Kebaya Menari Meriahkan Peringatan 75 Tahun Indonesia–Takhta Suci
Senin, 27 Oktober 2025 | 17:44 WIB
Roma, Beritasatu.com – Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) untuk Takhta Suci di Roma menyelenggarakan pentas budaya bekerja sama dengan Komunitas Kebaya Menari, Sabtu (24/10/2025). Acara ini merupakan rangkaian peringatan 75 tahun hubungan diplomatik antara Republik Indonesia dan Takhta Suci Vatikan.
Menteri Agama Nasaruddin Umar, yang hadir dalam pentas budaya tersebut, mengatakan penampilan Komunitas Kebaya Menari mencerminkan semangat kemanusiaan, keragaman budaya, dan toleransi antarumat beragama Indonesia. “Ini merupakan pengejawantahan dari motto bangsa Indonesia, Bhinneka Tunggal Ika,” ujar Nasaruddin Umar.
Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh (LBBP) RI untuk Takhta Suci, Michael Trias Kuncahyono, turut mengapresiasi Komunitas Kebaya Menari yang disebut sebagai komunitas perempuan lintas agama (interfaith). Menurutnya, kebaya adalah simbol identitas kultural Indonesia yang kuat dan memiliki nilai historis serta filosofi kehidupan.
Acara ini dihadiri sejumlah duta besar negara sahabat, pejabat Vatikan, diplomat, diaspora Indonesia, serta anggota IRRIKA atau Ikatan Rohaniwan-Rohaniwati Indonesia di Kota Abadi. Para tamu disuguhkan berbagai tarian tradisional dari Bali, Jawa, dan Sumatera, serta peragaan busana kebaya. Beragam kuliner khas Indonesia seperti rawon, mi goreng, tempe goreng, dan martabak turut memeriahkan acara.
Peringatan hubungan diplomatik ini sebelumnya diawali dengan misa syukur di Basilika Santo Petrus, Vatikan, yang dipimpin Sekretaris Negara Takhta Suci Kardinal Pietro Parolin. Selain itu, sebanyak 200 warga Indonesia di Roma juga mendapat kesempatan audiensi khusus dengan Paus Leo XIV di Aula Klementina, Istana Kepausan.

Puncak peringatan masih akan berlangsung hingga akhir tahun dengan peluncuran prangko edisi khusus Indonesia–Vatikan dan pentas seni angklung.
Komunitas Kebaya Menari yang dipimpin Yanti Muljono merupakan kelompok pegiat budaya yang bertujuan mempopulerkan kebaya sebagai identitas nasional. Mereka menggunakan tarian sebagai media edukasi agar masyarakat, khususnya generasi muda, mencintai dan mengenakan kebaya tidak hanya pada acara formal, tetapi juga dalam kegiatan sehari-hari.
Kebaya dimaknai sebagai simbol kesederhanaan, keanggunan, dan penghormatan terhadap budaya. Pemerintah menetapkan 24 Juli sebagai Hari Kebaya Nasional untuk memperkuat pelestarian warisan budaya ini.
Tarian yang ditampilkan dalam acara ini antara lain Tari Legong Bapang Durga dari Bali sebagai representasi Hindu, Tari Bedhaya Ura-ura dari Jawa yang menggambarkan tradisi Katolik, dan Tari Zatin dari Sumatera sebagai representasi Islam. Melalui perpaduan ini, KBRI Takhta Suci menampilkan wajah Indonesia sebagai bangsa yang multikultural, berlandaskan persatuan dan harmoni antarumat beragama.
Dengan menggandeng Komunitas Kebaya Menari, KBRI Takhta Suci menegaskan komitmen Indonesia untuk terus mengedepankan diplomasi budaya sebagai sarana mempererat hubungan internasional dan memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia kepada dunia.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Festival Mudik Dongkrak Wisatawan ke Wonosobo
Pidato Trump Picu Lonjakan Minyak Dunia
B-FILES
Harga yang Tak Terlihat, Masa Depan yang Terancam
Rio Abdurachman P
Hari Fitri Benahi Diri: Ujian Integritas di Tengah Bayang Korupsi
Muhammad Ishar Helmi
Man City vs Liverpool, Mengapa Guardiola Tak Ada di Pinggir Lapangan?




