Tingkat Pengangguran Terus Turun, namun Masih Banyak Tantangan
Logo BeritaSatu
Breaking News
INDEX
Breaking News

AGRI 1577 (0)   |   BASIC-IND 938 (0)   |   BISNIS-27 477 (-5)   |   COMPOSITE 5975 (-53)   |   CONSUMER 1621 (0)   |   DBX 1411 (-16)   |   FINANCE 1361 (0)   |   I-GRADE 166 (-1)   |   IDX30 471 (-4)   |   IDX80 128 (-1)   |   IDXBASIC 1248 (-11)   |   IDXBUMN20 358 (-2)   |   IDXCYCLIC 736 (-3)   |   IDXENERGY 747 (1)   |   IDXESGL 129 (-1)   |   IDXFINANCE 1325 (-12)   |   IDXG30 135 (-1)   |   IDXHEALTH 1296 (-14)   |   IDXHIDIV20 416 (-3)   |   IDXINDUST 956 (-21)   |   IDXINFRA 871 (-0)   |   IDXMESBUMN 102 (-0)   |   IDXNONCYC 740 (-6)   |   IDXPROPERT 877 (-12)   |   IDXQ30 135 (-1)   |   IDXSMC-COM 282 (-1)   |   IDXSMC-LIQ 337 (-1)   |   IDXTECHNO 3348 (-40)   |   IDXTRANS 1056 (-1)   |   IDXV30 127 (-1)   |   INFOBANK15 952 (-11)   |   INFRASTRUC 1036 (0)   |   Investor33 406 (-3)   |   ISSI 176 (-1)   |   JII 577 (-4)   |   JII70 205 (-1)   |   KOMPAS100 1130 (-11)   |   LQ45 888 (-8)   |   MANUFACTUR 1250 (0)   |   MBX 1590 (-13)   |   MINING 1939 (0)   |   MISC-IND 1036 (0)   |   MNC36 301 (-2)   |   PEFINDO25 297 (-3)   |   PROPERTY 351 (0)   |   SMinfra18 295 (-1)   |   SRI-KEHATI 340 (-3)   |   TRADE 872 (0)   |  

Tingkat Pengangguran Terus Turun, namun Masih Banyak Tantangan

Minggu, 10 November 2019 | 17:52 WIB
Oleh : Faisal Maliki Baskoro / FMB

Jakarta, Beritasatu.com - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) pada Agustus 2019 mencapai 5,28 persen, turun dibandingkan Agustus 2018 yang sebesar 5,34 persen. Penurunan ini juga sudah mulai terlihat sejak Agustus 2015 hingga Agustus 2019.

Peneliti Intitute For Development of Economic and Finance (INDEF), Ahmad Heri Firdaus menyampaian, jika dilihat secara makro, capaian ketenagakerjaan Indonesia pada 2019 memang terlihat mengesankan, salah satunya terlihat dari TPT yang semakin menurun. Namun Heri melihat sebenarnya masih banyak residu yang dapat mengancam keberlanjutan pembangunan.

Pertama adalah terkait struktur tenaga kerja kita berdasarkan tingkat pendidikan yang masih didominasi oleh tamatan pendidikan rendah (SMP ke bawah), di mana masih sekitar 58,7 persen dari total tenaga kerja Indonesia merupakan lulusan SMP ke bawah. Angka ini juga terlihat cukup sulit diturunkan selama 10 tahun terkahir.

"Inilah yang menyebabkan hampir 30 persen tenaga kerja sulit beranjak dari sektor pertanian ke manufaktur. Kontribusi pertanian terhadap PDB 13,45 persen, namun tenaga kerja yang terserap mencapai 29,5 persen. Artinya kue ekonomi yang relatif kecil, diperebutkan banyak tenaga kerja. Karenanya, income per kapita di sektor ini relatif kecil. Sementara manufaktur yang sudah menjadi leading sector (19,6 persen) hanya menyerap tenaga kerja 14,1 persen,” kata Ahmad Heri Firdaus di acara diskusi online INDEF, Minggu (10/11/2019).

Masalah struktur ketenagakerjaan inilah yang menurut Heri jadi salah satu sumber ketimpangan sektoral dan pendapatan. Hal lainnya yang disoroti Heri adalah terkait kesiapan tenaga kerja Indonesia dalam menghadapi era digital dan disrupsi teknologi.

“Bagaimana nanti tenaga kerja Indonesia yang masih lebih dari 58 persen ber-skill rendah karena masih lulusan SMP ke bawah menyikapi era digital dan automasi? Dari banyak survei kita sudah mengetahui bahwa automasi di satu sisi memberikan peluang, namun juga memberikan ancaman terhadap tenaga kerja,” tuturnya.

Heri juga mempertanyakan apakah Kartu Pra Kerja dan program-program ketenagakerjaan lainnya dalam lima tahun ke depan dapat membantu menjawab permasalahan struktural dan tantangan tersebut.

“Terkait dengan Kartu Pra Kerja, sekiranya pemerintah masih butuh waktu untuk menyiapkan dengan matang program ini, khususnya penguatan basis data untuk penetapan calon penerima Kartu Pra Kerja. Perlu verifikasi, uji coba, konfirmasi data, baru bisa meluas. Kartu Pra Kerja juga berpotensi kehilangan manfaat jika dilakukan tanpa basis data yang terverifikasi. Untuk lebih mematangkannya, pemerintah dapat bekerja sama dengan dunia usaha agar calon tenaga kerja yang menerima pelatihan vokasi pada akhrnya dapat terserap di perusahaan. Durasi pelatihan juga perlu lebih lama, tidak bisa hanya 1-2 bulan dengan infrastruktur seadaanya,” ujar dia.

Heri juga menegaskan perlu adanya upaya mempercepat perbaikan kualitas ketenegakerjaan. Dengan melihat keterbatasan di sisi Pemerintah, maka perlu kolaborasi dengan lembaga-lembaga pendidikan swasta (formal/informal) dan dunia usaha.

Beberapa upaya yang dapat dilakukan antara lain membangun Teaching Factory / Production Based (pembelajaran berbasis kegiatan produksi). Pelatihan yang diberikan dalam berbagai sarana menurutnya juga belum cukup. Perlu diseleraskan dengan kebutuhan tenaga kerja. Karenanya, revitalisasi Balai Latihan Kerja (BLK) harus dilakukan agar sesuai dengan kebutuhan pasar.

“Lembaga kursus juga perlu diberdayakan agar bermitra dengan BLK di seluruh daerah. Ini dilakukan untuk meningkatkan kualitas tenaga kerja pendidikan rendah. Selain itu perlu dibuka lebih banyak kesempatan untuk praktek kerja atau magang,” tutur Heri.

Ditambahkan peneliti INDEF lainnya, Riza A. Pujaram, masalah lain dari isu ketenagakerjaan di Indonesia adalah TPT untuk Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang masih paling tinggi di antara tingkat pendidikan lain, yaitu sebesar 10,42 persen.

Menurutnya, sinergi antara Kementrian Pendidikan dan Kementrian Ketenagakerjaan sangat diperlukan untuk menciptakan tenaga kerja berkualitas dan dapat beradaptasi dengan perubahan teknologi. Pembenahan kurikulum pendidikan juga harus dilakukan, terutama untuk jenjang SMK agar dapat meningkatkan kualitas pendidikan hingga memenuhi standar dengan kebutuhan industri, serta meningkatkan sinkronisasi dengan kebutuhan industri.



Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Sumber: BeritaSatu.com


BAGIKAN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA

HKTI Minta Kemtan Revisi Harga Daging Sapi

Pemerintah diminta juga harus berpihak kepada peternak agar terjadi keseimbangan harga bagi peternak sapi.

EKONOMI | 10 November 2019

Pascapisah Garuda, Sriwijaya Layani 32 Rute Penerbangan

Saat ini, jumlah pesawat Sriwijaya Air yang beroperasi sebanyak 11.

EKONOMI | 10 November 2019

Ekspansi ke RI, Wallex Rekrut Tiga Jajaran Eksekutif

Indonesia merupakan salah satu pasar strategis bagi Wallex.

EKONOMI | 10 November 2019

Gibran Perkenalkan Diri Sebagai Investor Wahyoo

Gibran mengatakan, bersama Wahyoo, dia ingin memajukan kuliner Indonesia dan menyejahterakan para pemilik warteg.

EKONOMI | 10 November 2019

12 Peserta DSC|X akan Bersaing di Final Day

Final Day DSC|X akan digelar di De Tjolomadoe, Karanganyar, Solo, pada 16-17 November 2019.

EKONOMI | 9 November 2019

Bank Sampoerna Perluas Jangkauan Tasaku

Tahun ini, Tasaku ditargetkan bisa menghimpun dana sebesar Rp 10 miliar.

EKONOMI | 9 November 2019

Kemhub Pastikan Penerbangan Sriwijaya Air Berjalan Baik dan Aman

Kemhub memastikan pelayanan Penerbangan maskapai Sriwijaya Air tetap berjalan baik dengan memenuhi aspek keselamatan dan keamanan.

EKONOMI | 9 November 2019

Gaikindo Dukung Pengembangan Biodiesel

Gaikindo menyatakan kebijakan pemerintahan Presiden Joko Widodo mendorong biodiesel dari minyak sawit, sangat tepat.

EKONOMI | 9 November 2019

Airlangga: Ekonomi Indonesia Tumbuh Berkualitas

Relatif baiknya kinerja ekonomi Indonesia juga tercermin dari berlanjutnya tren penurunan TPT.

EKONOMI | 9 November 2019

Lippo Cikarang Serah Terima 508 Unit Apartemen Glendale Park

"Glendale Park ini merupakan bagian Orange County, lokasinya sangat bagus terletak di antara kawasan industri.

EKONOMI | 9 November 2019


TAG POPULER

# Ahmad Riza Patria


# Vaksin Pfizer


# Vaksin Nusantara


# Greysia Polii


# Lion Air



TERKINI

Waspadai Hujan Petir dan Angin Kencang di Jaksel dan Jaktim

MEGAPOLITAN | 8 menit yang lalu










BeritaSatu Logo
TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Android Icon iOS Icon
Copyright © 2021 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS