Wajar, Yusril Bersedia Jadi LawyerJokowi-Ma'ruf

Senin, 5 November 2018 | 21:10 WIB
YS
YD
Penulis: Yeremia Sukoyo | Editor: YUD
Ketua Umum Partai Bulan Bintang, Yusril Ihza Mahendra memberikan pernyataan kepada awak media di GOR Jakarta Utara, Minggu sore, 20 Mei 2018.
Ketua Umum Partai Bulan Bintang, Yusril Ihza Mahendra memberikan pernyataan kepada awak media di GOR Jakarta Utara, Minggu sore, 20 Mei 2018. (Suara Pembaruan/Carlos Roy Fajarta)

Jakarta - Kesediaan Yusril Ihza Mahendra menjadi kuasa hukum pasangan nomor urut 01 Jokowi - Ma'ruf Amin terbilang wajar. Namun sikap profesionalnya itu dianggap bisa berpotensi merugikan Partai Bulan Bintang (PBB) pada Pemilu legislatif 2019.

"Saya termasuk yang tidak terkejut dengan sikap Yusril. Saya kira itu menjadi pilihan dia yang paling realistis," kata Direktur Sinergi masyarakat untuk demokrasi Indonesia (Sigma), Said Salahudin, di Jakarta, Senin (5/11)

Menurutnya, sejak awal Yusril sebenarnya sudah berusaha menunjukkan sikap untuk mendukung Prabowo Subianto. Namun, kubu Prabowo sepertinya tidak menganggap Yusril sebagai faktor yang penting.

"Ketika PBB mengalami permasalahan dalam proses verifikasi parpol calon Peserta Pemilu, kelompok pendukung Prabowo menurut pengakuan Yusril kan cuek-cuek saja," ucap Dewan Pakar pada Pusat Konsultasi Hukum Pemilu itu.

Begitu pula pada saat dilakukan pembahasan mengenai calon pendamping Prabowo. Sosok Yusril dan partainya juga seolah dianggap tidak penting. Menurut Yusril, PBB kala itu sama sekali tidak diajak berdialog.

"Bahkan dalam perjalanannya kemudian saya dengar Yusril dan PBB juga seperti ditinggalkan oleh kubu pasangan nomot urut 02. Padahal Yusril dan PBB sebetulnya punya kecenderungan untuk mendukung pasangan Prabowo-Sandi. Gelagat politiknya menunjukan begitu," ungkapnya.

Dirinya meyakini, Yusril sudah bersikap dan berusaha menunjukan untuk mendukung. Tetapi jika pihak yang ingin didukung ternyata tidak responsif, bahkan seperti menyepelekan, maka yang akan terjadi sebaliknya.

"Bagaimana pun Yusril adalah seorang yang punya nama besar. Dia tentu perlu melindungi muruah atau kehormatan dirinya, termasuk juga partainya," ungkapnya.

Saat itulah, dirinya melihat kubu Jokowi yang lebih cermat melihat situasi untuk kemudian mendekati Yusril yang memiliki kelebihan di bidang hukum. "Mereka sangat jeli dalam melihat peluang. Maka disitulah muncul titik singgungnya," ucap Said.

Menyingkapi kondisi ini, diingatkan Said, kubu Prabowo seharusnya dapat belajar banyak. Jika tidak, maka akan muncul Yusril-Yusril lain yang tadinya berniat mendukung Prabowo, menjadi berbalik arah masuk ke kubu Jokowi.

"Jadi saya kira kubu Prabowo harus belajar betul dari kasus Yusril ini. Jika mereka terus merasa pintar sendiri, merasa hebat sendiri, merasa bisa sendiri, pelan tapi pasti mungkin saja akan muncul 'Yusril-yusril' yang lain," ucapnya.

Tetapi pada sisi yang lain, pilihan Yusril untuk membela pasangan Jokowi-Ma'ruf boleh jadi akan merugikan partai yang dipimpinnya. Hampir dapat dipastikan, mayoritas simpatisan PBB itu adalah pendukung militan Prabowo-Sandi.

Bahkan tidak sedikit caleg PBB yang berlatar belakang sebagai pengurus atau anggota dari ormas seperti FPI dan HTI yang boleh dibilang sangat alergi terhadap Jokowi.

"Ketika sebagai profesional Yusril memilih untuk membela Jokowi, para caleg dan pendukung PBB itu tentu akan kebingungan. Disatu sisi mereka mendukung Prabowo, tetapi disisi lain ketua umum mereka justru menjadi lawyer Jokowi," kata Said.

Dalam situasi yang demikian, caleg PBB yang mengandalkan dukungan dari pemilih yang pro pada Prabowo, tentu akan kesulitan untuk memperoleh suara di Pemilu legislatif.



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon