Curahan Hati Vicky Irama Tentang Buah Hatinya

Jumat, 6 Januari 2012 | 21:24 WIB
YR
B
Penulis: Yanuar Rahman/ATE | Editor: B1
Vicky Irama
Vicky Irama (antarafoto)
Kesedihan masih nampak di wajah Vicky Irama, saat ditemui usai pemakaman Tivla Ahya Zulfikar, Rabu (4/1).

Mata putera sang raja dangdut, Rhoma Irama itu masih sembab dan berkaca-kaca. Meski hatinya tegar, namun Vicky tak kuasa menahan air mata saat jasad putra bungsunya itu masuk ke liang lahat.

Tivla Ahya Zulfikar menghembuskan nafasnya yang terakhir, Selasa (3/1) saat menjalani perawatan di Rumah Sakit Hermina dalam usia satu tahun tiga bulan. Ahya merupakan anak ketiga pasangan Vicky Irama dan Rika Herman. Ahya meninggal lantaran kelainan yang dideritanya sejak lahir, yakni tidak memiliki saluran pencernaan.

Sebenarnya Vicky dan keluarga telah berusaha untuk membuat Ahya kembali normal seperti anak-anak seusianya. Tanggal 7 Januari kemarin, rencananya Ahya akan menjalani satu kali lagi operasi. Namun rupanya, Tuhan berkata lain. Di usianya yang masih belia, Ahya harus mengahadap Sang Pencipta.

Sepenggal kenangan bersama Ahya, kini hanya bisa dirasakan Vicky, mengisi hari-harinya. Ia hanya bisa menghela nafas panjang, jika mengingat hari-hari terakhirnya bersama buah hatinya itu. Sebuah penyesalan juga diungkapkan Vicky, saat mengingat anak ketiganya tersebut.

Berikut petikan wawancara Vicky Irama dengan Yanuar Rahman, reporter Beritasatu.com.

Firasat apa yang dirasakan sebelum Ahya meninggal?
Semua itu tiba-tiba datangnya. Saya sebagai orang tua memprediksi Ahya sakit karena cuaca, karena cuaca saat itu memang lagi nggak  bagus. Pikir saya dia cuma sakit biasa kayak demam atau batuk-batuk biasa, tapi pas sudah dibawa ke dokter penurunannya drastis, cuma dalam hitungan jam. Saya nggak nyangka, sudah kena infeksi macam-macam. Dokter juga bingung kenapa bisa secepat itu serangannya, padahal tadinya mau dilihat dulu satu sampai dua hari perkembangannya.

Apakah lantaran penanganannya yang terlambat?
Mungkin kecolongan pada pihak kami sebagai orang tua. Begitu dibawa ke dokter, tindakan dokter sudah sangat cepat. Masalahnya, tindakan dari pihak orang tua agak lambat. Karena juga saya pikir kan demam atau pilek itu kan biasa aja, apalagi panasnya sempat turun juga. Saya bilang sama istri saya, lihat tiga hari kedepan dulu, kalau makin parah baru dibawa ke dokter

Apa sebenarnya yang menyebabkan kondisi Ahya sampai drop?
Kalau dokter kesimpulannya berawal dari panas tinggi sehingga mengalami gangguan ke otak. Saking panasnya, otaknya terkena infeksi.

Bagaimana reaksi istri saat mengetahui nyawa Ahya tidak dapat diselematkan?
Istri saya sangat shock. Jangankan dia, saya saja bapaknya nggak berhenti nangis. Saya nggak nyangka bisa seperti ini. Yang kita lihat cuma sakit biasa-biasa aja, tiba-tiba bisa parah

Kenangan apa saja yang masih membekas dari sosok Ahya?
Almarhum meninggal tanggal 3 Januari. Tanggal 1 Januari Ahya lagi dipakein baju sama mamanya. Dia nggak mau, maunya dipakein sama saya sambil nunjuk terus manggil-manggil 'papa.papa.' Saya sempet kaget karena Ahya tumben mau dipakein baju sama saya. Waktu saya pakein baju, Ahya diam saja. Dia nggak mau digendong sama mamanya, masih nunjuk saya, maunya sama saya. Sampai dikasih susu maunya sama saya. Seumur-umur, mulai dari lahir sampai meninggal baru kali itu saya yang makein baju buat almarhum, gendong dan kasih susu atas permintaan dia.

(mata Vicky berkaca-kaca. Ia terdiam sejenak, kemudian melanjutkan pembicaraannya)

Waktu dia meninggal tanggal 3 Januari kemarin, saya berpikir mungkin itu permintaan terakhir dia kepada saya.

Saya juga ada sedikit menyesal. Tanggal 2 Januari pas malam hari, saya sempet marah sama dia karena dia rewel belum mau tidur. Masih minta air putih, selalu nunjuk ke air. Mungkin karena tubuhnya lagi panas di dalam, jadi dia minta air. Saat itu dia sudah menunjukkan kegelisahan. Akhirnya kata istri saya, sebaiknya dibawa ke dokter saja pagi harinya. Dan perjalanan menuju ke rumah sakit, Ahya masih sempat bercanda sama mamanya.

Apa nasehat ayah (Rhoma Irama) saat mengetahui Ahya sudah tidak ada?
Papa bilang ke saya, memang di dunia kita berpisah, tapi itu tabungan buat kamu yang nanti bakal mencari kamu di akhirat, dan yang namanya manusia hidup pasti harus berpisah. Support dari papa sangat besar dan membuat saya merasa lebih ikhlas untuk melepaskan Ahya

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon