Sosialiasi, Kemristek Bakal Bentuk Majelis Pertimbangan Tenaga Nuklir

Kamis, 28 Agustus 2014 | 15:53 WIB
AR
B
Penulis: Ari Supriyanti Rikin | Editor: B1
Ilustrasi reaktor nuklir
Ilustrasi reaktor nuklir (Istimewa)

Jakarta - Kementerian Riset dan Teknologi (Kemristek) akan membentuk Majelis Pertimbangan Tenaga Nuklir (MPTN). Anggota majelis ini terdiri atas tujuh orang yang berisi para pakar, akademisi, dan tokoh masyarakat. Lembaga yang bersifat independen ini rencananya berada di bawah naungan presiden yang akan memberi pertimbangan terkait pemanfaatan teknologi nuklir di Indonesia.

Asisten Deputi Iptek Masyarakat Kemristek Sadyatmo mengatakan, dalam waktu dekat akan dibentuk panitia seleksi, lalu dalam tiga hingga enam bulan ke depan MPTN akan terbentuk.

Sosialisasi MPTN di hadapan para perwakilan akademisi, mahasiswa dan tokoh masyarakat ini dilakukan di Hotel Jayakarta, Yogyakarta, Kamis (28/8).

Hadir pula dalam sosialisasi ini Pakar Teknologi Limbah Nuklir, Jurusan Teknik Fisika Universitas Gajah Mada Susetyo Hario Putro dan Kepala Pusat Sains dan Teknologi Akselerator Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) Susilo Widodo.

"Keberadaaan majelis ini diharapkan bisa memberikan pertimbangan pada presiden terkait pengembangan teknologi nuklir," kata Sadyatmo.

Ia menambahkan teknologi nuklir sudah dimanfaatkan di berbagai bidang seperti pangan, kesehatan, dan obat-obatan. Salah satunya adalah beras Sidenuk sebagai salah satu beras unggulan dari hasil sentuhan teknologi nuklir.

"Nuklir bukan hanya Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) saja. Beras Sidenuk pun hasilnya bagus. Ini bentuk pengembangan bibit beras dengan teknologi nuklir. Selain itu teknologi ini banyak juga dipakai di bidang pengawetan makanan dan pengobatan," ungkapnya.

Meskipun demikian, pemanfaatan teknologi nuklir di bidang pangan dan kesehatan tidak banyak menimbulkan pro-kontra di masyarakat. Sebaliknya, rencana pembangunan PLTN sampai saat ini masih belum bisa terealisasi.

Menurut Sadyatmo, tidak mudah untuk membangun PLTN selain dibutuhkan kesiapan sumber daya manusia yang andal serta anggaran yang tidak sedikit. Indonesia juga dihadapkan pada aturan regulasi yang ditetapkan oleh Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA).

Susilo juga berpendapat, kesiapan Indonesia untuk membangun pembangkit listrik dari tenaga nuklir melampaui kemajuan yang cukup pesat. Namun sayangnya, tidak diikuti keseriusan pemerintah dalam mendorong percepatan pembangunan PLTN.

"Vietnam saja sudah ada program membangun enam PLTN. Sudah mereka rencanakan, desain sudah ada prosedur sudah dipenuhi. Padahal secara kesiapan infrastruktur, kita lebih maju dari mereka," ujarnya.

Menurut Susilo, kesiapan Indonesia dalam membangun reaktor nuklir saat ini sudah memasuki tahap kedua. Sedangkan untuk menuju tahap ketiga dan keempat pemerintah perlu melengkapi regulasi terkait jaminan mutu dan standardisasi.

Sementara itu Pengamat Nuklir UGM, Susetyo, mengatakan pengembangan teknologi nuklir di Indonesia kuncinya terletak pada edukasi. Menurutnya selama ini masyarakat belum diedukasi secara lebih baik terkait pengenalan teknologi nuklir.

"Kami lihat di kurikulum di sekolah dasar hingga perguruan tinggi, minim sekali dengan teknologi, berbeda jauh dengan negara maju yang sudah mengenalkan nuklir sejak SD," ucapnya.

Ia menambahkan, sosialisasi, pengembangan dan pemanfaatan teknologi nuklir tidak cukup hanya lewat media internet karena tidak semua masyarakat bisa menjangkau. Susetyo mengusulkan agar pemerintah lebih menekankan pada pengembangan kurikulum di sekolah.

"Edukasi dengan masyarakat mulai dari bawah, pemahaman tentang nuklir jauh akan lebih baik. Selama ini kita hanya mengenal nuklir dari pelajaran sejarah, bom atom di Hiroshima dan Nagasaki, sehingga ketakutan yang muncul," kata Susetyo.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon