AS Selidiki Serangan ke Sekolah Iran yang Tewaskan 175 Orang
Kamis, 5 Maret 2026 | 13:36 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Pejabat tinggi pemerintahan Presiden Donald Trump pada Rabu (4/3/2026) waktu setempat menyatakan masih menyelidiki insiden serangan udara yang menghantam sebuah sekolah dasar putri di Iran pada hari pertama pecahnya perang.
Melansir New York Times, Kamis (5/3/2026), serangan tersebut menjadi salah satu yang paling mematikan dalam operasi militer gabungan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran. Media pemerintah Iran serta pejabat kesehatan setempat melaporkan sedikitnya 175 orang tewas, sebagian besar diduga anak-anak.
Hingga kini belum diketahui secara pasti mengapa sekolah tersebut menjadi sasaran serangan, maupun pihak mana yang bertanggung jawab atas serangan tersebut.
Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt mengatakan pemerintah masih mengkaji insiden tersebut ketika ditanya dalam konferensi pers pada Rabu sore.
“Sejauh yang kami ketahui, tidak," kata Leavitt ketika ditanya apakah Amerika Serikat melakukan serangan udara terhadap sekolah tersebut.
“Departemen Perang sedang menyelidiki masalah ini,” tambahnya.
Saat kembali ditanya apakah terdapat bukti yang menunjukkan serangan tersebut bukan dilakukan oleh AS atau kemungkinan keterlibatan Israel, Leavitt kembali menegaskan bahwa penyelidikan masih berlangsung.
“Sekali lagi, War Department saat ini sedang menyelidiki masalah ini,” ujarnya.
Hal serupa juga disampaikan Menteri Pertahanan Pete Hegseth saat konferensi pers di Pentagon pada hari yang sama.
“Yang bisa saya katakan hanyalah kami sedang menyelidiki hal itu,” kata Hegseth.
“Tentu saja kami tidak pernah menargetkan sasaran sipil, tetapi kami sedang memeriksanya dan menyelidikinya,” ucap dia.
Serangan terhadap sekolah tersebut terjadi pada Sabtu (28/2/2026), hari pertama perang pecah. Meski beberapa hari telah berlalu, pemerintah AS menyatakan penyelidikan masih berlangsung untuk memastikan pihak yang bertanggung jawab.
Sekolah yang menjadi lokasi serangan bernama Shajarah Tayyebeh, yang berada di kota kecil Minab, di wilayah selatan Iran.
Beberapa hari setelah insiden tersebut, ribuan warga menghadiri prosesi pemakaman korban. Rekaman video menunjukkan deretan makam baru digali di sebuah pemakaman sekitar lima mil dari lokasi sekolah.
United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) mengecam insiden tersebut dan menyebutnya sebagai pelanggaran serius terhadap hukum humaniter internasional.
Dalam pernyataannya, UNESCO menyebut pembunuhan para murid di sekolah tersebut merupakan pelanggaran berat terhadap perlindungan yang diberikan kepada sekolah berdasarkan hukum humaniter internasional.
Sementara itu, Leavitt menegaskan bahwa militer AS tidak menargetkan warga sipil.
“Amerika Serikat tidak menargetkan warga sipil, tidak seperti rezim Iran yang jahat yang menargetkan warga sipil dan membunuh anak-anak,” ucap dia.
Ia juga menuding pemerintah Iran menggunakan propaganda untuk memengaruhi opini publik.
“Rezim Iran menggunakan propaganda dengan cukup efektif,” pungkas Leavitt.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Festival Mudik Dongkrak Wisatawan ke Wonosobo
Pidato Trump Picu Lonjakan Minyak Dunia
3
B-FILES
Harga yang Tak Terlihat, Masa Depan yang Terancam
Rio Abdurachman P
Hari Fitri Benahi Diri: Ujian Integritas di Tengah Bayang Korupsi
Muhammad Ishar Helmi
Prabowo Beri Pelukan Hangat untuk Keluarga TNI yang Gugur di Lebanon




