ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Trump Desak G7 Naikkan Tekanan ke Rusia

Sabtu, 13 September 2025 | 15:28 WIB
HH
HH
Penulis: Harumbi Prastya Hidayahningrum | Editor: HP
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mendesak G7 menekan Rusia atas konflik dengan Ukraina.
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mendesak G7 menekan Rusia atas konflik dengan Ukraina. (AP Photo/AP)

Washington, Beritasatu.com - Amerika Serikat mendesak negara-negara anggota Kelompok Tujuh (G7) untuk meningkatkan tekanan terhadap Rusia agar segera mengakhiri perang di Ukraina.

Dorongan itu mencakup usulan agar G7 mengenakan tarif lebih tinggi kepada China dan India, dua negara yang masih aktif membeli minyak dari Rusia.

Desakan tersebut disampaikan dalam pertemuan daring para menteri keuangan G7 yang melibatkan Inggris, Jerman, dan Jepang, Jumat (12/9/2025). Menurut Departemen Keuangan AS, langkah ini dianggap penting untuk menekan sumber pendapatan yang menopang mesin perang Presiden Rusia Vladimir Putin.

ADVERTISEMENT

“Hanya dengan upaya bersama memutus sumber pendapatan Rusia, kita bisa memberi tekanan ekonomi yang cukup untuk menghentikan pembunuhan tak masuk akal ini,” ujar Menteri Keuangan AS Scott Bessent dalam pernyataan bersama Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer.

Desakan Washington muncul setelah Presiden AS Donald Trump menunjukkan rasa frustrasi terhadap Putin. Dalam wawancara dengan Fox News, Trump mengaku kesabarannya terhadap Putin “hampir habis” karena tidak ada tanda-tanda keseriusan dalam menanggapi tawaran damai dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky.

Trump sebelumnya memberi batas waktu hingga awal September 2025 bagi Putin untuk merespons proposal 
damai tersebut, tetapi tidak ada perkembangan berarti.

Setelah pertemuan, Menteri Keuangan Jepang Katsunobu Kato menegaskan G7 tetap berkomitmen pada koordinasi dalam mendukung perdamaian di Ukraina. Namun, ia enggan menanggapi usulan tarif tambahan dari AS.

Seorang pejabat AS menyebut Bessent secara khusus mendorong Jepang dan anggota G7 lain agar mengikuti langkah Washington dalam menaikkan tarif pada China dan India. Financial Times melaporkan, AS mengusulkan kenaikan tarif antara 50% hingga 100%.

Pada Agustus 2025, Trump bahkan telah menggandakan tarif impor dari China dan India sebagai bentuk sanksi tambahan. Namun, Jepang dan Uni Eropa dinilai masih berhati-hati karena hubungan ekonomi mereka yang erat dengan Beijing dan New Delhi, serta risiko mendapat aksi balasan.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

Mengenal Kevin Warsh, Ketua Baru The Fed Pilihan Donald Trump

Mengenal Kevin Warsh, Ketua Baru The Fed Pilihan Donald Trump

EKONOMI
Xi Jinping kepada Trump: Bisakah China-AS Hindari Jebakan Thucydides?

Xi Jinping kepada Trump: Bisakah China-AS Hindari Jebakan Thucydides?

INTERNASIONAL
Xi Jinping Tegur Trump Soal Ancaman Konflik karena Isu Taiwan

Xi Jinping Tegur Trump Soal Ancaman Konflik karena Isu Taiwan

INTERNASIONAL
Sesi Pertama Pertemuan Trump dan Xi Jinping Berakhir Tanpa Bahas Iran

Sesi Pertama Pertemuan Trump dan Xi Jinping Berakhir Tanpa Bahas Iran

INTERNASIONAL
Unggah Peta Venezuela, Trump Masih Ambisius Kuasai Caracas?

Unggah Peta Venezuela, Trump Masih Ambisius Kuasai Caracas?

INTERNASIONAL
Bertemu Trump, Xi Jinping: China-AS Harus Jadi Mitra Bukan Bersaing

Bertemu Trump, Xi Jinping: China-AS Harus Jadi Mitra Bukan Bersaing

INTERNASIONAL

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon