Iran Blokade Selat Hormuz, Hanya Kapal China dan Rusia yang Diizinkan
Senin, 9 Maret 2026 | 13:26 WIB
Teheran, Beritasatu.com — Pemerintah Iran mengumumkan blokade total Selat Hormuz bagi lalu lintas maritim internasional. Dalam kebijakan tersebut, hanya kapal dari China dan Rusia yang diperbolehkan melintas di jalur pelayaran strategis tersebut.
Dikutip dari republicworld.com, Senin (9/3/2026), langkah ini diumumkan pemerintah Iran melalui media resmi. Teheran menyebut kebijakan tersebut sebagai langkah strategis sekaligus bentuk apresiasi terhadap dukungan diplomatik dan ekonomi dari Beijing dan Moskwa selama konflik dengan Amerika Serikat dan Israel.
Pemerintah Iran menilai sikap China dan Rusia yang tetap mendukung Iran di berbagai forum internasional serta tidak ikut dalam sanksi Barat menjadi alasan utama pemberian akses khusus tersebut.
Dengan kebijakan baru ini, Selat Hormuz yang merupakan jalur penting perdagangan energi dunia secara efektif tertutup bagi sebagian besar armada internasional.
Otoritas Iran menegaskan hanya kapal berbendera China dan Rusia yang diizinkan melintasi selat tersebut. Kapal dari negara lain, termasuk kapal tanker minyak, pengangkut gas alam cair (LNG), serta kapal kargo, tidak diperbolehkan melintas.
Unit angkatan laut Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) bahkan diberi kewenangan untuk mengambil tindakan terhadap kapal yang mencoba melewati perairan tersebut tanpa izin.
“Pasukan kami diberi wewenang untuk menargetkan dan menghentikan setiap kapal yang melanggar aturan tersebut,” demikian pernyataan pejabat Iran.
Selat Hormuz selama ini dikenal sebagai jalur pelayaran paling vital bagi distribusi energi global. Sekitar 20 persen pasokan minyak dunia dan sebagian besar pengiriman gas alam cair melewati jalur sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman tersebut.
Para analis pasar energi memperingatkan, kebijakan blokade selektif ini berpotensi memicu gejolak besar di pasar energi global. Jika berlangsung lama, kondisi tersebut dapat menyebabkan lonjakan harga minyak dan gas di berbagai negara.
Di sisi lain, keputusan Iran juga menempatkan China dan Rusia dalam posisi yang cukup rumit. Kedua negara kini menjadi pihak yang memperoleh akses eksklusif, sekaligus berpotensi memainkan peran sebagai mediator dalam konflik yang sedang berlangsung.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
PSEL di Makassar Dipercepat untuk Atasi Praktik Open Dumping
Iran: Radiasi Nuklir Bisa Hancurkan Negara Teluk
3
B-FILES
Harga yang Tak Terlihat, Masa Depan yang Terancam
Rio Abdurachman P
Hari Fitri Benahi Diri: Ujian Integritas di Tengah Bayang Korupsi
Muhammad Ishar Helmi
Susunan Pemain Mallorca vs Madrid, Duo Mbappe-Brahim Diaz Jadi Tumpuan




