Masyarakat Perkotaan Perlu Hidup Harmonis dengan Alam

Rabu, 11 November 2015 | 18:07 WIB
AR
FH
Penulis: Ari Supriyanti Rikin | Editor: FER
Ilustrasi Ruang Terbuka Hijau (RTH)
Ilustrasi Ruang Terbuka Hijau (RTH) (Antara/M Agung Rajasa)

Jakarta - Permasalahan biologi di perkotaan ternyata sangat kompleks. Keberadaan ideal ruang terbuka hijau (RTH), sampah dan keanekaragam hayati (kehati) di perkotaan masih perlu dipecahkan agar masyarakat perkotaan bisa hidup harmonis dengan alam.

Saat ini, RTH di DKI Jakarta saja misalnya baru sekitar 13 persen dari jumlah ideal 30 persen. Untuk mempebesar RTH itu juga dipandang masalah besar karena haampir semua tempat lahan ditempati manusia.

Wakil Rektor Bidang Penelitian, Pengabdian Kepada Masyarakat dan Kerja Sama Universitas Nasional (Unas), Prof Dr Ernawati Sinaga, MS., Apt mengatakan, fungsi RTH adalah untuk resapan air. Jika menanam pohon di bangunan tinggi itu bukan RTH karena bukan resapan air.

"RTH untuk resapan air kalau tidak ya akan banjir terus. Selain itu untuk penambahan oksigen dan keindahan. Kalau menanam pohon bukan di tanah hanya untuk tambah oksigen dan keindahaan. Bisa juga untuk kesehatan jiwa untuk menghindari gangguan jiwa dan stress," katanya di sela-sela seminar nasional bertajuk Biologi Perkotaan : Biologi untuk Kehidupan Harmonis Manusia dan Alam di Kampus Universitas Nasional, Jakarta, Rabu (11/11).

Menurut pakar kehati Universitas Nasional ini untuk meluaskan RTH sepertinya sulit. Namun masyarakat perlu diajak untuk menanam meski tidak langsung di tanah (vertikal gardening).

"Pemerintah juga harus mempermudah upaya itu di tengah masyarakat. Misalnya dipermudah membuang sampah, dipermudah membuat vertikal gardening," ujarnya.

Caranya bisa dengan pembentukan kelompok dan komunitas kecil. Pemerintah bisa mendukung dalam kebijakan dan pendanaan. Misalnya untuk pengolahan sampah, membangun insenerator untuk membakar sampah minimal di setiap rukun warga.

"Masalah krusial di perkotaan kaitannya dengan biologi banyak sekali di antaranya sampah, kalau bisa dari komunitas kecil-kecil itu keluar sampah zero, diolah di situ juga per rukun warga buat pengolahan sampah sendiri," tuturnya.

Sebab menurutnya sampah berdampak besar dalam kehidupan perkotaan yakni mengganggu kebersihan lingkungan, penyakit, banjir dan kemacetan.

Jika dikaitan dengan biologi, lanjut Ernawati patut pula dipikirkan upaya mengurai kemacetan tanpa merusak lingkungan. Kalau menambah jumlah jalan ke samping akan menghabiskan lahan dan susah pula bebaskan lahan.

Selain itu, mahluk hidup yang kelihatan dan tidak kelihatan seperti mikroba juga akan habis. Padahal penjagaan lingkungan banyak yang dilakukan mikroba-mikroba itu.

"Manusia tidak sanggup mengolah sampah sendiri tanpa bantuan mikroba-mikroba," ujarnya.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon