Sritex Siapkan US$ 100 Juta Masuk Bisnis Ritel

Rabu, 3 Desember 2014 | 11:54 WIB
AT
FB
Penulis: Antonia Timmerman | Editor: FMB
Sejumlah pekerja menyelesaikan pesanan pakaian  di pabrik tekstil Sritex, Sukoharjo, Jawa Tengah
Sejumlah pekerja menyelesaikan pesanan pakaian di pabrik tekstil Sritex, Sukoharjo, Jawa Tengah (Jakarta Globe/Jakarta Globe)

Jakarta – Perusahaan tekstil dan garmen terbesar Indonesia, PT Sri Rejeki Isman Tbk (SRIL), berencana melakukan ekspansi ke bisnis ritel. Perseroan siap mengucurkan dana investasi sebesar US$ 50 – 100 juta atau setara Rp 600 miliar hingga Rp 1,2 triliun.

Sesuai rencana, pengembangan bisnis ritel akan dilakukan secara bertahap dalam tiga tahun mendatang. Perseroan akan mengakuisisi merek-merek pakaian jadi global maupun lokal, serta mengembangkan brand milik sendiri. Selain itu, perseroan juga akan membangun toko-toko ritel.

Direktur Utama Sritex Iwan Setiawan Lukminto menegaskan, pihaknya bertekad dapat menjadi pemasok merek pakaian untuk pasar dunia pada 2017. Adapun kontribusi sektor ritel terhadap pendapatan Sritex diperkirakan cukup besar.

"Jika semua bisa berjalan lancar, kontribusi pendapatan dari bisnis ritel diharapkan mencapai Rp 2 triliun. Hal ini ditargetkan bisa terealisasi dalam tiga tahun," kata Lukminto di sela paparan publik Sritex, Selasa (2/12).

Dengan merambah bisnis ritel, Sritex menargetkan dapat menggenjot laba bersih melalui peningkatan produk bernilai tambah. Pada saat yang sama, Sritex berharap bisa menjadi perusahaan tekstil dan garmen yang terintegerasi dari hulu ke hilir.

Strategi penguatan bisnis Sritex secara menyeluruh, yakni dari kegiatan usaha hulu (upstream) sampai ke hilir (downstream), akan dilakukan secara jangka panjang. Hal ini juga dilakukan dalam rangka mengamankan bahan baku benang, antara lain rayon, kapas, dan polyster.

Saat ini, pergerakan Sritex di sektor hulu sudah dimulai dengan melakukan riset pengembangan Hutan Tanaman Industri (HTI). Iwan mengatakan, pihaknya telah mengumpulkan peneliti terbaik dari universitas-universitas dalam negeri untuk melakukan riset penanaman pohon eukaliptus, salah satu sumber bahan baku benang.

"Kami harap studi kelayakan untuk HTI sudah dapat rampung pada 2015. Saat ini, kami sedang mempelajari sejumlah lokasi di Sumatera dan Kalimantan," kata Iwan.

Jika berhasil, penamanan pohon eukaliptus diperkirakan bisa mulai dilakukan pada 2017. Adapun target penambahan lahan diperkirakan mencapai 10 ribu ha per tahun.

Dengan begitu, kepemilikan atas hutan eukaliptus dalam delapan hingga sepuluh tahun mendatang ditargetkan mencapai 50 ribu ha. Pada saat itu, bisnis bahan baku atau raw material diharapkan sudah cukup besar untuk dapat menampung hingga 100 ribu pekerja.

Selama periode 2014 – 2016, perusahaan yang dikendalikan keluarga Lukminto tersebut akan mengucurkan dana investasi sekitar US$ 245 juta. Sesuai rencana, dana belanja modal (capital expenditure/capex) akan digunakan untuk meningkatkan kapasitas produksi.

Masing-masing kapasitas produksi benang dan kain diharapkan meningkat menjadi 654 ribu bal dan 240 juta yards pada 2016. Sementara, kapasitas produksi garmen ditargetkan naik menjdi 30 juta dari saat ini 12 juta.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon