Kebakaran Kedua dan Duka Pengusaha Mebel Pondok Bambu

Rabu, 22 Agustus 2012 | 16:08 WIB
RN
B
Penulis: Ronna Nirmala/ Ratna Nuraini | Editor: B1
Warga korban kebakaran mengais sisa harta yang masih bisa dimanfaatkan, di Pondok Bambu, Jakarta Timur, Rabu (22/8). Kebakaran yang terjadi pada Selasa (21/8) tersebut menghanguskan sekitar 150 rumah dan kerugian akibat musibah ini ditaksir mencapai miliaran Rupiah.
Warga korban kebakaran mengais sisa harta yang masih bisa dimanfaatkan, di Pondok Bambu, Jakarta Timur, Rabu (22/8). Kebakaran yang terjadi pada Selasa (21/8) tersebut menghanguskan sekitar 150 rumah dan kerugian akibat musibah ini ditaksir mencapai miliaran Rupiah. (Antarafoto)
Api cepat menyebar dan membesar akibat banyaknya usaha mebel dan konveksi.

Untung tak dapat diraih, malang tak dapat dihindarkan. Itu mungkin ungkapan yang tepat bagi pengusaha mebel di Jl Gotong Royong  RT 02/02 Pondok Bambu, Jakarta Timur, yang habis ludes terbakar, kemarin.
 
Haji Misnah salah satunya, pria berusia 50 tahun ini harus menerima kenyataan bahwa usaha yang telah dirintisnya sejak 1990 sudah tidak menyisakan apapun, bahkan bahan baku untuk membuat mebel baru sekalipun.
 
Ditemui di tenda pengungsian yang berada di ujung gang Gotong Royong, Misnah hanya bisa pasrah karena mesin pembelah dan kayu bahannya yang menjadi tumpuannya membuat mebel sudah hancur menjadi abu dilalap si jago merah.
 
Misnah menceritakan, pada saat kejadian, dirinya sedang mengisi ulang  baterai handphonenya di rumah kontrakan yang sekaligus menjadi bengkelnya  bekerja, "Tiba-tiba saya dengar ada suara ibu menangis. Lalu saya terbangun dan melihat di sebelah kiri saya sudah ada kobaran api."

Dirinya mengatakan, kebakaran yang menimpa usahanya ini bukanlah kali pertama dialaminya. "Tahun 2002 lalu sempat kebakaran juga, tapi tidak sampai habis," katanya, hari ini.
 
Misnah biasa membuat furniture seperti kursi, meja, sofa yang biasanya  dikirim ke daerah seperti Seang, Balaraja, Cibinong dan Citeureup. Atas kejadian kebakaran ini, Misnah memperkirakan, kerugian yang dialaminya bisa mencapai Rp50 juta, padahal omset dari penjualannya hanya Rp25 juta per bulannya. Usaha yang dirintisnya sendiri ini berhasil memperkerjakan dua orang pegawai.
 
"Satu minggu sebelum dan setelah puasa saya liburkan, jadi memang cuma ada saya dan keluarga saya," ujar ayah tiga anak ini.
 
Nasib sama juga menimpa Ridwan yang usaha mebelnya ini telah berdiri sejak 10 tahun lalu ini. Dari usaha mebelnya, Ridwan dapat menyekolahkan dua orang putra-putrinya hingga ke jenjang SD.
 
"Saya sedang menonton tv sama anak-anak, tahu-tahu warga sudah ramai berteriak 'kebakaran, kebakaran!", ceritanya.
 
Sayangnya, atas cepatnya api merambat, Ridwan tidak sempat menyelamatkan barang-barang dan surat berharga miliknya. "Saya gak kepikiran kesana, saya cuma terpikir untuk segera menyelamatkan anak-anak saja," ungkapnya.
 
Baik Ridwan maupun Haji Misnah belum tahu apa yang akan dilakukan mereka  usai kejadian ini. Keduanya saat ini masih mencoba menyisir sisa-sisa  reruntuhan kebakaran rumahnya untuk mencari barang-barang yang mungkin  masih dapat diselamatkan.
 
Kebakaran yang melalap 9.000 meter persegi wilayah ini terjadi kemarin,  Selasa (21/8) pukul 12.00 WIB dan api baru dapat dipadamkan pada sekitar  pukul 04.00 WIB.

Api melalap kurang lebih 150 tempat tinggal dan usaha milik warga. Api yang cepat menyebar dan membesar disinyalir akibat banyaknya usaha mebel dan konveksi di dalamnya.
 
Daerah ini sendiri bukan pertama kalinya mengalami kebakaran hebat. Kebakaran serupa pernah terjadi pada 2002 dan berulang di 2011.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon