PKL Marak, Lalu Lintas di Cikini dan Jatinegara Makin Semrawut

Rabu, 29 Juni 2016 | 19:47 WIB
LT
IC
Penulis: Lenny Tristia Tambun | Editor: CAH
Ilustrasi pedagang kaki lima
Ilustrasi pedagang kaki lima (Istimewa)

Jakarta - Maraknya pedagang kaki lima (PKL) di kawasan Cikini, Jakarta Pusat dan Jatinegara, Jakarta Timur yang turun ke jalan dan trotoar pedestrian, tidak hanya membuat Cikini terlihat kumuh, tetapi juga mengakibatkan kemacetan dan kesemrawutan.

Pejalan kaki dan pengendara bermotor yang melintasi kawasan tersebut mengeluhkan kondisi tersebut. Seperti yang terlihat di sekitar Stasiun Cikini dan Pasar Jatinegara. Kemacetan dan kesemrawutan lalu lintas di kedua kawasan tersebut disebabkan PKL dan pedagang parcel lebaran yang mulai turun ke jalan untuk menjajakan dagangannya.

Eka (37), pengendara motor yang biasa melintasi kawasan tersebut merasa kesal dengan kondisi Cikini yang semakin semrawut. Ia mempertanyakan keberadaan Satpol PP sebagai penegak aturan daerah tentang Ketertiban Umum (Tibum) yaitu Perda No. 8 tahun 2007.

"Kawasan Stasiun Cikini makin semrawut karena PKL dan pedagang parcel turun ke jalan raya. Satpol PP kayaknya nggak berani menertibkan PKL. Katanya penegak aturan daerah," kata Eka, Rabu (29/6).

Tidak hanya itu, kondisi yang sama juga terjadi di sekitar Pasar Jatinegara. Eka yang rumahnya di Rawamangun ini, juga jengkel dengan lalu lintas di kawasan Pasar Jatinegara.

"Sepertinya Pak Ahok harus cek langsung kesemrawutan di Cikini dan Pasar Jatinegara deh. Mana Kasatpol PP-nya? Nggak pernah turun ke lapangan kali ya, makanya macet dan semrawut," tukasnya.

Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaha Purnama mengaku kecewa dengan kinerja Satpol PP DKI. Karena selama bulan Ramadan, PKL, termasuk pedagang parcel Lebaran marak berjualan di pinggir jalan di beberapa lokasi pusat perbelanjaan.

Akibatnya, Basuki pun merombak jajaran Satpol PP DKI, termasuk mengancam mencopot Kasatpol DKI dan Kasatpol PP Jakpus. Dan itu benar terjadi. Kasatpol PP Jakarta Pusat telah dicopot dari jabatannya baru-baru ini karena dinilai tak mampu membersihkan PKL di kawasan Tanah Abang. Walaupun telah dicopot, PKL di sejumlah kawasan tetap saja memenuhi jalan raya

"Masalah PKL di Tanah Abang itu bukan persoalan baru, seharusnya sudah bisa diantisipasi jauh-jauh hari. Masa mereka kembali berjualan. Itu terjadi karena ada celah kelengahan aparat. Kami akan evaluasi. Artinya kerja mereka tanpa perencanaan yang matang. Saya kecewa," kata Basuki.

Direktur eksekutif Gerakan Manisfestasi Rakyat, Sabam Manise mendukung langkah Basuki merombak jajaran Satpol PP DKI Jakarta. Karena dinilai belum mampu menertibkan keberadaan PKL yang justru semakin berani turun ke jalan selama bulan Ramadan ini.

Menurutnya, kondisi kemacetan dan kesemrawutan lalu lintas akibat keberadaan PKL menjadi bukti Kepala Satpol PP DKI tidak mampu menjalankan tugasnya.

"Kami minta Basuki konsisten mencopot pejabatnya yang terbukti tak mampu berkinerja baik. Dua pekan lalu, Basuki mengancam Kasatpol PP Jakpus dan Kasatpol PP DKI. Dan dia telah merealisasi ancamannya dengan mencopot Kasatpol PP Jakpus, namun Kasatpol PP DKI masih bertahan, walaupun kinerjanya sangat buruk," kata Sabam.

Diungkapkannya, lemahnya kinerja Satpol PP karena sebagian besar staf dan pejabat resah dengan kepemimpinan Kepala Satpol PP DKI. Berdasarkan pantauanya, situasi kerja sudah tidak kondusif, saling curiga, dan terjadi perpecahan di internal Satpol PP.

"Saya melihat, Kepala Satpol PP DKI terlalu arogan terhadap jajaran di bawahnya. Bekerja sama dengan instansi lain juga sulit. Lha gimana mau melakukan penertiban. Makanya saya heran, kenapa dia masih dipertahankan," ungkapnya.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon