Berpikir dengan Selangkangan, Bagaimana Pula Caranya?

Arsito Hidayatullah
Arsito Hidayatullah

Merasa beruntung dan cocok --meski tak juga ingin terlalu membanggakan-- bekerja di dunia jurnalistik, Arsito pada dasarnya hanyalah seseorang dengan ragam kesenangan yang sama dengan banyak warga dunia lainnya. Sepak bola, musik, film, alam bebas, pertemanan, durian, merupakan sebagian di antara yang ia nikmati sepenuh hati. Dibesarkan di Padang, Sumatera Barat, saat ini ia bekerja sebagai salah seorang editor di Beritasatu.com.

Minggu, 20 Mei 2012 | 09:30 WIB

Maaf. Bisa disebut kasar, dan mungkin harusnya tak ada yang mengucapkannya. Tapi nyatanya, belum lama ini, saya mendengar langsung seseorang mengucapkan ungkapan tersebut: "berpikir dengan selangkangan". Parahnya, itu bukan kali pertama.

Pernah pula malah – saya lupa di mana tepatnya – saya dengar ungkapan itu muncul dari mulut seseorang di sebuah forum/acara, yang mirisnya, dikelilingi wartawan media massa dan lantas disiarkan televisi pula.

Berusaha "lugu", mencoba mencerna dalam arti harfiah, cukup lama saya pikir-pikir soal ungkapan "berpikir dengan selangkangan" itu. Jelas, ini sesuatu yang tidak mungkin dilakukan oleh manusia, atau bahkan makhluk mana pun. Memangnya di selangkangan itu ada organ tubuh untuk berpikir?

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) yang tersedia secara online menjelaskan, "selangkangan" (ada di bawah kata "selangkang") adalah sebuah kata benda (n) yang artinya "celah kangkang" atau "kunci paha".

Sementara kata "berpikir" – semua orang mungkin sudah tahu – di situ diterjemahkan sebagai sebuah kata kerja (v), yaitu "menggunakan akal budi untuk mempertimbangkan dan memutuskan sesuatu" atau "menimbang-nimbang dalam ingatan".

Jelas, dari terjemahan itu, tidak ada korelasi sama sekali antara (aktivitas) "berpikir" dengan – posisi atau sebuah – "selangkangan". Ya, sebenarnya juga, tanpa pakai terjemahan itu, anak kecil pun agaknya sudah tahu kalau "berpikir" itu menggunakan "otak" dan bukannya (maaf, ini yang terakhir kali) "selangkangan".

Tapi kenapa lantas ungkapan itu muncul dari mulut seseorang? Dari mulut banyak orang bahkan, jika mengingat saya sendiri saja sudah lebih dari dua kali mendengarnya. Apakah gerangan yang sejatinya dimaksud oleh orang-orang dengan ungkapan tersebut?

Sebuah sindiran, tentu saja. Kadang juga malah (kedengarannya) mengarah ke bentuk makian. Tapi bisa juga merupakan bentuk ejekan (merendahkan). Sebagai sebuah nasihat pun barangkali bisa – walau mestinya nasihat yang bertujuan baik tidaklah disampaikan dengan bahasa yang buruk.

Ungkapan yang dijadikan judul di atas, yang pasti memang tidak menganut arti sebenarnya (harfiah), melainkan punya makna tersirat. Yang saya pahami, berdasarkan proses berpikir (yang saya lakukan menggunakan otak saya), itu artinya kurang lebih adalah "tidak berpikir sama sekali", atau "tidak menggunakan logika", atau mungkin dalam arti gampangnya "nggak mikir" atau malah "bodoh!".

Hanya saja, jika memang demikian artinya, agaknya jadi wajar pula kenapa ungkapan seperti itu lantas (kerap) muncul, berdasarkan kenyataan kehidupan yang ada di sekitar kita. Soalnya, banyak sudah politisi dan pejabat publik yang mengeluarkan pernyataan macam-macam, tanpa jelas arah dan tujuannya, bahkan kadang tanpa dia sendiri tahu maksudnya. Hingga kata-kata orang-orang penting itu pun jadi membingungkan, atau sebaliknya malah menyakitkan (hati publik). Sesuatu yang faktanya tak dilakukan oleh para pejabat saja, namun juga kerap kali oleh mereka yang mengaku tokoh ormas, pengamat, aktivis, atau kadang juga orang media.

Lebih jauh, soal orang yang "tidak menggunakan logika" atau "nggak mikir" itu, bukankah lagi-lagi, juga ada banyak sekali pejabat dan pegawai negeri yang jelas-jelas bersumpah sebagai abdi negara namun malah berbuat yang tidak senonoh, melanggar hukum, atau juga makan uang negara/rakyat? Apa mereka tidak berpikir siapa mereka, saat melakukan semua itu? Apalagi jika mengingat kenyataan bahwa mereka adalah orang pintar (minimal sarjana S1), yang jelas-jelas kemampuan otaknya di atas rakyat yang "lebih bodoh" karena banyak yang tak selesai sekolah – atau tak mampu bersekolah.

Lantas, tibalah pula saya pada kemungkinan terjemahan lain dari ungkapan di atas. Mungkin juga, menurut saya, ungkapan itu bermakna (seseorang cenderung) "berpikir lebih banyak/sering tentang hal yang berhubungan dengan organ vital di bagian bawah tubuh". Artinya, ini mungkin juga adalah semacam pendefinisian tentang seseorang yang "sedikit-sedikit berpikir soal hal-hal yang berhubungan dengan seksualitas".

Jika memang demikian, mereka yang sedikit-sedikit memandang/menilai perempuan sebagai obyek seksual semata, bisa juga dong digolongkan sebagai orang yang "berpikir pakai selangk*****" (maaf, saya lupa sudah berjanji tak menyebut istilah itu lagi). Artinya juga, orang yang masih cenderung mengukur perempuan dalam batasan "seksual" (semata), bisa masuk dalam mereka yang dituju oleh ungkapan itu kan?

Lalu jika demikian pula, berarti mereka yang sedikit-sedikit berpikir ini-itu adalah pornografi, termasuk yang dituju oleh ungkapan di atas juga dong? Tapi, apa sih, arti jelas dari "pornografi" itu sendiri? Apakah seperti yang ada pada sosok bernama Lady Gaga? Ataukah seperti yang dimunculkan lewat liukan-liukan penari daerah tertentu yang (kebetulan) minim pakaian? Ada nggak sih, penjabaran lengkap dan jelasnya di Undang-Undang (UU) Anti-Pornografi? Kok kata banyak orang UU itu masih rancu?

Hm. Daripada bingung sendiri, saya pun kembali membuka KBBI. Tertulis di sana: "por-no-gra-fi n 1 penggambaran tingkah laku secara erotis dengan lukisan atau tulisan untuk membangkitkan nafsu berahi; 2 bahan bacaan yang dengan sengaja dan semata-mata dirancang untuk membangkitkan nafsu berahi dalam seks".

Sambil manggut-manggut, dan sedikit melirik sang istri yang beranjak hendak menanak nasi, saya pun kembali berupaya berpikir dengan otak saya yang kecil ini.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon