Racun-racun Itu Ada di Rumah

Senin, 11 Juni 2012 | 20:07 WIB
DF
B
Penulis: DPA/ Nadia Felicia | Editor: B1
Tanpa disadari, ada banyak racun yang membahayakan nyawa terdapat di dalam rumah.

Racun-racun berbahaya itu bisa tersembunyi di dalam zat-zat pembersih, tumbuhan berbahaya, di dalam lemari obat, lemari minuman, bahkan makanan yang sudah tidak segar.

Ruang gawat darurat seringkali menerima pasien-pasien yang mengalami masalah kesehatan akibat mengkonsumsi hal-hal berbahaya yang mereka dapatkan di rumah. Contoh, pernah ada ibu dengan masalah penglihatan berkumur menggunakan pembersih kuteks yang dikira obat kumur. Ada pula kejadian anak-anak mengunyah benda bulat yang dikira permen padahal obat keras milik orangtuanya yang tergeletak di meja.

"Ada banyak kasus berkait keracunan yang terjadi di rumah. Kasus-kasus ini terjadi setiap hari," kata Daniela Acquarone, petugas telepon pusat gawat darurat di Berlin, Jerman.

Peter Sefrin, salah satu anggota asosiasi dokter gawat darurat Jerman mengatakan, "Kalau mau lebih persis, tidak ada benda di rumah yang benar-benar aman. Setiap zat berpotensi menjadi barang beracun bila dikonsumsi dalam takaran tertentu, bahkan air putih sekalipun. Dalam kasus ekstrem, minum air putih terlalu banyak dalam waktu singkat bisa mengganggu level garam dalam tubuh dan bisa berakibat kematian."

Keracunan air putih adalah bagian kecil dari sekitar 200 ribu kasus keracunan di Jerman setiap tahunnya. Kebanyakan kasus keracunan lain meliputi; keracunan bisa ular, keracunan jamur, keracunan bahan makanan, keracunan gas, keracunan alkohol, begitu juga dengan banyaknya kecelakaan yang terjadi di sekitar tempat tinggal, menyangkut cairan pembersih rumah, cairan pembersih tubuh, dan lainnya.

"Hal-hal semacam ini bisa berujung pada keracunan, terutama pada anak-anak, karena mereka cenderung melihat barang-barang berwarna, wangi, dan tampilan lucu sebagai hal yang bisa dibuat main, bahkan dimakan," kata Thomas Zilker, profesor toksikologi, dari Munich's Technical University.

Obat-obatan masih menjadi penyebab terbesar keracunan yang terjadi di rumah, baik terhadap orang dewasa maupun anak-anak. "Kasus-kasus keracunan obat-obatan di antara orang dewasa biasanya menyangkut percobaan bunuh diri, sementara untuk anak-anak, cenderung bersifat kecelakaan, karena mereka mengira obat-obatan itu adalah permen," kata Zilker.

Tingkat keseriusan dan bahaya yang terhubung dengan keracunan tergantung dari beberapa faktor; jenis zat yang dikandung, dosisnya, serta waktu sejak si korban terpapar zat tersebut. Kondisi fisik dan bagaimana zat beracun tersebut terserap oleh tubuh korban juga punya pengaruh.

"Contoh, level bahaya tertelannya sebatang rokok tak seberbahaya ketika si anak menelan air yang merendam rokok semalaman," kata Acquarone menjelaskan, nikotin, racun kuat yang ada di dalam rokok bisa terlarut dalam air dan mudah terserap tubuh bila air larutan rokok tertelan.

"Tergantung zat racun itu dan caranya terserap tubuh, semua organ pada tubuh bisa terdampak dan terlukai," kata Sefrin.

Menghirup klorin bisa menyebabkan masalah pada paru-paru, sementara overdosis parasetamol bisa menyakiti liver, dan menelan jamur beracun bisa mengakibatkan masalah pada jantung.

Beberapa gejala keracunan cenderung mirip meski tidak selalu bisa menunjukkan penyebabnya. Beberapa gejala serupa antara lain; pupil membesar, detak jantung bertambah kencang, dan wajah merah.

"Gejala umum lainnya; pusing, muntah-muntah, kepala sakit, sulit bernapas, masalah sirkulasi darah, dan mengigau," kata Acquarone.

Ada gejala-gejala lain yang cukup luas akibat keracunan namun kesemuanya itu tidak membuat mendiagnosa penyebab keracunannya mudah. Salah satu sinyal yang harus diwaspadai; gejala keluhan mendadak yang dialami oleh banyak orang secara serentak yang mengkonsumsi makanan atau minuman yang sama.

Selalu perhatikan letak-letak barang yang sekiranya berbahaya untuk anak, seperti obat-obatan keras. Perhatikan bukti-bukti seperti botol obat yang rusak atau sisa tumbuhan beracun yang tercecer yang patut dicurigai tertelan oleh siapa pun di rumah.

Bila tidak punya pelatihan atau pendidikan mengenai penanganan masalah kesehatan, sebaiknya hubungi segera petugas medis untuk minta bantuan. Susu sering dijadikan patokan untuk mengatasi keracunan. Namun, pada kenyataannya, ada beberapa masalah keracunan yang justru bisa makin parah gara-gara susu. Susu bisa menyebabkan orang muntah dan menutup saluran pernapasan sehingga sulit bernapas.

Sefrin menyarankan untuk segera menghubungi petugas kesehatan dan berikan informasi detail, seperti usia, jenis kelamin, berat badan dari korban, juga gejala-gejalanya. Sertakan pula informasi mengenai kemungkinan racun, dosisnya, serta waktu terpaparnya racun itu kepada korban. Bila korban tidak sadarkan diri, segera hubungi petugas medis untuk datang ke tempat korban.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon