Ini Rahasia Taktik Tak Terlihat Iran yang Bikin Jet Tempur AS Rontok
Sabtu, 4 April 2026 | 15:21 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Jatuhnya jet tempur F-15E Strike Eagle dan pesawat serang A-10 Thunderbolt II milik Amerika Serikat di wilayah Iran pada Jumat (3/4/2026) menandai titik balik krusial dalam konflik di Timur Tengah. Kejadian ini tidak hanya mematahkan rekor "aman" AS selama dua dekade, tetapi juga mengungkap realitas pahit bahwa klaim "kehancuran total" militer Iran yang disebut oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump mungkin terlalu prematur.
Disebutkan AP, Sabtu (4/4/2026), meskipun AS telah melancarkan lebih dari 13.000 misi serangan yang melemahkan infrastruktur Iran, pakar pertahanan Behnam Ben Taleblu menegaskan adanya perbedaan antara sistem yang lumpuh dan hancur. Iran menyadari mereka tidak bisa memenangkan perang udara secara konvensional. Sebagai gantinya, mereka menggunakan taktik "gerilya udara".
"Mereka membiarkan sistem radar besar mereka hancur, namun tetap menyiagakan unit-unit kecil yang sulit terdeteksi untuk melakukan serangan kejutan," ucap Benham Ben Taleblu, direktur senior program Iran di Foundation for Defense of Democracies.
"Kita tidak perlu terkejut bahwa mereka masih melawan," tambahnya.
Taleblu menjelaskan bahwa pesawat Amerika telah menerbangkan misi pada ketinggian yang lebih rendah, yang membuat mereka lebih rentan terhadap rudal Iran. Menurutnya, ada kemungkinan Iran menembak F-15 dengan rudal permukaan ke udara, tetapi lebih besar kemungkinannya menggunakan rudal portabel yang ditembakkan dari bahu (rudal panggul).
Senjata jenis itu jauh lebih sulit dideteksi dan mencerminkan bagaimana Iran berada dalam kondisi lemah tetapi tetap mematikan.
"Ini adalah rezim yang sedang berjuang demi nyawanya," katanya.
Mark Cancian, seorang pensiunan kolonel Marinir dan penasihat pertahanan senior di Center for Strategic and International Studies, setuju bahwa rudal panggul kemungkinan besar digunakan terhadap jet tempur tersebut.
Meskipun demikian, ia menilai perang udara Amerika melawan Iran telah menjadi "kesuksesan yang luar biasa" sejauh ini. Sebagai perbandingan, ia menyebutkan tingkat kehilangan pesawat tempur Amerika yang terbang di atas Jerman selama Perang Dunia II pernah mencapai 3%, yang setara dengan sekitar 350 pesawat tempur dalam perang AS melawan Iran saat ini.
"Tetapi kemudian ada sisi politiknya, Anda memiliki publik Amerika yang terbiasa berperang tanpa pertumpahan darah," kata Cancian.
“Lalu sebagian besar negara tidak mendukung perang ini. Jadi bagi mereka, kehilangan apa pun tidak dapat diterima,” pungkasnya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Revitalisasi Alun-alun Kota Serang Ditargetkan Rampung Desember 2026




