Pemimpin Harus Punya Kecerdasan Hadapi Masalah dan Kesulitan

Kamis, 5 Juni 2014 | 16:40 WIB
MS
B
Penulis: Markus Junianto Sihaloho | Editor: B1
Dua pasangan calon presiden Joko Widodo (kanan) dan Prabowo Subianto,  mengikuti proses pengambilan nomor urut peserta pemilu presiden di kantor KPU pusat, Jakarta, Minggu (1/6). SP/Joanito De Saojoao.
Dua pasangan calon presiden Joko Widodo (kanan) dan Prabowo Subianto, mengikuti proses pengambilan nomor urut peserta pemilu presiden di kantor KPU pusat, Jakarta, Minggu (1/6). SP/Joanito De Saojoao. (Suara Pembaruan/SP/Joanito De Saojoao.)

Jakarta - Kecerdasan seseorang dinilai tak hanya dilihat dari intelligence quotient (IQ), tetapi juga harus ada keseimbangan dengan emotional quotient (EQ), dan spiritual quotient (SQ). Bahkan ada satu lagi yang perlu dimiliki, yaitu adversity quotient (AQ). Di sinilah kecerdasan seseorang diuji dalam menghadapi masalah dan kesulitan. Apalagi jika orang tersebut adalah calon pemimpin.

"Awal menjadi pemimpin itu perlu keseimbangan antara IQ, EQ, dan SQ, serta AQ. Jadi mengukur kecerdasan tak cukup hanya dari salah satunya saja, karena calon pemimpin juga harus dilihat bagaimana kecerdasannya dalam menghadapi masalah dan kesulitan," kata pakar pendidikan Tukiman Taruna, saat dihubungi dari Jakarta, Kamis (5/6).

Menurutnya tidak bisa mengukur kecerdasan seseorang, terlebih calon pemimpin nasional hanya dengan IQ saja.

"Kalau IQ itu, kan hanya kecerdasan otak saja, sementara AQ adalah ukuran otak ketika menghadapi kesulitan. Intinya dia tahan banting atau tidak dalam menghadapi kesulitan. Empat itu harus seimbang. Apa artinya cerdas otak, kalau tak cerdas menghadapi kesulitan," jelasnya.

Empat hal itu, kata Tukiman ada tesnya, dan hasilnya akan mengklasifikasi orang pada tiga kelompok.

Pertama, kelompok orang pemogok, yakni orang yang kalau ada kesulitan atau ada masalah justru mogok, mutung, atau ngambek.

Kedua, orang yang kalau menghadapi kesulitan, bukannya menyelesaikan tetapi mengalihkannya ke persoalan lain. Orang yang seperti itu ibarat kelompok berkemah. Artinya, dia mencoba untuk mengatasi kesulitan itu, tetapi kalau dirasa semakin sulit maka dia berhenti di tengah jalan. Kemudian dia mendirikan kemah baru di situ, untuk mengalihkan perhatian ke kemahnya.

Ketiga, adalah kelompok orang yang berani mendaki, atau biasa disebut tahan banting.

"Dalam konteks capres ini, silahkan menilai capres siapa yang tahan banting menghadapi masalah dan kesulitan," ungkap Wakil Ketua Dewan Pendidikan Provinsi Jawa Tengah ini.

"Nah, kalau menghadapi masalah, lalu modelnya marah, tur ke luar negeri, atau marah-marah, ya itu kategori yang cari pengalihan," jelasnya.

Untuk melihat klasifikasi itu ke calon pemimpin, kata dia, rakyat bisa melihat bagaimana rekam jejaknya selama ini.

Sebelumnya terjadi polemik di media massa, dimana tiba-tiba gaya berpidato Prabowo dan Jokowi dibanding-bandingkan. Arah isunya adalah bahwa gaya berpidato Jokowi kalah dibanding Prabowo, sehingga Jokowi dianggap tak pantas menjadi presiden RI. Padahal sejumlah ahli sudah menyebutkan bahwa gaya berpidato tak bisa menjadi patokan kualitas seseorang, namun harus melihat rekam jejak serta hasil kerjanya.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon