonesia yang memegang gelar juara tinju dunia WBA sejak September 2003. Nyaris saja ia mencatat prestasi 49 kali menang, menyamai rekor Rocky Marciano, andai tak kalah TKO di ronde keenam oleh Simpiwe Vetyeka (Afrika Selatan) di Perth, Australia, 6 Desember 2013 silam.

Merasa puas dengan rekor 48 kemenangan dan 3 seri sepanjang 15 tahun, hari ini, Kamis (19/12) Chris John pun memilih untuk mundur dari ring tinju.

Ditemui di bilangan Jakarta Barat, kepada wartawan, Chris John kembali menceritakan kisah singkat perjalanan kariernya di ring tinju. Termasuk, saat berduel dengan seniornya, almarhum Muhammad Alfaridzi.

Pertarungan 13 Agustus 1999 itu berjalan sengit, dan berdarah-darah. Chris John bahkan nyaris kalah ketika terjatuh dua kali akibat hantaman keras Alfaridzi.

Namun, berkat tekad kerasnya, Chris John mampu bangkit, dan menjalani pertarungan hingga ronde ke-12. Mental kuat Chris John akhirnya berbuah manis ketika ia memukul jatuh Alfaridzi pada penghujung ronde. Si Naga --julukan Chris John-- pun keluar sebagai juara nasional, kala itu, meski hidungnya "hancur" akibat hantaman.

"Saat itu saga teringat pesan ayah saya. Kesuksesan itu datang ketika persiapan dengan kesempatan," ucap Chris John menirukan pesan ayahnya.

"Ayah saya mengatakan, kalau ingin sukses tidak bisa naik eskalator tapi harus mendaki tiap anak tangga," beber petinju yang berdomisili di Semarang.

Pasca-laga melawan Alfaridzi, tekad Chris John meraih gelar lain dari ring tinju pun semakin bulat. Dan, kesempatan menjadi juara dunia pun datang pada September 2003, ketika ia berhadapan dengan Oscar Leon di Kartika Plaza, Bali.

Meski tak diunggulkan, pria kelahiran Banjarnegara itu mampu tampil prima, hingga akhirnya menang angka atas petinju Kolombia tersebut. Chris John pun berhasil membanggakan Indonesia, lewat gelar dunia perdananya.

Chris John tahu benar, jika sabuk juara dunia yang diraihnya bakal sulit untuk dipertahankan. Karena itu, ia pun berusaha mati-matian untuk mempertahankan gelar yang disandangnya.

Pada 4 Juni 2004, Chris John melakoni duel mempertahankan gelar untuk pertama kalinya kala melawan petinju Jepang, Osamu Sato di Tokyo. Chris John mampu tampil "pede" meski tampil di hadapan pendukung Osamu. Ia pun berhasil memenangkan gelar setelah dinyatakan menang mutlak atas Osamu.

"Mempertahankan gelar juara dunia pertama kali tidaklah mudah bagi saya. Saya melawan Osamu Sato di Jepang dan kita tahu bahwa Jepang punya daya semangat yang sangat tinggi. Namun saya berhasil mengalahkannya dan mempertahankan gelar saya," ujar ayah dua anak itu.

Laga Paling Fantastis
Pada bincang-bincang seru itu, Chris John megungkapkan bahwa pertarungan kontra Juan Marquez di Tenggarong, tujuh tahun silam, sebagai laga paling fantastis dalam kariernya. Chris John mengaku bahwa dirinya tak mungkin menang melawan petinju Meksiko itu. Di mata Chris John, Marquez adalah petinju yang tangguh dan sulit untuk dijatuhkan.

Tetapi, prasangka Chris John sama sekali tak terbukti. Dengan persiapan matang dan kinerja tim yang solid, Chris John mampu menang atas Marques dengan angka mutlak.

Lebih lanjut, ayah dari Maria Luna (8) dan Maria Rosa (5) itu memuji pelatihnya, Craig Christian. Ia mengaku merasa nyaman bila Craig bersamanya tiap kali bertandinga.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon