Indra Baruna
Setiap Pekerjaan Harus Membahagiakan Orang Lain
Senin, 14 Juli 2014 | 11:01 WIB
Merintis perusahaan dari bawah bukanlah perkara mudah. Apalagi jika harus menyulap sang "bayi" menjadi "raksasa". Tapi Indra Baruna punya banyak cara untuk membangun, mengembangkan, dan membesarkan PT Asuransi Adira Dinamika (Adira Insurance) menjadi salah satu perusahaan asuransi kendaraan bermotor paling mapan dan disegani di Tanah Air.
Salah satu yang diterapkan Indra Baruna di perusahaan yang dipimpinnya adalah Tut Wuri Handayani, Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso. Filosofi yang diwariskan pelopor pendidikan Ki Hadjar Dewantoro ini terbukti ampuh menyatukan seluruh elemen di Adira Insurance hingga menjadi satu kesatuan yang bergerak dan maju bersama-sama.
"Menjadi pemimpin harus bisa menentukan arah dan menjadi panutan. Barulah setelah organisasi berkembang, partisipasi karyawan dimulai. Ketika sudah mencapai titik kedewasaan, saya sebagai leader tinggal menuntun mereka yang sudah punya inisiatif untuk maju," tutur Indra di Jakarta, baru-baru ini.
Indra Baruna ternyata termasuk tipe pemimpin yang selalu berempati kepada orang lain. Itu sebabnya, dalam setiap pekerjaan yang dijalaninya, pria kelahiran Malang, 22 Juni 1965, ini selalu memikirkan apakah hasilnya membahagiakan orang lain atau tidak. "Jadi, kalau dia berbahagia dengan kehadiran saya, saya sudah merasa bahagia. Tapi tidak 'asal bapak senang', lho!" ujarnya.
Di luar itu, Indra adalah eksekutif yang sangat menyukai tantangan. Bagi Indra, merintis perusahaan dari awal, kemudian membangunnya menjadi besar dan bersaing dengan perusahaan-perusahaan kelas kakap memiliki tantangan tersendiri. "Justru di sanalah tantangan utamanya, bagaimana bayi bisa mengalahkan raksasa. Saya dituntut untuk banyak belajar dan mencari solusi," papar Indra.
Apa saja visi-misi bisnis Indra Baruna? Mengapa ia memegang teguh filosofi Ki Hadjar Dewantoro? Mengapa pula Indra ingin karyanya mampu membahagiakan orang lain? Berikut wawancara dengannya.
Bagaimana awal Anda bekerja di Adira Insurance?
Waktu saya ditawari di Adira, saya lihat ada kesempatan untuk belajar lebih banyak. Tentu tidak setiap saat saya bisa mendapatkan kesempatan ini. Maka dengan berat hati, saya meninggalkan perusahaan yang saya cintai dan membesarkan saya untuk meraih yang lebih tinggi. Memang pada waktu pindah, posisi saya di sana sebagai direktur.
Pada awalnya, baik di Adira maupun Astra International, keduanya tidaklah sesuai dengan background pendidikan saya. Saya kuliah di Institut Pertanian Bogor (IPB). Saya mengambil Fakultas Kehutanan dengan konsentrasi Konservasi Sumber Daya Alam.
Setelah lulus, saya masuk sebagai management trainee di Astra International pada 1987. Setelah beberapa tahun, saya juga sempat menjabat sebagai kepala cabang di anak perusahaan Astra International, yaitu Asuransi Astra Buana. Kemudian saya dipindahkan ke market corporate, sebelum akhirnya pindah ke Adira Insurance.
Kenapa tertarik bekerja di bidang yang tak sesuai latar belakang pendidikan?
Lucunya, saat interview di Astra International, dengan idealisme mahasiswa yang baru lulus, saya mau bekerja di bidang yang sesuai dengan latar belakang pendidikan saya. Maka waktu itu saya bertanya, apakah di Astra ada perusahaan kayu? Mereka bilang ada, yaitu Sumalindo. Makanya saya waktu itu mendaftar di Sumalindo. Tapi ternyata saya ditempatkan di kantor pusat.
Saya biasa mengolah hutan. Jadi, lagi-lagi ini tantangan baru. Setelah masuk Adira, saya pun harus belajar membangun perusahaan baru ini di tengah ketatnya persaingan dengan perusahaan sejenis yang sudah lebih mapan di industri asuransi. Pengalaman saya di manajemen sebelumnya semakin dimatangkan di sini.
Anda tidak takut bersaing dengan perusahaan-perusahaan raksasa?
Merintis perusahaan baru untuk bersaing dengan perusahan besar, bagi saya, sangat menantang. Justru di sanalah tantangan utamanya. Jadi, bagaimana bayi kecil bisa mengalahkan raksasa. Untuk itu, kami harus menonjolkan sisi unik Adira, yakni kekuatannya di sektor otomotif.
Karena kompetensi Adira sebetulnya ada di otomotif, maka itu yang kami gali. Adira Insurance menjadi spesialis asuransi kendaraan bermotor saja, tidak perlu memikirkan yang lain-lain. Di Indonesia kan belum ada asuransi yang menyatakan 'saya yang pertama kali di bidang ini'. Kalau asuransi mobil atau sepeda motor, Adira jagonya. Untuk fokus ke sana, resources kami tidak perlu banyak karena difokuskan untuk satu produk.
Jika pada awalnya saja sudah banyak anak usaha maka akan membutuhkan lebih banyak sumber daya manusia (SDM). Waktu itu, Adira merupakan perusahaan yang baru berjalan, dengan kekuatan di bidang otomotif, sehingga ini menjadi selaras.
Tapi akhirnya Adira juga terjun ke bisnis lain?
Visi Adira Insurance pada waktu itu adalah menjadi perusahaan asuransi spesialis di kendaraan bermotor. Adira yang pertama. Kami memang memfokuskan semua sistem, SDM, dan jaringan untuk melayani segmen yang sudah tajam. Kalau yang lain kan melebar. Kami kecil tapi tajam, semua energi ditumpahkan di sana.
Setelah Bank Danamon Tbk masuk sebagai investor dan mengambil mayoritas saham, barulah Adira mengembangkan sayap ke bisnis lain meski dengan limit yang belum terlalu besar karena masih perlu pengembangan infrastruktur dan SDM.
Sekarang portofolio kami sudah balance dan kami tidak cuma melayani kendaraan bermotor. Adira sudah seperti gajah-gajah yang lain. Kami sudah menjadi gajah itu sendiri.
Anda punya gaya kepemimpinan seperti apa?
Untuk membangun bayi kecil ini, saya menganut gaya kepemimpinan yang berdasarkan pepatah Jawa, yaitu Tut Wuri Handayani, Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso (dari belakang harus memberikan dorongan, di tengah harus menciptakan prakarsa dan ide, di depan harus memberikan contoh yang baik).
Menjadi pemimpin harus bisa menentukan arah dan menjadi panutan. Barulah ketika organisasi sudah tumbuh berkembang, partisipasi karyawan dimulai. Di Adira Insurance, partisipasi karyawan mulai didorong. Itu dapat terlihat pada struktur organisasi di mana bisnisnya dibagi menjadi dua, retail dan corporate. Masing-masing kepalanya harus bisa mengembangkan sendiri unit usahanya.
Ketika sudah mencapai titik kedewasaan, saya sebagai leader tinggal menuntun mereka yang harus punya inisiatif untuk maju. Masing-masing direktur harus punya arah untuk mengembangkan sendiri.
Tetapi gaya kepemimpinan saya tergantung situasi yang dihadapi. Misalnya dalam bisnis asuransi, yang paling penting adalah SDM. Apalagi asuransi tidak memiliki produk langsung, selain kertas dan janji, sehingga harus ada pengembangan pengetahuan, skill, dan leadership. Tapi tidak cukup dengan itu, karyawan juga harus memiliki kemauan.
Tugas pimpinan adalah bagaimana memotivasi hal itu supaya mau melakukan. Ada yang mau melakukan, tapi tidak tahu caranya. Maka mereka dilatih. Namun, ada yang sudah mengerti, tapi tidak mau melakukan. Sebagai leader, kami harus imbang, harus mengisi dengan pengetahuan dan memotivasi agar mereka bisa mengerjakan dengan baik.
Target Adira Insurance ke depan?
Setelah dua tahun ditetapkan sebagai the Most Admire Insurance versi Majalah Tempo, Adira Insurance kini harus memiliki impian baru. Ke depan, saya ingin Adira Insurance terpilih, di mana setiap rumah tangga memiliki satu polis asuransi Adira Insurance.
Filosofi hidup Anda?
Saya ingin membuat orang bahagia dengan karya saya, tentunya yang positif. Di setiap pekerjaan, saya selalu mempertimbangkan hasilnya terhadap kebahagian orang lain. Kalau dia berbahagia dengan kehadiran saya, saya sudah merasa bahagia. Jadi, setiap bekerja, saya memikirkan apakah hasilnya membahagiakan orang atau tidak. Tapi tidak "asal bapak senang".
Cara Anda mengatasi masalah?
Pasti ada saja masalah yang mengadang. Tapi saya harus tetap positif dan melihat bahwa hambatan merupakan sebuah dinamika. Di manapun seseorang bekerja pasti ada dinamika. Salah satu tujuan hidup adalah mengatasi masalah.
Salah satu hambatan dalam menjalankan perusahaan ini adalah mengubah pola pikir. Karyawan yang terbiasa dengan ritel dan fokus pada kendaraan bermotor harus bisa di bidang lain, seperti properti. Awalnya kebanyakan di sini tidak percaya diri menghadapi klien dengan unit usaha baru Adira.
Selain itu, perubahan kondisi ekonomi seperti krisis global juga menjadi tantangan tersendiri bagi kami untuk mencarikan solusi atau menghindar dari masalah. Kalau kita sudah tidak menghadapi masalah, jangan-jangan kita sudah tidak hidup di dunia. Yang penting, bagaimana mengatasinya. Tantangan tidak boleh membunuh, tetapi justru menghidupkan.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
Politik-Hukum Terkini: Polemik Film hingga Judi Online
PM China Li Qiang Temui Sederet CEO AS, Siapa Saja?
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Politik-Hukum Terkini: Polemik Film hingga Judi Online




