Lusi J Afendy
Dokter Barbie Pencinta Anak-anak
Minggu, 1 Juni 2014 | 10:04 WIB
Anak-anak menjadi media bagi dokter gigi (drg) Lusi J Afendy untuk melakukan aksi sosial. Hampir setiap bulan ia berkunjung ke sekolah-sekolah untuk melakukan edukasi gigi sehat. Aksinya ditunjang dengan penampilannya yang cantik seperti Barbie agar diterima anak-anak. Sebutan "Dokter Barbie" pun kini melekat padanya.
Berparas cantik, berambut pirang, dan murah senyum. Tak berlebihan bila drg Lusi J Afendy disebut Barbie., dr Barbie tepatnya. Tapi yang menarik dari dokter Barbie justru bukan penampilannya, tetapi aksi sosial yang dilakukannya. Hampir setiap bulan, Lusi menyambangi sekolah dasar atau taman kanak-kanak di daerah Jakarta dan sekitarnya untuk memeriksa dan mengedukasi kesehatan gigi anak-anak.
"Ini berawal dari kemarahan saya melihat anak-anak sekarang banyak yang giginya rusak karena orangtua bekerja, sehingga pengasuhan anak dilakukan oleh pembantu yang membiarkan anak minum susu formula sembari tidur," ungkap drg Lusi di Jakarta, belum lama ini.
Dari situ, Lusi bertekad melakukan aksi sosial ke sekolah-sekolah agar guru, orangtua, dan anak-anak tahu betapa pentingnya menjaga kesehatan gigi. Gigi susu, jelas Lusi, harus dijaga jangan sampai bolong dan busuk. "Ketika gigi susu sudah lepas lalu diganti oleh gigi tetap, bakteri yang berasal dari gigi susu yang bolong masih bercokol dan bisa membuat karies (lubang) baru di sisi gigi tetap," jelas Lusi yang juga aktif di Klinik Tumbuh Kembang.
Agar anak-anak tidak takut dengan kedatangannya, Lusi pun menerapkan strategi unik. Ia mengecat warna-warni rambutnya, mulai pirang, ungu, dan cokelat. Lusi juga mendongeng lebih dulu kepada anak-anak tersebut sehingga mereka tak takut. Terbukti strateginya berhasil. Anak-anak pun takjub dengan penampilannya dan malah tertarik. "Ih dokternya kayak Barbie," ujar Lusi menirukan teriakan anak-anak yang dikunjunginya.
Lebih senangnya lagi, seusai diperiksa oleh Lusi dan timnya, anak-anak ini diberi bingkisan. "Ketika diperiksa dan diberi hadiah, muka mereka senang sekali. Itu yang bikin saya bahagia," ungkap Lusi yang sempat menjadi pemain sinetron Tersanjung dan sinetron laga saat masih kuliah.
Terinspirasi dr Sartika
Menjadi dokter adalah cita-cita Lusi sejak remaja. "Saya terinspirasi dari sinetron zaman dulu, dr Sartika yang diperankan Dewi Yull. Saya ingin seperti dr Sartika yang baik hati dan banyak menolong masyarakat, khususnya yang tidak mampu," kenang dokter lulusan Universitas Moestopo, Jakarta.
Setelah lulus dan bekerja, niat mulia itu pun ia lakukan sedikit demi sedikit. Saat mendirikan klinik sendiri di 2009, dia pun bertekad membantu masyarakat menjaga kesehatan giginya dengan harga yang tak mahal. "Saat ini orang mau berobat gigi biayanya sangat mahal sehingga mereka biarkan giginya makin rusak. Saya tidak mau seperti itu, sehingga saya kasih harga yang wajar," ujar Lusi yang menawarkan pemasangan behel sekitar Rp 4 juta.
Memang, lanjutnya, biaya tergantung pada pemilihan lokasi praktik, biaya transportasi dokter ke lokasi praktik, dan harga alat dan bahan dari suplier. "Asal tidak mengambil untung banyak, kita bisa kasih harga murah ke pasien tanpa mengurangi kualitas," ujar Lusi yang banyak diburu pasien hingga dari luar Jakarta.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
Politik-Hukum Terkini: Polemik Film hingga Judi Online
PM China Li Qiang Temui Sederet CEO AS, Siapa Saja?
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Politik-Hukum Terkini: Polemik Film hingga Judi Online




