ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Cadangan 400 Juta Barel Dilepas, Krisis Minyak Mentah Bisa Berakhir?

Kamis, 12 Maret 2026 | 11:11 WIB
H
H
Penulis: Herman | Editor: HE
Ilustrasi serangan terhadap kapal tanker minyak yang meningkatkan risiko gangguan pasokan energi global.
Ilustrasi serangan terhadap kapal tanker minyak yang meningkatkan risiko gangguan pasokan energi global. (ChatGPT)

Salah satu lembaga yang memfasilitasi koordinasi ini adalah IEA, yang dibentuk setelah krisis minyak tahun 1973. Organisasi tersebut memiliki 32 negara anggota, termasuk Jerman, Austria, dan Jepang.

Negara-negara tersebut telah mengonfirmasi akan menggunakan sebagian cadangan mereka. Selain itu, Amerika Serikat, Meksiko, dan Australia juga merupakan anggota IEA.

Saat ini, negara anggota IEA menyimpan lebih dari 1,2 miliar barel cadangan minyak darurat pemerintah, ditambah sekitar 600 juta barel cadangan industri yang wajib disediakan perusahaan energi.

Pelepasan cadangan terbesar sebelumnya terjadi pada 2022, setelah invasi Rusia ke Ukraina, dengan total 182,7 juta barel.

ADVERTISEMENT

Setiap negara anggota IEA diwajibkan memiliki cadangan minyak setidaknya setara dengan 90 hari impor minyak mereka.

“Karena itu, negara-negara biasanya menyimpan cadangan tersebut untuk skenario terakhir, apabila gangguan pasokan berlangsung lama,” kata Maksim Sonin, eksekutif energi yang bekerja sama dengan Hydrogen Initiative di Stanford University, dikutip dari AP.

Keputusan untuk menggunakan cadangan minyak strategis bukan hal sederhana, terutama ketika konflik masih berlangsung tanpa kepastian waktu berakhir. Dalam situasi seperti perang di Iran, minyak dari cadangan strategis akan dijual ke pasar global untuk meningkatkan pasokan dan secara teori menurunkan harga.

“Pertanyaan utama dari pelepasan cadangan ini adalah: berapa lama konflik ini akan berlangsung?” kata Tom Seng, profesor keuangan energi di Texas Christian University.

“Dan yang lebih penting, berapa lama Selat Hormuz akan tetap tertutup?” lanjutnya.

Cadangan minyak pernah digunakan sebelumnya ketika pasar menghadapi gangguan besar, seperti perang di Irak, Libya, dan yang terbaru konflik di Ukraina.

Direktur senior Center for Energy Studies di Rice University, Kenneth Medlock, mengatakan persoalan utamanya bukan apakah konflik saat ini cukup serius untuk intervensi, melainkan apakah waktunya sudah tepat.

“Harga memang sudah naik, tetapi situasinya bisa menjadi lebih buruk. Apa yang terjadi apabila konflik ini berlangsung dua atau tiga bulan? Saat itu cadangan penyangga bisa habis," kata Medlock.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT