Charta Politika: Peringatan Presiden Cuma Basa-Basi
Jumat, 20 Juli 2012 | 17:02 WIB
Peringatan yang diberikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono terhadap anggota kabinetnya agar tidak sibuk berpolitik hanyalah 'polesan' semata.
Hal itu diungkapkan oleh pengamat politik dari Charta Politika Yunarto Wijaya ketika dihubungi Beritasatu.com.
Menurutnya, dengan memberi teguran kepada para anggota kabinet, Yudhoyono seperti berbicara dengan dirinya sendiri.
"Teguran tersebut hanyalah kosmetik tidak ada pengaruh apa-apa. Dari awal SBY sendiri yang memilih menteri lebih banyak dari kalangan politik daripada profesional," ujarnya di Jakarta, Jumat (20/7).
Yunarto mengatakan, dengan pernyataan SBY, kemarin, terlihat ada permasalahan manajerial yang dimilikinya.
Selain itu, kata dia, sebenarnya sebagai kepala negara dalam sistem presidensial, SBY memiliki otoritas penuh untuk menegur atau bahkan memecat menteri di dalam kabinetnya.
"SBY tidak berani menggunakan otoritasnya dan malah mengadu kepada rakyat," ujarnya.
Dari awal, kata Yunarto, SBY seharusnya menyadari betul risiko dari memiliki kabinet yang terdiri dari orang-orang partai politik.
"Pada akhirnya, orang-orang ini memiliki dualitas. Untuk tahun 2014 pasti mereka memikirkan partai politiknya. Itu seharusnya risiko yang disadari oleh SBY dari awal," ujarnya.
Semestinya bukan hal ini yang dipikirkan oleh SBY yang harus memperbaiki kinerja kabinet hingga masa akhir jabatan tahun 2014.
Dengan perbaikan kinerja kabinet, kata Yunarto, bisa memperbaiki citranya dan juga citra Partai Demokrat yang sedang turun pamor karena kasus korupsi yang menyeret beberapa kadernya.
Sebelumnya, pada saat pembukaan Sidang Kabinet Paripurna kemarin, SBY memperingati anak buahnya yang berasal dari partai politik untuk tidak melupakan tanggung jawab terhadap tugas pemerintahan.
Bahkan SBY mengatakan jika menterinya merasa tidak bisa membagi tugas, sebaiknya mengundurkan diri dari kabinet.
Hal itu diungkapkan oleh pengamat politik dari Charta Politika Yunarto Wijaya ketika dihubungi Beritasatu.com.
Menurutnya, dengan memberi teguran kepada para anggota kabinet, Yudhoyono seperti berbicara dengan dirinya sendiri.
"Teguran tersebut hanyalah kosmetik tidak ada pengaruh apa-apa. Dari awal SBY sendiri yang memilih menteri lebih banyak dari kalangan politik daripada profesional," ujarnya di Jakarta, Jumat (20/7).
Yunarto mengatakan, dengan pernyataan SBY, kemarin, terlihat ada permasalahan manajerial yang dimilikinya.
Selain itu, kata dia, sebenarnya sebagai kepala negara dalam sistem presidensial, SBY memiliki otoritas penuh untuk menegur atau bahkan memecat menteri di dalam kabinetnya.
"SBY tidak berani menggunakan otoritasnya dan malah mengadu kepada rakyat," ujarnya.
Dari awal, kata Yunarto, SBY seharusnya menyadari betul risiko dari memiliki kabinet yang terdiri dari orang-orang partai politik.
"Pada akhirnya, orang-orang ini memiliki dualitas. Untuk tahun 2014 pasti mereka memikirkan partai politiknya. Itu seharusnya risiko yang disadari oleh SBY dari awal," ujarnya.
Semestinya bukan hal ini yang dipikirkan oleh SBY yang harus memperbaiki kinerja kabinet hingga masa akhir jabatan tahun 2014.
Dengan perbaikan kinerja kabinet, kata Yunarto, bisa memperbaiki citranya dan juga citra Partai Demokrat yang sedang turun pamor karena kasus korupsi yang menyeret beberapa kadernya.
Sebelumnya, pada saat pembukaan Sidang Kabinet Paripurna kemarin, SBY memperingati anak buahnya yang berasal dari partai politik untuk tidak melupakan tanggung jawab terhadap tugas pemerintahan.
Bahkan SBY mengatakan jika menterinya merasa tidak bisa membagi tugas, sebaiknya mengundurkan diri dari kabinet.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
Bagikan
BERITA LAINNYA
Politik-Hukum Terkini: Polemik Film hingga Judi Online
HUKUM & HANKAM
PM China Li Qiang Temui Sederet CEO AS, Siapa Saja?
INTERNASIONAL
ARTIKEL TERPOPULER
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
SUMATERA UTARA
5
B-FILES
Politik-Hukum Terkini: Polemik Film hingga Judi Online




