Radius 1 Kilometer dari Kawah Gunung Bromo Steril

Minggu, 21 Juli 2019 | 07:28 WIB
AM
IC
Penulis: Adi Marsiela | Editor: CAH
Abu vulkanis menyembur keluar dari kawah Gunung Bromo, Probolinggo, Jawa Timur, Jumat (15/3/2019).
Abu vulkanis menyembur keluar dari kawah Gunung Bromo, Probolinggo, Jawa Timur, Jumat (15/3/2019). (Antara)

Probolinggo, Beritasatu.com - Gunung Bromo di Probolinggo, Jawa Timur kembali mengalami erupsi pada Jumat (19/7/2019) pukul 16.37 WIB. Erupsi yang terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 37 milimeter dengan durasi tujuh menit 14 detik.

Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Kasbani merekomendasikan agar wisatawan dan pengunjung tidak memasuki kawasan dalam radius satu kilometer dari kawah aktif Gunung Bromo. "Statusnya masih waspada," kata Kasbani dalam laporan tertulisnya, Minggu (21/7/2019).

Gunung api aktif yang memiliki ketinggian 2.329 meter di atas permukaan laut ini sudah ditetapkan pada level II atau Waspada sejak 20 Oktober 2016 lalu dari sebelumnya level I atau ‘Normal’.

Petugas dari Pos Pengamatan Gunungapi Bromo, Budi Marwanto melaporkan gunung itu dapat teramati jelas dengan asap kawah bertekanan lemah berwarna putih. "Intensitas asap tipis dengan tinggi 50 sampai 100 meter di atas puncah kawah," terangnya dalam laporan tertulis PVMBG.

Berdasarkan catatan kegempaan, Budi menambahkan, tercatat adanya tremor atau getaran menerus yang terekam dengan amplitude 0.5-1 milimeter. "Dominan satu millimeter," tuturnya.

Tremor atau getaran menerus ini mengindikasikan adanya gerakan dalam sistem tubuh gunung api akibat mobilitas magma. Getaran ini akan tercatat oleh seismograf seperti grafik yang konstan dan tidak jelas di mana awalannya jika dibandingkan dengan gempa bumi yang terjadi mendadak.

Kasbani juga menerangkan kejadian banjir lumpur di kawasan dasar kaldera Tengger-Gunung Bromo pada Jumat, 19 Juli 2019 sekitar pukul lima sore merupakan fenomena alam biasa. "Tidak terkait langsung dengan aktivitas erupsi Gunung Bromo,"kata Kasbani.

Banjir terjadi karena hujan di sekitar kaldera Tengger dan puncak Gunung Bromo bersamaan dengan kejadian erupsi yang menghasilkan abu vulkanik. Selain itu, morfologi kaldera Tengger merupakan topografi rendah yang dikelilingi oleh perbukitan sehingga jika terjadi hujan, aliran air akan bergerak ke arah dasar kaldera.

"Endapan batuan di sekitar perbukitan Kaldera Tengger dan puncak Gunung Bromo umumnya terdiri dari produk jatuhan yang bersifat lepas, sehingga akan mudah tergerus oleh air hujan," tambah Kasbani.

Pengamatan cuaca sejak tanggal 1-18 Juli 2019 umumnya cuaca di sekitar Gunung Bromo cerah, berawan hingga mendung. Pada tanggal 19 Juli 2019 pukul 16,43 WIB tercatat satu kali hujan gerimis. Curah hujannya di pos pengamatan gunung Bromo tercatat sebesar 0.4 milimeter.

"Aliran banjir berasal dari sisi barat daya lereng Bromo memutari Gunung Batok ke arah barat. Getaran banjir terekam di seismograph dengan amplitudo maksimum 1 milimeter dan lama gempa 3 menit 20 detik," kata Kasbani.



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon