InaRISK Bantu Masyarakat Kenali Potensi Bencana
Kamis, 31 Januari 2019 | 17:49 WIB
Jakarta - Masyarakat diajak untuk semakin menyadari potensi bencana di sekitarnya. Kini masyarakat bisa melihat potensi bencana di lokasi tempatnya berada melalui situs InaRISK dan aplikasi InaRISK Personal yang bisa diunduh melalui ponsel pintar.
Aplikasi InaRISK Personal bisa diunduh melalui Android dan IOS. Aplikasi ini menampilkan tingkat risiko bencana sekaligus saran untuk mitigasinya, baik sebelum, saat, dan pascabencana. Aplikasi ini penting dimiliki semua orang sebagai upaya mempersiapkan diri dan keluarga dalam menghadapi bencana.
Direktur Pencegahan dan Kesiapsiagaan Bencana Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Bernardus Wisnu Widjaja mengatakan, hal ini menjadi bagian dari disaster management 4.0 atau manajemen bencana 4.0.
"Big data ini yang mahal, karena berbagai data terkait ditambahkan ke situ. Ke depan akan menjadi sistem penanggulangan bencana dan masyarakat lebih siap," katanya di Jakarta, Kamis (31/1).
Sistem informasi dan peringatan dini multibencana atau multihazard early warning system ini dibuat oleh BNPB didukung oleh
sejumlah lembaga, peneliti dan perguruan tinggi yakni Institut Teknologi Bandung (ITB).
Saat ini untuk tampilan InaRISK yang bisa diakses publik baru terbatas potensi bencana hidrometeorologi seperti banjir, longsor, dan cuaca ekstrem.
Pakar Hidrometeorologi ITB Armi Susandi mengungkapkan, InaRISK multihazard early warning system merupakan sistem yang sudah dibangun sejak tahun 2016. Untuk InaRISK Personal memang baru dibuat BNPB.
Untuk InaRISK multihazard early warning system servernya ada di ITB dan beroperasi selama 24 jam dan diperbarui prediksinya setiap tiga jam. Kondisi cuaca dan potensi bencana hingga level desa bisa terlihat. Selain itu, bisa pula untuk melihat fasilitas lain seperti nama sekolah dan berapa jumlah siswa di situ.
"Untuk potensi banjir, datanya ditumpangkan dengan data curah hujan. Sedangkan untuk potensi longsor ditumpangkan dengan peta jenis tanah, kemiringan lereng, sejarah banjir dan longsor serta juga curah hujan," papar Amri.
Melalui InaRISK ini lanjutnya, bagaimana pihaknya dapat menghidupkan peta dengan data digital. Sebelumnya, Arab Saudi pun tertarik dan sudah dibuatkan aplikasi ini untuk melihat potensi badai pasir.
Bahkan kata Armi, ada sekitar 40 negara yang memang berminat untuk memiliki aplikasi dan sistem perkiraan potensi bencana seperti yang dikembangkan Indonesia ini.
Sementara itu lanjutnya, untuk puting beliung saat ini memang belum bisa diprediksi. Padahal intensitas puting beliung sebagai salah satu bencana hidrometeorologi meningkat.
"Sebetulnya kita mampu, hanya saja butuh komputasi atau server yang lebih besar lagi. Sebab dari metodologi butuh lebih banyak data," ucapnya.
Data tersebut mencakup perbedaan temperatur tekanan, ketinggian, data satelit yang kemudian diverifikasi dengan data radar yang harus ada di setiap kabupaten.
Di samping itu, kondisi daerah untuk bisa melihat prediksi puting beliung beragam dan memenuhi kriteria seperti perbedaan tekanan dan temperatur ekstrem.
"Daerah yang banyak penduduk cenderung hangat dan daerah banyak air cenderung dingin. Di sekitar itu ada yang hangat dan awan dingin menjadi potensi puting beliung," ungkapnya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
Politik-Hukum Terkini: Polemik Film hingga Judi Online
PM China Li Qiang Temui Sederet CEO AS, Siapa Saja?
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Politik-Hukum Terkini: Polemik Film hingga Judi Online




