Waspadai Ancaman Tetanus pada Tahap Tanggap Darurat di Sulteng

Jumat, 5 Oktober 2018 | 23:18 WIB
DM
AO
Penulis: Dina Manafe | Editor: AO
Warga melintas di jalanan yang dipenuhi puing dan reruntuhan bangunan pascatsunami yang dipicu gempa 7,7 SR di Palu, Sulawesi Tengah, 29 September 2018.
Warga melintas di jalanan yang dipenuhi puing dan reruntuhan bangunan pascatsunami yang dipicu gempa 7,7 SR di Palu, Sulawesi Tengah, 29 September 2018. (AFP/Muhammad Rifki)

Jakarta - Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan (Kemkes) Anung Sugihatono mengatakan, kondisi yang paling perlu diwaspadai dalam situasi tanggap darurat dalam bencana gempa, seperti yang terjadi saat ini di Sulawesi Tengah (Sulteng), adalah penyakit tetanus. Tetanus terjadi dipicu oleh lingkungan yang kurang kondusif dan berbagai keterbatasan yang ada.

"Tetanus menjadi satu ancaman yang cukup tinggi, paling rawan di masa tanggap darurat, karena sebagian besar rumah roboh, orang luka, perawatan luka yang belum ideal karena keterbatasan-keterbatasan yang ada," kata Anung dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Jumat (5/10).

Menurut Anung, sudah ada modal awal untuk mencegah penyakit ini, yaitu imunisasi DT yang sudah dilakukan. Yang dibutuhkan saat ini bukan lagi imunisasi, tetapi serum antitetanus untuk korban yang luka, termasuk para relawan. Penularan tetanus ke relawan berpotensi terjadi apabila mereka mengalami luka.

Anung menambahkan, gempa dan tsunami telah merusak sebagian besar fasilitas umum dan mencemari air bersih. Yang perlu diwaspadai dengan kondisi ini adalah ancaman infeksi saluran pencernaan dan diare. Selain itu, penyakit kolera juga menjadi ancaman.

Sampai saat ini Indonesia belum dinyatakan bebas kolera karena masih banyak fasilitas yang digunakan oleh masyarakat yang tidak higienis dan sudah tercemar kuman kolera.

Setelah masa tanggap darurat, lanjut Anung, yang perlu diwaspadai adalah penyakit infeksi saluran pernapasan atas, terutama pada balita. Ini terjadi karena pada saat melakukan evakuasi dan kemudian membersihkan puing-puing, akan ada kemungkinan debu yang cukup banyak.

Kemudian timbulnya penyakit-penyakit yang berkaitan dengan higiene sanitasi, seperti gatal, infeksi pada kulit, dan hal-hal lain termasuk infeksi pada mata juga perlu dihindari. Anung menjelaskan, bencana juga berdampak terhadap penurunan cakupan imunisasi di wilayah Sulteng. Ini dikarenakan tenaga kesehatan fokus pada evakuasi.

"Tentu banyak penyakit ini harus kita waspadai. Yang bisa kita lakukan adalah melakukan surveilance epidemiologi secara ketat," katanya.



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon