Balon Gubernur DKI Independen Ini Ditolak KPU
Minggu, 7 Agustus 2016 | 18:43 WIB
Jakarta- Bakal calon (Balon) Gubernur DKI Jakarta, Jamaludin harus kecewa ketika datang di detik-detik terakhir penutupan penyerahan dukungan calon perseorangan di kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU) DKI Jakarta, Minggu (7/8). Jamaludin yang merupakan tokoh masyarakat Betawi ini datang seorang diri tanpa berkas dukungan yang seharusnya diserahkan sebelum batas akhir pukul 16.00 WIB, Minggu (7/8) tadi.
"Jam menunjukkan pukul 16.00. Sesuai peraturan KPU, penerimaan berkas calon perseorangan dimulai pukul 08.00-16.00 WIB maksimal berkas sudah sampai di ruangan ini. Kalau pukul 16.00 belum ada, maka penyerahan berkas dukungan calon perseorangan dinyatakan ditutup," ujar Ketua KPU Provinsi DKI Jakarta, Sumarno di Kantor KPU, Jalan Salemba Raya, Jakarta Pusat, Minggu (7/8).
Sumarno menghargai Jamaludin yang sudah berikhtiar dan berusaha mengejar ketertinggalan. Namun sesuai peraturan KPU, Sumarno tegas menutup penerimaan tepat di waktu yang sudah ditentukan. "Tapi mohon maaf karena sampai sekarang pasangan calonnya belum ada, berkas belum masuk dan tidak bisa disampaikan diterimanya, terpaksa kami tutup tanpa bisa mengadministrasikan pencalonan Bapak," katanya.
Sumarno mengatakan pihaknya memahami apa yang dirasakan Jamaludin. Namun di sisi lain KPU harus menegakkan peraturan sesuai sumpah dan jabatan para komisioner KPU dan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu). Apalagi sebelumnya KPU sudah berkoordinasi dengan Bawaslu bahwa sebelum pukul 16.00 seluruh berkas dan calon harus sudah diterima.
Meskipun sudah ditutup, Jamaludin yang akan maju bersama praktisi hukum Armen Rustam Effendy di Pemilihan Gubernur (Pilgub) DKI 2017, tak patah arang. Ia meminta kepada KPU DKI untuk tetap menerimanya. Jamal mengaku datang terlambat karena terjebak macet. "Saya harap Betawi bisa dikasih kesempatan," katanya.
Selama ini kata dia, belum ada Gubernur DKI Jakarta yang merupakan orang Betawi asli. Oleh karena itu dirinya mempersiapkan maju menjadi gubernur DKI dengan waktu singkat hanya tiga bulan. "Kenapa? Karena saya menunggu dari tokoh-tokoh Betawi lain yang lebih hebat dan punya kemampuan maju. Tapi rupanya anak Betawi belum punya kesempatan. Makanya saya beranikan diri untuk ikuti proses pilkada," katanya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
Politik-Hukum Terkini: Polemik Film hingga Judi Online
PM China Li Qiang Temui Sederet CEO AS, Siapa Saja?
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Politik-Hukum Terkini: Polemik Film hingga Judi Online




