Profil Mojtaba Khamenei Calon Pemimpin Tertinggi Iran
Rabu, 4 Maret 2026 | 09:53 WIB
Teheran, Beritasatu.com - Mojtaba Khamenei disebut-sebut sebagai kandidat terdepan untuk menggantikan ayahnya, Ali Khamenei, sebagai pemimpin tertinggi Iran. Nama Mojtaba mencuat dalam pembahasan suksesi setelah laporan serangan terhadap kompleks kediaman Ali Khamenei di Teheran pada Sabtu (28/2/2026) lalu.
Mojtaba Khamenei kini berusia 56 tahun dan merupakan putra kedua Ali Khamenei. Ia lahir pada 1969 di Mashhad, salah satu pusat keagamaan penting di Iran, sekitar satu dekade sebelum berdirinya Republik Islam Iran pada 1979.
Mojtaba dikenal memiliki hubungan dekat dengan Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC). Ia bergabung dengan korps militer tersebut sekitar 1987 setelah lulus sekolah menengah dan sempat bertugas pada fase akhir perang Iran–Irak yang berlangsung pada 1980 hingga 1988.
Setahun setelah perang berakhir, Ali Khamenei diangkat menjadi pemimpin tertinggi Iran menggantikan Ruhollah Khomeini yang wafat.
Mojtaba kemudian melanjutkan pendidikan agama di kota Qom. Di sana ia belajar kepada sejumlah ulama terkemuka dan sempat mengajar di seminari, sekaligus membangun jaringan kuat di kalangan elite keagamaan Iran.
Meski memiliki pengaruh dalam lingkaran kekuasaan, Mojtaba bukan figur publik yang menonjol. Ia lebih dikenal beroperasi di balik layar dan disebut mengelola berbagai aktivitas di kantor pemimpin tertinggi Iran.
Namanya sempat mencuat pada 2005 ketika kandidat konservatif Mahmoud Ahmadinejad terpilih sebagai presiden Iran. Sejumlah tokoh reformis menuduh Mojtaba berperan dalam mengamankan kemenangan Ahmadinejad pada pemilihan tersebut.
Salah satu pesaing Ahmadinejad dari kubu reformis, Mehdi Karroubi, kala itu mengkritik dugaan campur tangan putra seorang guru besar dalam proses pemilu.
Ali Khamenei kemudian membela putranya dengan menyatakan bahwa Mojtaba merupakan seorang guru besar, bukan sekadar putra guru besar.
Pada 2024, Majelis Ahli Iran sempat menggelar pertemuan untuk membahas kemungkinan suksesi kepemimpinan tertinggi negara tersebut. Dalam pertemuan itu, Ali Khamenei disebut menyatakan agar putranya tidak dipertimbangkan sebagai penerus.
Penunjukan Mojtaba berpotensi memicu kontroversi di dalam negeri. Revolusi Islam Iran pada 1979 menggulingkan monarki Mohammad Reza Pahlavi dan mengakhiri tradisi pewarisan kekuasaan secara dinasti.
Karena itu, pengangkatan figur dari lingkaran keluarga pemimpin tertinggi berpotensi memicu penolakan, terutama di tengah gelombang protes ekonomi yang berkembang menjadi kritik terhadap pemerintahan Iran.
Sejumlah analis menilai jika Mojtaba akhirnya dipilih, hal tersebut menunjukkan bahwa faksi garis keras yang memiliki kedekatan dengan IRGC masih memegang kendali dalam struktur kekuasaan Iran, dengan kemungkinan kecil perubahan kebijakan dalam waktu dekat.
Pemerintah Iran juga menyatakan bahwa istri Mojtaba, Zahra Adel, ibunya Mansoureh Khojasteh Bagherzadeh, serta seorang putranya turut tewas bersama Ali Khamenei dalam serangan tersebut.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
B-FILES
Harga yang Tak Terlihat, Masa Depan yang Terancam
Rio Abdurachman P
Hari Fitri Benahi Diri: Ujian Integritas di Tengah Bayang Korupsi
Muhammad Ishar Helmi
Man City vs Liverpool, Mengapa Guardiola Tak Ada di Pinggir Lapangan?




