ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Cirebon Masih KLB Campak, 2 Pasien Meninggal Dunia

Jumat, 17 April 2026 | 15:35 WIB
DA
RA
Penulis: Dede Adhitama | Editor: RP
 Perawatan pasien campak di RSUD Gunung Jati Cirebon.
Perawatan pasien campak di RSUD Gunung Jati Cirebon. (Beritasatu.com/Dede Adhitama)

Cirebon, Beritasatu.com – Kasus campak di Kota Cirebon hingga pertengahan April 2026 masih tergolong tinggi hingga ditetapkan status kejadian luar biasa (KLB). Bahkan, dua pasien dilaporkan meninggal dunia saat menjalani perawatan di rumah sakit rujukan.

Dinas Kesehatan Cirebon mencatat lonjakan kasus mulai terjadi sejak akhir Desember 2025 atau pekan ke-52. Hingga April 2026, jumlah kasus dinilai belum menunjukkan penurunan yang signifikan.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Cirebon, Siti Maria Listiawati, mengatakan penetapan status KLB telah melalui kajian epidemiologi pada 20 Februari 2026.

ADVERTISEMENT

“Kasus campak di Kota Cirebon masih terus berjalan. Tahun 2025 tercatat 238 kasus, sementara hingga minggu ke-13 tahun 2026 atau per 4 April sudah mencapai 150 kasus. Artinya masih cukup tinggi,” ujar Siti Maria, Jumat (17/4/2026). 

Sementara itu, RSUD Gunung Jati sebagai rumah sakit rujukan di wilayah Cirebon mencatat lonjakan pasien dalam tiga bulan terakhir. Sedikitnya 50 pasien campak menjalani rawat inap sejak Januari hingga akhir Maret 2026, dengan mayoritas merupakan balita.

Direktur Utama RSUD Gunung Jati, Katibi, menjelaskan sebagian besar pasien masuk melalui instalasi gawat darurat (IGD), yang menunjukkan tingkat keparahan kasus cukup tinggi.

“Kalau yang masuk ke rumah sakit rujukan saja sudah sebanyak itu, kemungkinan di puskesmas atau masyarakat jumlahnya lebih banyak. Kami menyiapkan ruang isolasi di tiap gedung untuk meminimalkan penularan,” jelasnya.

Dokter spesialis anak di RSUD Gunung Jati, Suci Saptyuni Permadi, mengungkapkan sebagian besar pasien mengalami komplikasi berat seperti pneumonia atau radang paru-paru. Kondisi tersebut umumnya terjadi pada anak yang belum mendapatkan imunisasi campak atau imunisasinya tidak lengkap.

Dalam beberapa bulan terakhir, terdapat empat pasien yang harus dirawat di ruang intensif, dan dua di antaranya meninggal dunia. Kedua pasien meninggal tercatat memiliki kondisi penyakit penyerta, seperti gizi buruk dan kelainan jantung bawaan.

“Pasien yang meninggal memang memiliki faktor risiko tambahan dan imunisasinya tidak lengkap,” ungkap Dokter Suci. 

Pemerintah Kota Cirebon melalui Dinas Kesehatan terus berupaya menekan angka kasus campak dengan meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat serta memperluas cakupan imunisasi guna mencegah penyebaran lebih lanjut.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

KLB Campak, Dinas Kesehatan Pati Genjot Vaksinasi

KLB Campak, Dinas Kesehatan Pati Genjot Vaksinasi

JAWA TENGAH
Klaten Tetapkan KLB Campak, Vaksinasi Digencarkan

Klaten Tetapkan KLB Campak, Vaksinasi Digencarkan

JAWA TENGAH
Yogyakarta Waspada Campak, Anggota DPR Soroti Cakupan Imunisasi

Yogyakarta Waspada Campak, Anggota DPR Soroti Cakupan Imunisasi

JAWA TENGAH
11 Provinsi Alami KLB, Ini yang Harus Diketahui Soal Penyakit Campak

11 Provinsi Alami KLB, Ini yang Harus Diketahui Soal Penyakit Campak

LIFESTYLE
Kemenkes Beberkan Tantangan Penanggulangan KLB Campak di Indonesia

Kemenkes Beberkan Tantangan Penanggulangan KLB Campak di Indonesia

NASIONAL
KLB Campak Sumenep: 20 Anak Meninggal, 100 Orang Dirawat Intensif

KLB Campak Sumenep: 20 Anak Meninggal, 100 Orang Dirawat Intensif

JAWA TIMUR

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon