Dokter Ada yang Terpelajar, Ada yang Kurang Ajar
Jumat, 5 Februari 2016 | 05:24 WIB
Jakarta - Praktik gratifikasi di kalangan dokter sudah berjalan puluhan tahun dan bisa memberikan citra buruk terhadap profesi mulia ini menjadi tak lebih sebagai "agen penjualan" pabrik obat.
Hal tersebut dikatakan oleh dr Marius Widjajarta, Direktur Yayasan Pemberdayaan Konsumen Kesehatan Indonesia (YPKKI), dalam perbincangan di studio Beritasatu News Channel, Kamis (4/2).
"Dokter ada yang terpelajar ada yang kurang ajar. Di semua profesi pasti ada yang hitam ada yang putih," kata Marius dalam program Lunch Talk.
Pria yang sudah lebih dari 30 tahun berkecimpung di dunia medis ini mengimbau agar praktik gratifikasi perusahaan obat kepada dokter segera dihentikan.
"Takutnya dokter yang benar-benar mengabdi di daerah terpencil kena imbasnya, pasien bilang 'kamu itu cuma agen pabrik obat'," paparnya.
Marius mengatakan sejak dia masih mahasiswa tingkat I di awal dekade 1970an, dia sudah mengenal ada praktik semacam ini.
Dengan margin keuntungan penjualan obat yang sangat besar, perusahaan farmasi tak segan menawarkan, atau memberi semua yang diminta dokter seperti biaya seminar, cicilan rumah, cicilan mobil, sampai tiket wisata keluarga.
Bahkan bukan cuma suami atau istri dokter yang ikut dibiayai perjalanannya, baby sitter pun ikut ditanggung, ujarnya.
"Yang tidak pernah ditawarkan ke dokter adalah tiket ke akhirat, karena itu one-way ticket," ketusnya.
"Dia ini nggak sadar kalau dia sebenarnya dibiayai pasien."
Sebagai solusinya, Marius menyarankan agar harga obat generik bermerk dibatasi marginnya, misalnya tiga kali dari ketentuan laba yang ditetapkan pemerintah.
Obat generik bermerk inilah yang menurut Marius menjadi tambang emas pabrik obat karena mereka bisa menetapkan margin sangat besar bahkan hingga mencapai 800%, sehingga dana untuk menyuap dokter adalah perkara enteng.
Sedangkan untuk obat generik biasa, sudah diatur margin maksimal sekitar 40%.
"Untuk menyelamatkan dokter, Kementerian Kesehatan harus membuat regulasi harga generik bermerk dikunci, seperti tiga kali (profit margin obat generik biasa), oke selesai," kata Marius.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
B-FILES
Harga yang Tak Terlihat, Masa Depan yang Terancam
Rio Abdurachman P
Hari Fitri Benahi Diri: Ujian Integritas di Tengah Bayang Korupsi
Muhammad Ishar Helmi
Prabowo Sambut 3 Jenazah Prajurit TNI di Bandara Soekarno-Hatta




