Ada 804 Kasus Suspek Campak di Cianjur, Warga Diminta Waspada
Sabtu, 4 April 2026 | 16:44 WIB
Cianjur, Beritasatu.com - Dinas Kesehatan (Dinkes)Kabupaten Cianjur mencatat sebanyak 804 kasus suspek campak berdasarkan data surveilans melalui Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR).
Meski tren kasus mulai menurun dalam beberapa pekan terakhir, penyakit ini masih dinilai sebagai ancaman serius karena berpotensi menimbulkan dampak fatal.
Kepala Dinkes Cianjur I Made Setiawan mengimbau masyarakat untuk tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap penyebaran campak.
“Kewaspadaan terhadap campak tidak semata-mata dipicu oleh adanya kasus kematian tenaga kesehatan, tetapi karena penyakit ini nyata dan dapat berdampak serius bagi siapa pun,” ujarnya, Jumat (3/4/2026).
Ia menegaskan, upaya pencegahan tidak hanya menjadi tanggung jawab tenaga kesehatan, tetapi juga seluruh lapisan masyarakat.
“Mari bersama-sama melakukan pencegahan, pengendalian, serta penanganan kasus campak secara optimal, khususnya di wilayah Cianjur,” katanya.
Menurut I Made, peningkatan kasus campak juga terjadi di sejumlah daerah lain di Jawa Barat sejak awal 2026. Namun, tren mulai menurun memasuki minggu ke-11 dan ke-12.
Pada puncaknya, kasus campak di Cianjur mencapai 94–100 kasus per minggu. Saat ini, jumlah tersebut turun menjadi sekitar 34 kasus pada minggu ke-11.
Meski mengalami penurunan, kondisi ini tetap menjadi peringatan bagi semua pihak untuk memperkuat langkah pencegahan.
“Campak bisa berdampak fatal, sehingga perlu upaya maksimal dari semua pihak,” tegasnya.
Sebagai langkah lanjutan, Dinkes Cianjur telah menggelar rapat koordinasi secara daring dengan seluruh puskesmas. Kegiatan ini melibatkan koordinator imunisasi, kepala puskesmas, serta tenaga promosi kesehatan untuk memperkuat strategi pencegahan.
Salah satu fokus utama adalah peningkatan cakupan imunisasi yang dinilai masih menghadapi tantangan, terutama akibat kurangnya pemahaman masyarakat.
“Edukasi harus lebih menyentuh agar masyarakat memahami pentingnya imunisasi,” jelasnya.
Selain campak, program imunisasi juga ditujukan untuk mencegah penyakit lain dalam kelompok Penyakit yang Dapat Dicegah dengan Imunisasi (PD3I), seperti tuberkulosis.
I Made juga mengingatkan tenaga kesehatan agar tetap disiplin menjalankan standar operasional prosedur (SOP), termasuk penggunaan alat pelindung diri (APD).
Ia menekankan pentingnya penguatan sistem surveilans dan penyelidikan epidemiologi berbasis masyarakat agar kasus dapat terdeteksi lebih dini dan penularan segera diputus.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Piala Dunia 2026: 2 Gol Undav Bawa Jerman Comeback Lawan Pantai Gading




