Imbas Harga BBM, Inflasi Bisa ke 7% dan Suku Bunga 4,5%
Senin, 5 September 2022 | 08:49 WIB
Jakarta, Beritasatu.com– Kenaikan harga BBM bisa mengerek inflasi ke posisi 5%-7% sepanjang 2022 dan suku bunga acuan Bank Indonesia naik jadi 4,5%. Meski demikian pasar modal Indonesia masih dipenuhi optimisme kendati menghadapi tantangan turbulensi ekonomi. Pemicunya kondisi makro ekonomi nasional yang positif.
Financial Educator Manager Sucor Sekuritas Hendry Wijaya menjelaskan inflasi Indonesia saat ini di level 4,69% dengan inflasi inti 3,04%. Adapun target inflasi Bank Indonesia (BI) tahun ini 3% plus minus 1% sehingga maksimal inflasi inti 4% dan masih dalam batas pengamatan BI.
Baca Juga: Harga BBM Naik, Suku Bunga BI Diprediksi Melonjak 4,75%
"Inflasi inti bisa terkerek kenaikan harga BBM, saya memperkirakan kemungkinan inflasi di tahun 2022 dapat naik dalam kisaran 5%-7%," kata Hendry dalam acara Investment Talk bertema "Opportunities Amid Turbulence" yang diselenggarakan D'ORIGIN Financial & Business Advisory dan IGICO Advisory, Minggu (4/9/2022).
Ia mengatakan, suku bunga acuan berpotensi naik hingga 100 basis poin (bps) atau 1% dari 3,5% menjadi 4,5% tahun ini. Adapun saat ini baru di level 3,75% atau sudah naik 25 bps beberapa waktu lalu. Hal itu berimbas pada Indonesia government bond yield yang menguat.
"Kenaikan bunga akan direspons naik yield obligasi, kalau obligasi naik maka bond spread yield kita di AS dan Indonesia akan melebar. Maka akan mengundang investor asing masuk ke Indonesia, capital inflow, dan rupiah mestinya lebih stabil," ujarnya.
Menurut Hendry, pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal II 2022 naik 5,44%. Dia membandingkan kenaikan itu dengan negara lain, seperti Amerika Serikat (AS) yang terkoreksi 0,6%, Euro Area hanya naik 0,6%, Tiongkok naik 0,4%, Jepang naik 2,2%, Singapura terkoreksi -0,2%, dan Brasil naik 1,2%.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia, lanjutnya, cukup kuat untuk dapat meredam dampak kenaikan dari suku bunga. Di sisi lain neraca perdagangan nasional pun dalam kurun 29 bulan beruntun selalu surplus semenjak harga komoditas andalan Indonesia kembali melesat.
Hal ini dinilai akan menopang ekonomi Indonesia karena komoditas yang diekspor dari harganya jauh lebih tinggi dibandingkan dengan komoditas yang diimpor sehingga term of trade menguntungkan Indonesia.
Menurut Hendry, saat ini 30% market cap IHSG ditopang sektor banking atau financial. Loan growth industri perbankan pun tumbuh pesat 10,71%. Menurutnya, seandainya inflasi naik 5%-7% tahun ini dan pertumbuhan ekonomi mencapai 5%, berarti nominal produk domestik bruto (PDB) Indonesia tumbuh di kisaran 10%-12%.
Sementara Head of Equity Berdikari Manajemen Investasi Agung Ramadoni memperkirakan produk domestik bruto (PDB) Indonesia cukup stabil di atas 5%. Stabilitas itu berdasarkan pada beberapa faktor, di antaranya fund manager berada dalam posisi memiliki dana tunai besar, pasar ekuitas tidak bereaksi negatif terhadap kontraksi PDB Amerika Serikat dalam dua bulan berturut-turut, dan ketersediaan dana tunai di pasar domestik masih tinggi.
Baca Juga: Harga BBM Naik, Tarif Blue Bird Akan Ikut Naik
"Berdasarkan data-data penjualan di pasar domestik seperti di antaranya data angka penjualan mobil yang sudah kembali ke level sebelum pandemi, data penjualan retailers yang terus membaik dalam beberapa bulan terakhir, data penjualan semen domestik yang masih sedikit positif jika dibandingkan dengan tahun lalu, dan terakhir data penjualan dari sektor properti yang juga mulai kembali ke level normal seperti sebelum pandemi. Mengindikasikan bahwa perekonomian Indonesia yang cukup kuat dan masih dalam jalur yang benar dalam fase recovery setelah pandemi," kata Agung.
Chief Analyst Sahamology Muhammad Hamzah mengatakan, kondisi ekonomi Indonesia saat ini akan mendorong IHSG lebih positif. IHSG butuh break di level 7.258.
"Kesimpulan menurut pendapat pribadi saya level 7.258 harusnya dapat di-break pertengahan bulan ini, atau bahkan pekan ini. Karena di sini ada satu fibonacci time zone yang sudah mendekati," ujarnya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Politik-Hukum Terkini: Polemik Film hingga Judi Online
PM China Li Qiang Temui Sederet CEO AS, Siapa Saja?
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Politik-Hukum Terkini: Polemik Film hingga Judi Online




