Pertumbuhan Ekonomi Tidak Sesuai Harapan, Kelas Menengah Butuh Dorongan
Selasa, 7 November 2023 | 12:33 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal III 2023 di bahwa 5% tidak sesuai harapan pengamat. Dibutuhkan terobosan untuk mencapai target pertumbuhan di atas 5% hingga akhir tahun, seperti stimulus untuk merangsang kelas menengah supaya lebih konsumtif.
Direktur Center of Economics and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira menyoroti perlunya meningkatkan konsumsi rumah tangga, terutama di kalangan kelompok menengah ke bawah. Penurunan optimisme di kalangan kelompok ini telah berdampak pada kontribusi konsumsi terhadap pertumbuhan ekonomi pada kuartal III-2023. Bhima juga mencatat bahwa kelompok menengah ke atas memiliki akumulasi tabungan yang besar, tetapi mereka cenderung enggan mengalokasikan dana tersebut ke belanja konsumsi. Oleh karena itu, merangsang kelompok menengah ke atas untuk lebih aktif dalam belanja dan berinvestasi menjadi tantangan utama.
"Hal ini dipengaruhi oleh tekanan meningkatnya kebutuhan pokok, kesempatan kerja yang terbatas, serta kendala keterjangkauan kepemilikan rumah dan sensitivitas terhadap suku bunga,” ujar Bhima di Jakarta, Senin (6/11/2023).
Pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) Indonesia pada kuartal III 2023 di bawah ekspektasi, hanya mencapai 1,60% secara kuartalan, lebih rendah daripada konsensus pasar sebesar 1,71% dan mengalami perlambatan signifikan dibandingkan pertumbuhan sebesar 3,86% pada kuartal II. Dari perspektif tahunan, ekonomi hanya tumbuh sebesar 4,94% year on year pada kuartal III 2023, di bawah perkiraan pasar sebesar 5,05%, dan melambat dibandingkan ekspansi 5,17% pada kuartal II 2023, menunjukkan pertumbuhan terlemah sejak kuartal III 2021. Faktor utamanya adalah penurunan ekspor yang terjadi seiring dengan penurunan harga komoditas.
Ekonom ,akroekonomi dan pasar keuangan Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) Teuku Riefky mengungkapkan perlunya percepatan penyerapan anggaran dan belanja fiskal oleh pemerintah sebelum akhir tahun 2023 untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi.
"Stimulus yang bisa dilakukan pemerintah untuk bisa mengejar target pertumbuhan tentu dengan meningkatkan spending fiskal," kata dia.
Dengan perkembangan tersebut, Riefky memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk tahun 2023 masih berada di kisaran 4,9 hingga 5%. Dia juga menyarankan agar surplus anggaran negara dimanfaatkan secara optimal untuk belanja produktif yang dapat mendorong pertumbuhan ekonomi.
Pengamat ekonomi dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Esther Sri Astuti menekankan bahwa penurunan pertumbuhan ekonomi dapat berlanjut hingga akhir tahun jika tidak ada terobosan kebijakan yang signifikan. Di sisi lain, Esther juga mengakui bahwa ini bukan tugas yang mudah, terutama dalam tahun politik.
“Pemerintah perlu meningkatkan investasi agar tercipta lapangan pekerjaan lebih banyak, meningkatkan ekspor dengan memberi insentif untuk eksportir, serta kurangi impor dengan perbanyak produksi dalam negeri, termasuk swasembada pangan,” papar dia.
Ekonom dan Associate Faculty Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Ryan Kiryanto juga menilai sulit untuk mendongkrak investasi dalam waktu singkat, sementara investor masih menunggu. Oleh karena itu, mendorong konsumsi rumah tangga dan konsumsi non-rumah tangga menjadi alternatif yang lebih realistis dalam situasi ini.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Jumlah Guru RI Terus Naik tetapi Fluktuatif!
B-FILES
Incar Pajak Marketplace, Purbaya Ingin Pedagang Offline-Online Setara




