Pemerintah Intensifkan Garap Pasar Ekspor Non-Tradisional
Rabu, 19 Juli 2017 | 18:23 WIB
Jakarta- Kementerian Perdagangan (Kemdag) terus menggarap pasar ekspor non-tradisional di luar negara tujuan utama ekspor. Langkah ini sebagai upaya diversifikasi negara tujuan perdagangan.
Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita mengatakan, meski neraca perdagangan Juni 2017 surplus, namun pemerintah tetap mengantisipasi potensi penurunan ekspor. Oleh karena itu, Kementerian Perdagangan (Kemdag) terus membuka pasar ke berbagai negara. "Saya sudah bertemu Duta Besar Srilanka dan kita akan segera menindaklanjuti kesepakatan antara kedua kepala negara untuk menyusun Preferential Trade Agreement (PTA)," kata Mendag belum lama ini.
Selain Srilanka, pemerintah juga melakukan kerja sama dengan Turki dan sejumlah negara Afrika. "Dengan Afrika segera ditindaklanjuti, dan berbagai negara lainnya," tuturnya.
Mendag berharap, dengan upaya diversifikasi pasar ekspor diharapkan akan mengimbangi penurunan ekspor Indonesia. "Kita harus lebih baik dari waktu yang lalu," kata Enggar.
Badan Pusat Statistik (BPS) sebelumnya menyatakan, sepanjang Juni 2017 Indonesia mengalami surplus perdagangan sebanyak US$ 1,63 miliar, dengan total ekspor US$ 11,64 miliar dan impor US$ 10,01 miliar. Surplus disebabkan peningkatan perdagangan sektor nonmigas sebesar US$ 1,96 miliar. Sementara neraca perdagangan sektor migas mengalami defisit US$ 0,33 miliar.
Sepanjang Januari hingga Juni 2017, total ekspor naik menjadi US$ 79,96 miliar dengan total impor naik menjadi US$ 72,33 miliar. Dengan demikian, sepanjang 2017, neraca perdagangan Indonesia mengalami surplus US$ 7,63 miliar. Adapun pangsa ekspor nonmigas Januari hingga Juni 2017 -selain 13 negara utama tujuan ekspor- turun dibanding Januari-Juni 2016, dari 31,36 persen menjadi 29,78 persen.
Sementara peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Ahmad Heri Firdaus menilai langkah pemerintah melakukan perluasan pasar ekspor ke negara non-tradisional merupakan upaya positif.
Menurut Heri, kebijakan tersebut patut didukung dengan promosi produk, biaya logistik, dan transportasi memadai. "Upaya pencarian pasar yang baru harus didukung promosi produk, men-support biaya logistik dan transportasi untuk eksportir," kata Heri kepada wartawan.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Kapolda Metro Jaya Bintang 3 Sesuai Arahan Prabowo
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Seusai Divonis 18 Tahun, Nadiem Makarim Didukung Artis-Influencer




