O Sharapova, O Barcelona
Sampai saat ini sudah lebih dari 10 tahun menggawangi berbagai program olahraga di televisi. Sekarang bekerja sebagai Sport Executive Producer di tvOne untuk program-program pertandingan olahraga. Menulis puisi dan artikel mengenai olahraga dan sepakbola menjadi kegemaran di saat rehat kerja.
Kamis, 2 Februari 2012 | 08:00 WIBSadar atau tidak nyatanya saya selalu hidup bersama harapan. Ketika sebuah hari berakhir, saya selalu membayangkan hari baru dengan peruntungan yang lebih baik. Ketika hari baru datang saya selalu berkata semoga hari ini segalanya menjadi baik adanya. Begitulah selalu dan selalu begitu. Seperti siklus yang berputar terus.
Mungkin mereka yang relijius menganggap perkataan saya itu sebagai doa tetapi saya hanya ingin menamainya sebentuk harapan. Saya bawa-bawa harapan itu ke mana saja. Harapan itu menjelma sebagai mantra atau bisa jadi jimat rahasia.
Harapan seperti sahabat bagi saya. Harapan ada ketika saya merasa sendirian ketika kenyataan tak sesuai keinginan, ketika dunia seperti tak berpihak pada kita.
Dalam titik tertentu kita pernah merasakan kondisi seperti yang dialami petenis Rusia Maria Sharapova di final Australia Terbuka, Sabtu (28/1) lalu. Setelah tiga bulan tidak mengayunkan raket akibat cedera, maka keberhasilan menggapai final grand slam terbilang luar biasa. Sebab persaingan petenis di level dunia teramat keras dan ketat.
Saya menyaksikan raut wajah Sharapova ketika hendak memasuki lapangan di Rod Laver Arena, Melbourne. Wajah cantiknya tak bisa menyembunyikan rasa sakit. Tetapi harapan untuk menjadi juara telanjur digantungkan setelah tiket final terpastikan.
Lawannya adalah petenis Belarusia Victoria Azarenka. Jelas bukan petenis semenjana meskipun belum sekalipun merengkuh gelar grand slam. Tetapi siapa pun yang memenangkan partai final ini akan dipastikan meraih posisi ranking satu dunia menggusur Caroline Wozniacki. Maka para pengamat tenis dunia pun memperkirakan partai ini akan berlangsung sengit.
Yang terjadi sungguh di luar dugaan. Azarenka bermain sangat taktis hingga memaksa Sharapova yang berkali-kali kehilangan angka hanya bisa meringis. Azarenka mendikte Sharapova sepanjang 82 menit. Komposisi hasil akhir 6-3 dan 6-0 begitu jelas di papan skor. Azarenka menjuarai turnamen grand slam untuk kali pertama dalam karirnya, Sharapova dipaksa puas di peringkat kedua.
Seluruh dunia pun bertanya: ada apa denganmu, Sharapova?
"Saya hanya membuat kesalahan. Jelas membuat saya frustasi. Tetapi sekeras apa pun keinginan kita untuk menjadi juara, pada akhirnya hanya ada satu. Dalam olahraga apa pun selalu ada hari-hari baik, selalu ada hari-hari sulit. Ada masanya ketika segala sesuatu tak berjalan sebagaimana mestinya," begitulah beberapa kalimat yang disampaikan oleh Sharapova pada konferensi pers seusai pertandingan yang bisa saya tangkap dan ingat melalui layar televisi.
Apakah kekalahan ini akan membuat Sharapova berhenti berharap untuk kembali menjadi juara grand slam? Saya yakin Sharapova tahu betul bahwa harapan harus diperjuangkan.
F.C. Barcelona juga baru saja terpukul keras. Di Estadio El Madrigal tim arahan Pep Guardiola itu tak mampu mengalahkan Villareal (28/1). Mereka memang tidak kalah, tetapi hasil imbang 0-0 menjauhkan defisit angka dari Real Madrid menjadi tujuh. Beberapa jam sebelumnya Los Blancos menuntaskan perlawanan Real Zaragoza di Estadio Bernabeu 3-1.
Sebelum pertandingan, Guardiola memang sudah mengatakan bahwa El Madrigal bukan tempat yang ramah bagi timnya. Tak akan mudah meraih angka penuh di kandang Villareal yang pada pekan sebelumnya baru saja lepas dari zona degradasi.
Apa yang ditakutkan Guardiola menemukan kenyataan. The Yellow Submarine begitu kokoh menjaga kedalaman pertahanan mereka meskipun sejumlah peluang yang dimiliki Barcelona termasuk dua kesempatan Lionel Messi – melalui bola cungkilan di menit 18 dan sebuah tendangan di dalam kotak penalti menjelang pertandingan usai – nyaris meluluhkannya.
"Kami telah bermain dengan baik dan terus mengalirkan bola. Masih ada 18 pertandingan dan saya ingin tim ini bertarung demi meraih poin seperti yang mereka lakukan malam ini. Kami sudah bermain dengan baik, tak ada yang harus disalahkan," begitu kata Guardiola yang masa depannya di Barcelona selalu menjadi bahan spekulasi saat pertengahan musim tiba.
Optimisme tak putus bagi Daniel Alves, bek kanan Barcelona, "Tujuh angka tentu saja merupakan keuntungan. Tetapi saya pernah melihat selisih yang lebih besar, jadi kami harus tetap menatap ke depan."
Sama seperti Alves, Messi pun optimis sambil mengevaluasi diri, "Liga belum selesai, masih panjang perjalanan. Kami hanya kurang beruntung kali ini. Kami memang tak bermain sebaik mungkin, tetapi kami menciptakan banyak peluang dan yang kurang hanyalah gol."
Bagi para pembenci Barcelona, ungkapan Alves dan Messi akan segera dilabeli omongan penghiburan diri. Tetapi bagi saya justru seperti itulah hidup harus dijalani. Ketika kegagalan datang maka berlapang dadalah. Tak ada yang salah dengan menghibur diri. Bukankah hati yang terhibur akan mudah mengevaluasi kesalahan lalu memperbaikinya demi kerja mencapai harapan?
Harapan memang tak selalu menjadi kenyataan kendati kerja keras sudah dilakoni. Tetapi harapan yang tak tergapai tidak lantas membuat etos kerja kita mati. Kita memang tak selalu bisa menjadi juara, tetapi kita selalu bisa menjadi pemenang. Itulah satu alasan lagi mengapa saya mencintai olahraga, mencintai sepak bola.
Pluit, 31 Januari 2012
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
Politik-Hukum Terkini: Polemik Film hingga Judi Online
PM China Li Qiang Temui Sederet CEO AS, Siapa Saja?
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Politik-Hukum Terkini: Polemik Film hingga Judi Online




