Pantarlih Desa Terpencil di Majene Lewati Medan Ekstrem demi Coklit
Minggu, 14 Juli 2024 | 21:36 WIB
Majene, Beritasatu.com - Petugas pemutakhiran data pemilih atau pantarlih harus berjuang demi validasi data pemilih jelang Pilkada 2024 di berbagai daerah. Seperti di Majene, Sulawesi Barat misalnya, pantarlih harus melewati jalan berlumpur di tengah hutan demi melakukan pencocokan dan penilitian atauatau coklit data pemilih di perkampungan warga yang terletak di pedalaman Pegunungan Ulumanda, Kabupaten Majene, Sulawesi Barat.
Mereka harus berjuang melewati jalan berlumpur yang hanya bisa dilewati satu motor menuju Pullao, Desa Popenga, Kecamatan Ulumanda, Majene.
Pantarlih dan Panitia Pemungutan Suara (PPS) Desa Popenga ini harus ekstra hati-hati saat melintas di wilayah ini lantaran akses jalan yang dilalui sangat terjal dan licin ditambah lagi sisi kanan dan kiri jalan sebagian jurang.
Untuk bisa melewati jalan terjal itu, mereka harus memodifikasi motor yang digunakan. Modifikasi yang mereka lakukan di antaranya, mengikat ban motor dengan rantai agar tidak licin saat melewati jalan menanjak dan berlumpur.
Pantarlih harus melewati jalan rusak sejauh 8 kilometer untuk bisa tiba di tujuan. Hal itu dilakukan lantaran sejumlah warga tinggal di kebun dan harus didatangi satu per satu untuk mencocokan data pemilih.
Kondisi ini diperparah dengan musim hujan tengah melanda wilayah ini. Akibatnya, kondisi jalan berlumpur dan membahayakan. Dalam pemutakhiran data ini, pantarlih di desa ini akan mencoklit 720 jiwa yang masuk daftar penduduk potensial pemilih pemilihan atau DP4.
Meski demikian, pantarlih ini tak gentar dan pantang menyerah demi menyukseskan Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Sulawesi Barat dan dan Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Majene pada 27 November 2024 mendatang.
Salah satu pantarlih Muliadi mengatakan dirinya harus melewati jalan tanah berlumpur ini sejauh tujuh sampai 8 kilometer dengan waktu tempuh berjam-jam untuk bisa mencocokkan data pemilih.
"Popenga adalah paling ujung di perbatasan antara Kabupaten Majene dengan Kabupaten Mamasa, jadi kita sudah bisa bayangkan bagaimana perjuangan pantarlih di daerah-daerah terpencil. Dalam satu TPS itu ada beberapa dusun, ada juga dalam warga dusun yang berdomisili itu berada di dusun lain untuk bekerja di kebun dan sebagainya sehingga kami harus mendatangi satu per satu ke kediaman sementaranya," kata Muliadi, Minggu (14/7/2024).
Menurutnya, salah satu kendala untuk melakukan pencocokan data pemilih di wilayah tersebut selain warganya tinggal di dalam hutan mereka juga terkendala akses jalan yang sulit dilalui kendaraan.
"Kendala kami ini karena sekarang ini musim hujan, jadi seperti video yang viral di Facebook atau YouTube. Kendala kami itu akses jalan yang bukan lagi parah tetapi sangat parah sehingga kami menambah rantai di ban motor bagian belakang karena melewati lumpur yang sangat luar biasa. Ban sepeda motor itu harus dimodifikasi sedemikian rupa sehingga bisa melewati medan ekstrem," ujarnya.
Muliadi menambahkan dirinya harus berjuang melewati jalan rusak sejauh delapan kilometer dengan waktu tempuh sekitar empat jam.
"Banyak warga yang berbeda antara domisili dan tempat kerjanya. Mereka tinggal di dusun tertentu tetapi bekerja di kebun yang dusunnya berbeda," jelasnya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
3 Prajurit Gugur, TNI AD Berduka!
Liburan Sambil Belajar Sains Lewat Museum Iptek TMII
Perbaiki Tanggul Irigasi Makam, Warga Palopo Temukan Granat Nanas
3
B-FILES
Harga yang Tak Terlihat, Masa Depan yang Terancam
Rio Abdurachman P
Hari Fitri Benahi Diri: Ujian Integritas di Tengah Bayang Korupsi
Muhammad Ishar Helmi
TNI Menunggu Hasil Investigasi Terkait Gugurnya 3 Prajurit di Lebanon




