Jakarta Fashion Week 2014
Motif Parang Nuansa Santai Karya Edward Hutabarat
Senin, 21 Oktober 2013 | 14:35 WIB
Jakarta - Desainer yang sudah 32 tahun berkarya dan berakar pada kekayaan budaya Indonesia, Edward Hutabarat, memilih panggung Jakarta Fashion Week (JFW) 2014 untuk menampilkan peragaan tahunannya. Siang ini, Edo -demikian ia akrab disapa- menampilkan koleksi bertajuk "The Parang" di bawah label keduanya, Part One Edward Hutabarat.
"Dalam berkarya, saya mengalir saja. Saat meneliti parang, saya sekaligus menyiapkan koleksi. Seiring perjalanan, ada motif lain yang ikut masuk, seperti motif dari Cirebon, Pekalongan, Solo, dan area pesisir lain," jelas Edo dalam konferensi pers di tenda Jakarta Fashion Week, Senin (21/10).
Dijelaskan Edo, dalam menyusun kreasinya kali ini, ia merasa seperti menyajikan jamuan makan malam. Semua saling terkait.
"Motif parang sebagai pembuka, lalu untuk merangsang nafsu makan, hadir motif pesisir, seperti Cirebon. Sementara untuk main course-nya motif parang lagi. Motif-motif batik pesisir, seperti mega mendung dan flora fauna akan ada di antara motif parang, selain juga aksen garis-garis serta polkadot," jelasnya.
Menurut Edo, yang membuat motif parang istimewa adalah karena motif ini masuk ranah kekuasaan di Yogyakarta dan Solo. Ketika Raja pakai motif parang barong, tak ada yang boleh pakai motif itu.
"Sekarang pun orang segan memakai motif parang barong. Namun, bagi saya, untuk dibuat dalam dunia fashion, motif yang utamanya dibuat khusus untuk ritual, sah saja digunakan," jelasnya.
Dalam benak Edo, yang ingin ia siarkan kepada banyak orang lewat kreasi-kreasinya adalah proses dalam membatik yang rumit, dan mengajak orang untuk kembali berpegang pada akar budaya bangsa.
"Modern itu adalah mindset yang kembali ke akar. Bukan dengan gaya-gaya berlebihan yang terkesan norak. Saya ingin dunia melihat Indonesia dalam tiga hal, yakni simplicity, quality, and identity. Ketiga hal itu yang menjadi kunci untuk melawan dunia barat. Supaya Indonesia bisa maju dan terlihat dunia luar," jelas Edo.
Untuk desain koleksinya, Edo menggunakan garis rancang sederhana dan bergaya resort. Menurutnya, hal ini penting, karena pembuatan batik harus melewati proses yang sulit.
"Maka, utamakan hal itu. Jangan dipersulit dengan bahan berat dan aksesori berlebihan. Biar orang di dunia mengingat Indonesia sebagai negara yang bernuansa summer. Maka, kita tawarkan koleksi yang ringan," ungkapnya.
Di peragaan terlihat koleksi Edo dalam bentuk mini dress tanpa lengan, two pieces, ape tanpa lengan, bolero, celana pendek, romper, jaket, dan sebagainya. Sesuai janji, memang tak banyak detail yang ditawarkan Edo dalam rancangannya.
Kebanyakan berupa kancing besar, teknik kerut, dan penggunaan pola bentuk A pada dress dan rok. Tentu tak lupa, aksen garis di bagian pingiran bahan, ciri khas Edward Hutabarat.
Bahan yang digunakan Edo dalam 82 koleksi ini mayoritas katun, ATBM, dan sifon. Di beberapa koleksi awak yang ditunjukkan, Edo menggunakan warna-warna yang awam dilihat pada kain batik parang, yakni warna cokelat muda dan cokelat tua. Lalu berlanjut pada koleksi bercampur warna-warni, seperti hijau, merah, dan sebagainya untuk kesan santai.
Paruh lain peragaan, Edo menampilkan beberapa kreasi batik dari teknik pewarnaan indigo (percampuran biru dan putih), serta hitam-putih yang meneriakkan keeleganan. Paruh akhir peragaan, koleksi yang dipamerkan bernuansa semi formal dengan desain dress dan jubah panjang dari batik, dengan warna-warna dasar dan motif yang gelap.
Melengkapi nuansa resort dan santai, Edo bekerja sama dengan Optik Melawai melakukan padu padan koleksi santainya dengan kacamata hitam.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
Festival Mudik Dongkrak Wisatawan ke Wonosobo
Pidato Trump Picu Lonjakan Minyak Dunia
B-FILES
Harga yang Tak Terlihat, Masa Depan yang Terancam
Rio Abdurachman P
Hari Fitri Benahi Diri: Ujian Integritas di Tengah Bayang Korupsi
Muhammad Ishar Helmi
Man City vs Liverpool, Mengapa Guardiola Tak Ada di Pinggir Lapangan?




